Selasa, 04 Juli 2017

nasehat pernikahan

Malam ini saya diminta ceramah pernikahan di sebuah pulau yang terlalu sering mengundang saya baik untuk acara walimah pernikahan atau lainnya. Ayat dan hadits pernikahan sudah sering di sampaikan. Kisah pernikahan para Nabi san Rasulpun sudah sering diutarakan. Lalu, materi apa yang akan saya sampaikan malam ini?

Menjadi penceramah itu tak semudah menjadi penyanyi. Lagu apapun diulang-ulang tetap menarik. Bahkan bisa menjadi lagu nostalgia yang tak lekang zaman. Dikenallah kata golden memories, everlasting songs dan sejenisnya. Ini tidak berlaku pada ceramah. Diulang dua kali saja, jamaahnya berkata: "Hmmm, sama dengan kemaren, putar kaset."

Berikut sebagian materi yang akan saya sampaikan nanti di masyarakat tradisional itu. Masyarakat modern mungkin ada yang tak setuju karena takut dibilang anti gender atau anti kesejajaran laki perempuan. Tapi beginilah dawuh para beliau yang saya baca. Boleh dikritik dan dikomentari, tapi akan sangat bermanfaat jika dibaca dan direnungkan dalam-dalam.

المرأة ظلّ الرجل عليها أن تتبعه، لا أن تقوده.

غيرة الزوج تجاه زوجته إيثار، وغيرة الزوجة تجاه زوجها استئثار.

في العلاقات الزوجية، كل المشاكل قابلة للحلّ بسهولة، بشرط أن ينظر الزوجان إلى المشاكل على أنّها قضية أخذ وعطاء، لا قضية انتصار وهزيمة.

البيت الذي تمارس فيه الدجاجة عمل الديك يصير إلى الخراب.

Perempuan itu adalah bayangan lelaki. Wanita harus mengikutinya, bukan memimpinnya.

Cemburunya suami pada isterinya adalah altruisme (perhatian). Sementara cemburunya istri pada suami adalah monopoli.

Dalam hubungan suami isteri, semua masalah sesungguhnya bisa diselesaikan dengan mudah, dengan syarat suami isteri itu melihat masalah tersebut atas nama untuk manerima dan memberi, bukan atas nama untuk menang dan kalah.

Rumah tangga yang di dalamnya ayam betina bertindak sebagai ayam jago, pastilah bergerak menuju kehancuran
Salam, AIM

Referensi Kehidupan

copyright Ahmad Imam Mawardi
Telah banyak orang mendefinisikan hidup dan kehidupan. Semuanya bergantung dari sisi mana mereka mendefinisikan. Hidup dan kehidupan tak hanya satu sisi, tak hanya satu cerita, tak hanya satu pemain dan tak hanya satu tafsir. Membaca kisah-kisah kehidupan dengan niat belajar lebih baik adalah salah satu bentuk menjadikan diri sebagai murid kehidupan, status yang sangat mencerdaskan dan mengantarkan kita pada acara wisuda kehidupan.

Salah satu risalah wajib yang harus dibaca oleh para murid kehidupan adalah risalah tentang ujian kehidupan yang pasti menjadi sahabat karib semua manusia. Bukan kita yang memilih jenis ujian hidup, melainkan Allah yang tahu betul kualitas pengetahuan kehidupan kita. Kalau begitu, sesungguhnya kitavharus berbangga dengan lebih rumitnya ujian hidup. Bisa jadi itu tanda kelas kita sudah lumayan tinggi. Adakah di antara kita yang ridla dan siap menjalani ujian kehidupan yang sulit dan rumit? Sepertinya kebanyakan kita adalah anak TK yang maunya hanya dimanja dan dipuji, diajak menyanyi dan menari.

Bacalah risalah kehidupan orang-orang besar. Adakah yang sepi dari ujian dan cobaan? Kalau kita tertimba musibah sakit, dulu sudah ada Nabi Ayyub yang sakit parah. Kalau kita difitnah, dicaci dan dimusuhi, dulu ada Nabi Muhammad yang kisahnya seperti itu. Kalau orang tua kita tak taat beragama, dulu  bapaknya Nabi Ibrahim malah lebih parah lagi. Kalau anak kita nakal dan tak berbakti, dulu ada Nabi Nuh yang kisahnya seperti itu. Kalau suami kita tak suka menyembah Allah, dulu ada Fir'aun suami Asiah yang justru minta disembah. Kalau isteri kita tak menyenangkan kita, dulu ada isteri Nabi Luth yang sukanya gossip dan membuka aib suami.

Ribuan contoh bisa dipaparkan, jutaan kisah bisa disampaikan, semua merujuk pada satu kesimpulan bahwa hidup ini penuh dengan aneka ujian. Lalu apa yang bisa kita perbuat? Jalani saja semuanya dengan tetap penuh keyakinan bahwa hidup memang penuh ujian dan pada akhirnya kita akan dimintai pertanggungjawaban atas jawaban-jawaban kita. Salam, AIM

pasif income

copyright Michelle Jonny

Sewaktu muda, muda sekali, masih ABG, mamaku si Buk Lisa, terjaring bisnis MLM teranyar saat itu. Ga usah sebut merek, yg pasti, tiap hariiii~ di mobil kami, selalu diputer kaset motivasi dari suksesor2 MLM tersebut.

Yang paling bikin aku kagum, dan gak pernah bosen denger, adalah Kaset Ranti Angkasa, saat itu masih istrinya Robert Angkasa.
Beliau mampu menjelaskan bla bla bla reaksi kimia protein dan mata rantainya. Gak kalah sama Bu Dokter Tan Shot Yen pokoknya.
Dan lagi, Bu Ranti Angkasa cantik dan sangat muda. Bahasanya, entah kenapa aku yg masih ABG ngerti. Walau si Mami kagak ngerti. 😂😂😂😂 - tapi dia yg beli kaset motivasi -😂😂😂😂

Dari semua kasetnya, yg menjadi motivasiku bertahun tahun adalah, "Saya melihat suami dan kedua anak saya tertidur pulas. Kami bahagia tanpa mesti dibingungkan oleh beban keuangan. Waktu yg kami miliki sangat berkualitas. Saya sangat bersyukur. Dimana teman2 saya lainnya, masih bergumul dengan bisnis konvensional dan runyamnya jaminan hari tua. Inilah bisnis yang sesungguhnya, bla bla bla...," katanya.

Berbekal cashflow quadrant Robert T Kiyosaki, MLM selalu dan selalu mengiming2i followersnya PASSIVE INCOME. Alias, UANG MENGEJAR ANDA.
Mari kita bersama2 memutar mata ke atas dan bertanya, 'masa iya?'
Sedangkan bila bawahan ga belanja, income kita dari mana? Dari Hongkong? 😂

Namun tetap, kata2 Ranti Angkasa masuk ke dalam mindsetku dan semua ibu2 pasti setuju, bisa leyeh2 bersama anak dan suami tanpa harus bekerja keras sementara rekening selalu penuh adalah IMPIAN semua keluarga. Kata2 Ranti, seolah menggiringku pada 'gambaran keluarga ideal'
Oooo... jadi kalau bisa santai dan banyak uang itu = bahagia ya?

Sayangnya, Ibu Ranti dan Pak Robert Angkasa, sepasang Crown Ambassador beromset milyaran rupiah per bulan, yang didewa dewakan followersnya, bercerai.
Menyusul kemudian, Bapak Louis Tendean, pentolan di grup MLM singa terbang, bercerai juga.

Jadi, aku yang baru bercerai saat itu pun berpikir, 'ini lagi musim cerai atau gimana?' 😂😂😂
Ndak.. Yang serius aku mikir, "Sepasang suami istri sevisi dan semisi, seperjuangan, dan SEKALIBER mereka, koq bisa cerai? Jangan2 malah teman2 mereka yg bisnis konvensional malah akur akur aja sekeluarga?"

Akhirnya, setelah aku menyelami satu per satu kasus pernikahan yg berbeda, kadang memang ada beberapa orang yg tidak ditakdirkan utk bersama.
Yang satu baru buka mulut, yg satunya uda nyamber kayak senapan mesin.
Yang satu baru ngelirik, yg satu uda melotot.
Yang satu suka menyepi, yg satu suka dugem.

Beda karakter, beda pola pikir, beda kualitas batin, terutama beda kepentingan berumahtangga.
Ada yang menikah karena harus bertanggung jawab pada kehamilan.
Ada yang menikah karena usia udah tua.
Ada yang menikah karena bisnis.
Dan ada yg menikah krn keinginan pihak ketiga (ortu, kakek, nenek, tetangga, dll)

Sehari harinya, yang dibahas pada pasangan telah menikah, kebanyakan sesuatu yg ga ada hubungan dg uang. Biasanya tentang pengertian, toleransi, dan impian.
Sehingga, sejak bersama KoJonny, uang sudah ngga menjadi targetku dalam berumahtangga.

Kami merasa, di dunia yg besar ini, kami bahkan sekecil debu.
Kami tidak merasa mesti bersinar di antara yg lain atau memanggul beban 'menuju puncak' pentas kehidupan.

Sering aku bertanya kepada KoJonny, "Cita2mu apa?"
Jawabnya, "Asal kita sekeluarga hidup layak dan hidup kita gak sia2..."

Hidup layak, maksudnya simpel; gak ada hutang, rumah gak bocor, ada kendaraan, dan persiapan masa tua.
Kami tahu kapan harus bekerja, dan tidak mengejar target.
Tidak ada pembanding.

Ide yang terbersit, bila itu bermanfaat, kami coba,
Setelah kami coba dan berhasil sedikit, kami kembangkan.
Atas semua karyawan, prinsip utama: sejahterakan hidupnya.
Tidak ada target bisnis, tapi kami lakukan yang terbaik.
Hasilnya gimana pun, syukuri saja.

Saat digit tabungan kami sudah bertambah, kami melihat, siapa lagi yang bisa dibantu dengan nilai2 di buku rekening ini?
Dan saat hati kami sudah lega, kami berhenti bekerja, kami menyepi-menutup buku, atau merencanakan perjalanan keluar negeri.
Menutup mata kami pada kesalahan kecil2 yg terjadi di perusahaan, dan membuka hati kami untuk menerima para karyawan sebagai manusia dan memperbaikinya bersama.

Ide mengenai passive income yg sudah terpatri belasan tahun itu, sudah rusak di bawah sadarku.
Untuk menjadi sukses, aku tidak membaca cerita2 atau mendengar kiat2 usaha.
Sukses untuk setiap orang itu beda ceritanya.
Tidak mungkin aku percaya buah mangga itu manis sebelum aku mencobanya sendiri.

Bagiku, sukses adalah melihat orang yang kita sayangi berbahagia.
Tahu nilai2 diri dari setiap peran yg aku jalani.
Paham dan tahu cara menghargai orang2 yg terpenting dalam hidup ini.

Saat aku dan KoJonny menghadapi masa2 sulit, kami tak membahas uang dan kerjaan saat bertemu. Kami sibuk berusaha membahagiakan satu dan lain dg cerita2 lucu dan pujian2 yg membangun. Aku sangat yakin, ide tentang masa depan, lahir di saat seseorang itu bahagia dan merasa santai.

Ini adalah jawaban, bagi orang2 yg bertanya baik lewat inbox ataupun pesan, apa kiat berbahagia?
Cukup berusaha yang terbaik semampu kita, tidak mengambil sesuatu yg bukan hak kita, dan selalu membahagiakan orang2 terdekat kita.

♡♡♡

Dosa

copyright Michelle Jonny

Saya hanya sharing pengalaman saya sebelum dan sesudah berlatih meditasi. Ngga ada dewa atau mahluk astral yg ngucapin; selamat, Anda sudah jadi suci dan bijaksana.
PRET!!
*
Saat saya masih labil (10 taun lalu) dan merasa hidup penuh dengan masalah (cuma tau doa dan tidak mau tau soal meditasi). Semua orang menilai saya arogan dan sangat egois. Even My Bro si Alibaba, yg dikenal uda sabar banget, tetep mengatakan, "Males ngomong sama Ce Miselle. Tukang ngeJudge, sok perfect, emosian."
*
Setelah dengar dia ngomong gitu, panas lah bawaan saya.
"Eh, ngapain loe ngomong2 gitu. Blablabla," marah lah intinya. Ga suka dikoreksi.
Trus malemnya berdoa menangis, kenapa ya Tuhan, saya ni ga disukai kanan kiri dan banyak masalah?
*
Umur 17, Alibaba terbang ke Luar negeri utk kuliah. Di sisi lain, saya uplek2an sama permasalahan serba duniawi -- sampai ketemy meditasi.
Dan ketika dia kembali 4 taun kemudian, saya jemput di airport. Nangis saya sama si bandel ini. Kangen banget. Trus entah gimana ceritanya, kita jadi deket banget (sampe sekarang)
Baru beberapa hari yg lalu, dia mengatakan kalau saya bukan lagi saya yg dulu. Asik banget ngobrol sama ce Misel. Ce Misel idolaku, ce Misel pujaanku, mau punya istri kayak cece, dll lah pokoknya bagus2.
*
Sama seperti orang lain, Alibaba ngga peduli proses dan rintangan yg saya alami selama 10 taun ini.
Dia pokoknya mau terima beres kalau lawan bicaranya mampu merespon dengan baik dan ngga menyakiti hatinya (seperti dulu2)
*
Saya menyimpulkan. Itulah dosa.
Dosa adalah sesuatu yg kita ketahui atau tidak, telah menyakiti diri sendiri (orang lain belakangan)
Dengan marah2 dan serba komplain, hati saya ngga bahagia juga sebenarnya.
Seluruh dunia terasa kejam dan salah.
Dosa itu ibarat uda buta huruf, ga mau belajar baca, ngotot, diajarin ngelawan.
*
Dosa = Batin yg berdebu dan mumet, kusut, semrawut.
Akumulasi ketidakenakan dalam pikiran dan perasaan yg lalu menjelma menjadi KEBENCIAN.
Itu dosa.
Ketidakmampuan mengatasi diri sendiri utk menjadi manusia yg lebih baik (bagi sekitar)
Memandang seluruh dunia hanya dari kacamatanya, merasa paling benar.
*
Dan walaupun saya tidak lagi memeluk Agama yg mengajarkan saya utk berdoa, saya selalu ke Gereja saat ulang tahun Idola saya tiba. Jesus Christ.
Ia mengajarkan satu kata bagi saya, "Ampunilah dosa mereka, Bapa... mereka tidak tahu apa yg dilakukannya."
Sebodoh apa orang yg tidak bisa melihat kebaikan seorang Nabi seperti beliau?
Saya ga paham kenapa masih ada org yg begitu jahatnya, tega menyalib dan menyiksa dia yg ikhlas menjalani hukuman tanpa perlawanan -- padahal ga salah sama sekali?
*
Dalam meditasi saya paham. Gambar akan diri sendiri JELAS.
Saya membela Yesus dan mengutuk perbuatan pasukan Romawi padanya.
Tapi, saya lah Pasukan Romawi itu yg kerjanya maksa, marah, dan menyiksa (meski ngga sampai membunuh ya)
Saya membela kaum2 lemah dan mengutuk perbuatan yg jahat seperti para pencuri dan pemerkosa.
Sementara, saya tidak diadili karena saya sering pula mencuri hak anak saya utk disayang (waktu itu baru 1 Daphne) dan memperkosa kebebasan orang2 utk berpikir dan berbicara.
Dengan keras saya selalu menentangnya. Merasa paling beradab, paling suci.
*
"Ampunilah dosa saya, Bapa.. saya tidak tau apa yg saya lakukan," gumam saya sambil menyeka wajah menyudahi sesi meditasi. Dan setelah mata terbuka, saya bukan lagi manusia yg sama.
Tidak ada lagi orang dekat yg bermasalah dg saya.
Kalau org ga kenal atau jauh -- ngga tau juga ya 😂😂😂😂😂😂
*
Dan saat saya dimarah, dikasari, dibentak.
Ada ego untuk membalas dg kata2 yg lebih kasar memang.
Tapi kemudian, saya teringat dengan momentum di atas, dan saya menganggap mereka tidak tahu apa yg dilakukannya.
Mungkin pikirannya sama seperti saya dulu. Marah, masalah selesai.
*
Hati saya sakit karena ulahnya? Itu urusan saya. Saya belum selesai dengan ego saya ini.
Keyakinan saya pada org itu tdk berubah, ia pasti akan sadar nanti -- seperti saya ini.
Dunia pun terlihat...
🎶 BEGITU INDAAAH..... 🎶

Senin, 03 Juli 2017

Tunda kesenangan part 2

Gaya dan Gengsimu lah Yang Ternyata membunuh isi kantongmu Sobatku.

saya mencoba mengupas lebih mendalam kembali mengenai Gaya hidup dan Gengsi berdasarkan pendapat dan pengalaman pribadi saya.

Masihkah Anda ingat Sobatku kalimatku di postingan sebelumnya?

" Ga perlu gengsi dan malu sob. Mgkn skr terlihat bokek dan ga punya duit tapi percayalah ntar pasti ada saatnya Anda pakai sendal jepit swalaow celana pendek robek sama kaos oblong aja di bilang dia orang kaya😎😎"

Yah,Secara sadar atau tidak sadar, kita sering melihat bahkan menemui Orang Yang sebenarnya tidak mampu malah mencoba ingin memperlihatkan kepada orang sekitarnya bahwa mereka Mampu dan terlihat TAMPAK KAYA.

Bahkan dulu saya pribadi juga melakukan hal tersebut Sobatku, saya seringkali kerap mengganti Gadget saya, agar selalu dibilang uptodate. hingga akhirnya saya mengalami suatu kejadian dimana hal tersebut diluar kendali saya.

Yah, Ayah saya jatuh sakit dan membutuhkan perawatan ekstra saat itu, dan mirisnya ketika saya mencoba untuk memberikan yang terbaik dan melakukan yang terbaik untuk orang yang kita sayangi.

Saya menangis, saya menangis karena melihat isi rekening tabungan saya karena saat itu ternyata saya tidak punya uang untuk mengobati ayah saya.

Dan saya hanya bisa meratapi, ayah saya yang terbaring dirumah sakit saat itu.

Perlahan dan pasti, teman bahkan beberapa saudara menjauhi kami karena mengetahui permasalahan keuangan yang sedang keluarga kami alami.

Tetapi saya percaya saat itu, akan selalu ada Kesempatan dan jalan jika kita percaya, bukan begitu sobat?

Yah, saya mendapatkan kesempatan dan jalan tersebut, saya berhasil mendapatkan pinjaman Dana dari kartu kredit utk mengobati ayah saya, mgkn sebagian dari Anda berkata, Wah Pak Iwan masih Riba.

Sobatku, terkadang ada sisi dan pilihan Anda harus memilih dan menurunkan Ego bukan karena Gengsi tapi karena Situasi dan Keadaan itulah yang saya alami :D

Buat saya kartu kredit penyelamat ayah saya, apakah saya masih terus berhutang sampai saat ini? tentu saat ini saya tidak berhutang pada kartu kredit sobatku melainkan dengan investor, supplier dan pelangganku saja hehehe.

Dari kejadian tersebut saya mulai belajar dan mengalami menurunkan gengsiku, beberapa Gengsi yang mgkn saya atau bahkan mgkn Anda alami atau pernah temui :

1. Biasa Gaya Makan Siang ke Mall, beralih sekarang makan Di Warteg Pakai Nasi, Telur, Perkedel cuman 10rb, dan saya masih rutin makan di Warteg Sampai Saat ini Sobatku :)

2. Biasa Ngopi atau ngeteh di mall / cafe beralih sudah ke warung kaki lima bahkan kadang beli sachetan nyeduh sendiri. Sampai saat ini pun saya masih melakukan kegiatan tersebut dikantor, rumah ataupun ketemu tmn hehehe.

3.Dulu Setiap keluar Hp terbaru, saya upgrade / nyicil hp baru, sekarang klo hp masih bisa dipakai dan diperbaiki, saya pakai sampai rusak total dl baru ganti :)

4. Dulu ngebet banget beli mobil klo bisa beli mobil sport nyicil jg gpp pakai gaji. saat ini saya memilih naik uber, grab, go car. malah cenderung bykan pakai Gojek dan bawa motor, jakarta macet dan kantor serta lokasi usaha saya di area paling trafic tinggi di jakarta setiap hari T_T

5.Dulu klo ke mall ada barang bermerk diskon, langsung buru2 beli walau kredit. Skr ga bermerk jg gpp asal nyaman di pakai aja dan belinya waktu butuh saja :D hehehe..

Dan Tangisan tersebut serta kejadian tersebut yang mengajarkan saya untuk hidup Apa adanya dan Sederhana, bukan Gengsi dan Banyak Gaya hingga saat ini.

Sebuah Pelajaran Yang berharga yang diberikan kepada saya dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Terima kasih Tuhan telah memberikan saya kesadaran lebih awal.

Saya yakin tidak sedikit dari kita atau bahkan sekitar kita seringkali menemui bahwa ada temen kita atau saudara bahkan sahabat kita.

bilangnya ga punya uang, kepingin minjem uang, begitu dikasih pinjem uang eh dia malah pakai buat yang aneh2..

Saya juga punya teman 1 yang selalu bilang ga punya uang, kalau diajak makan pinggir jalan, ga punya uang, diajak makan resto ga punya uang.

tapi klo ke mall jalan dia belanjanya tentengannya Kantong fashion bermerk smua.. Cuman bisa elus dada aja...

Dia lebih memilih tampil gaya dan terlihat kaya daripada perut ke isi kenyang...

Semoga Sobatku tidak melakukan hal tersebut jika sudah melakukannya bisa Taubat Sob.

Karena Akan Selalu Ada PENGALAMAN, Di Setiap PETUALANGAN....

Iwan Kenrianto

Bukan Motivator
Bukan Provokator
Cuman Pebisnis Yang Juga Pernah Tekor

Minggu, 02 Juli 2017

Membaca

copyright Michelle Jonny

Membaca huruf, pakai logika. Jangka pendek.
Membaca keadaan, pakai perasaan. Jangka panjang.

Contoh cerita kayak gini..
Hubunganku dan KoJonny terkendala di Bahasa.
Dia mesti banget belajar bahasa Indonesia dan aku mesti banget belajar bahasa Mandarin.
Awalnya, kadang bercandaan jadi garing kriuk2 karena lelucon yg mesti diterjemahkan berulang sampe ga lucu sama sekali 😂😂😂😂

Predikat "HE IS THE ONE" mulai bergeser jadi "IS HE THE ONE??"
Yakin gak bakal seumur hidup bersamanya? Setelah dipikir2, seumur hidup itu panjang dan komunikasi bukan sekedar di dapur dan di kasur.
Sebagai cewek kece yg tau selalu dinanti kayak Film Tom Cruise, timbul rasa sangat ragu dan ambigu salah2 aku bakal mengulang kesalahan dari hubungan yg lalu2, nih?
BTW, ga ada ruginya juga ninggalin hal2 yg ga kusukai. Pasti ada seseorang yg lebih baik (kataku pada diri sendiri -- dulu)

Aku dan dia sering merasa ingin pisah..
Dia introvert, aku ekstrovert abis. Aku seneng bersosialisasi dan di mata dia itu lebay.
Bagiku dia sensi. Dan ketus! Apa yg ada di pikirannya, baik atau buruk, langsung nyeplos ga ada filter.
Dulu, sering banget aku nanya, "Koq, bisa sih kamu punya pikiran (seburuk) gitu?"

Lalu mendadak aku tau jawabannya dalam salah satu meditasi (entah yg kapan)
Sama kayak pertama kali aku belajar bahasa Jepang dan Mandarin.
Huruf2 itu ngga bisa kubaca, ga tau artinya, walaupun bisa sih keliatan, gitu kan.
Tapi lama2 setelah aku mengorek lebih dalam, belajar, jadi ngerti.
Kagum -- banyak puisi dan sajak yg indah kalau kita tau cara bacanya.
Lagu2 mellow jadi asik aja kalau kita tau apa yg dinyanyiinnya (padahal bahasanya ga familiar di kuping org sekitar)

Aku merenung lagi.
Sebenarnya, apa yg kucari?
Laki2 baik, kan?
Yg bisa ninggalin segala kebiasaan buruk spt judi, miras, rokok, kan? Nah ini uda ketemu.
Secara fisik, seleraku banget. Tapi kenapa masih ada yg salah?

Ternyata... Kurang bersyukur itu gejala. Bukan sumber penyakit.
Ada sesuatu yg bikin kita gak bisa melihat keindahan yg mesti disyukuri. Kita ga niat mempelajarinya. Aku merasa memahami dia sama aja buang2 waktu. Itu penyakit sebenernya!

Ya, aku bole ninggalin dia kalau dia sama aja kayak yg sebelum2nya. Egois. Ga mikirin kepentinganku. Dan sibuk sama yg yg menurutku ga ada hubungan sama masa depan.
Tapi, laki2 ini ngga loh..
Dia selalu mau ngalah, memperbaiki diri, ga pernah mengulang kesalahan yg sama (meski kesalahan baru selalu ada - di mataku)
😝😝😝😝😝😝😝😝

Fix!
Aku mesti lebih mahir membaca perasaannya, moodnya, kebiasaannya.
Apalagi setelah aku tau kalau dia memiliki 'keunikan' sebagai ADHD dewasa dan disleksia.
Semakin menantang, nih... seumur hidup ga akan bosan, karena aku akan terus melakukan hal yg kucintai sepenuh hati -- mengajar dan belajar.

Kalau dia lagi gini, cara bacanya gini -- biar tau artinya.
Kalau dia lagi badmood, terbaca, aku mesti gini..
Ntar gantian,, aku juga ga selalu on goodmood. Tapi kan ada mantra 'sorry, i didn't mean it. Love you..'
Saling belajar baca utk bahagia sampai maut memisahkan.

Mulailah aku mengajarinya mengeja vocab, lambat laun jadi bahasa Inggris.
Dia (herannya) bisa loh ngerti huruf mandarin dengan cepet. Mantep jiwa.
Sekarang, bahasa bukan kendala bagi kami. 7 taun bersama, ini murid spesialku uda lulus SD.
😁😁😁

Pengalaman 'membaca' dirinya, menjadi dasar diriku saat ini.
Ada 69 distributor seluruh Nusantara, ratusan sales, dan puluhan ribu pemakai Sagha yg mesti dibaca satu per satu. Karena mereka spesial. Ga ada yg sama. Setiap dari mereka unik.
Selalu ada cerita indah dari setiap individu yg berjodoh dg Sagha.

Moral cerita :
Membaca dan menghitung kehidupan itu jangka panjang. Mesti dieja dengan merenung (bukan melamun)
Apakah yg pantas kita lepas, dan apa yg pantas kita pertahankan.
Seberapa bahagia diri kita ketika melakukannya? Bila yg ada cuma derita. Mungkin itu cinta sepihak yg terlalu maksa. Dan aku sih, ga akan kuat terlibat seumur hidup dg hubungan 1 arah.

Sabtu, 01 Juli 2017

KARMA

copyright Michelle Jonny
*Sering sebut, sering salah

Saat seseorang mengatakan; "Itulah Karmanya, siapa suruh jadi orang jahat?" Atau... "Itulah karmamu.."
Tapi ketika diri sendiri yang menghadapi kesulitan, atau kemarahan, maka tercetuslah..
"Kau akan terima karmamu karena telah menyakitiku!"
... atau, "Karma taik!! Gak semua itu bisa dihubungkan dengan karma lah!!"

Sebenarnya, pengunduran diriku dari dunia metafisik dan paranormal, adalah karena capek menghadapi orang2. Serius. Capek banget.
Di saat mereka dalam masalah, yg diharap adalah cara instan supaya tiba2 semua keadaan bisa berubah dan kebahagiaan tiba2 muncul. Bak keajaiban.

CONTOH:
Masalah keluarga yg runyam, tiba2 jadi baik.
Pasangan yg jahat, tiba2 jadi baik.
Kegagalan, tiba2 jadi kesuksesan.
Sakit, tiba2 sembuh.
... kalau bisa... yang MATI, dihidupkan.

Banyak orang pintar (baca; paranormal) diyakini tidak bisa menolong dirinya sendiri.
Oleh karena itu, hidup paranormal selalu susah, banyak masalah, atau ada penyakit.
Sampai ketika aku serius di bidang ini, keluargaku melarang dengan alasan, "Nanti kamu ketularan sial."
Awalnya aku tak percaya dan GO FIGHT.
Terlahir dengan talenta, dan kukembangkan dengan ilmu pengetahuan, aku hanya ingin membantu orang. Itu saja.
Pasti ada sesuatu yg bisa dijelaskan dengan iptek tanpa harus ngobok2 mistik dan gaib.

Namun pada akhirnya aku menyerah karena lelah.
Aku jadi tahu kenapa paranormal selalu banyak masalah.
Karena mereka selalu mengijinkan masalah untuk masuk dalam kehidupannya.
Mereka mengijinkan diri untuk bervibrasi dengan kesulitan2 dan kemurungan, serta kebingungan orang2.
Dan biasanya, para klien ini, MELEKAT.

Aku sampai pada titik sadar untuk bertanggung jawab.
Ada 3 hal besar yg aku lakukan saat aku benar2 berada di posisi atas.
1. Berkeluarga
2. Membuka praktek utk membantu org
3. Membangun bisnis Sagha (ex Avaloka)

Bisa dibilang, dari luar, ketiganya berjaya.
1. Keluargaku baik dan mendukung.
2. Para pasien banyak yg terbantu dan semakin banyak, namaku semakin populer.
3. Avaloka booming di bulan ke-3 sampai hari ini dan terus berlanjut.

Namun...
Dari dalam..
1. Pengorbanan suamiku luar biasa besar. Ia mengurus aku, keluarga, dan sering terlibat secara emosi dengan masalah2 pasien. Dia frustasi.

2. Di mata para pasien, aku sudah tergambar sebagai sosok yg WOW dan sekali saja mereka salah paham, kebaikan 1000 hari akan hangus terbakar dalam 1 jam. Apa yg membakar? Pikiran mereka.

3. Avaloka semakin tinggi, angin pun semakin kuat.

** Dari nomor 3, kembali berulang ke nomor 1 bagai lingkaran setan yg awalnya terasa bagai kebahagiaan yang sangat sempurna.

Kenapa?
Benarkah aku harus percaya kalau semua orang yg lahir dengan 'talenta' harus menderita dan sulit utk bahagia?

Menangis, aku, seorang ibu yg memiliki anak sehat dan aset miliaran rupiah dengan keluarga super bahagia, berlutut di depan seorang Guru.
Aku menangis bukan karena ingin ditolong.
Aku hanya tidak dapat menahan lagi semua beban ini dan ingin mengikuti jejaknya ke hutan.

Guruku, adalah yang paling terluka melihat air mataku.
Ia membangunku sampai begitu cemerlang, air mataku meruntuhkan doa doanya.

Aku tahu beliau menahan rasa sedih dan mengumpulkan sisa sisa keyakinannya sebagai seorang Guru dan seorang Ayah.
"Miselle, chin up!" ---> Miselle, angkat dagumu.
"Dengarkan aku...," katanya lagi.

"Saya tidak menyesal dengan semua keputusan yg saya ambil, Guru... hanya saja, saya sulit menerima tusukan kalau itu berasal dari dalam. Dari orang2 yang terpercaya dan paling saya andalkan. Saya sudah merelakan banyak hal yg telah terjadi. Tapi kali ini, rasanya saya tidak mampu lagi. Saya ingin menjadi orang biasa dan meninggalkan semua ini."

"Miselle, di antara semua siswa, kamu adalah yang paling cemerlang.
Di antara semua ajaran yang saya ajarkan, kamu adalah yang menyerap paling sempurna.
Seperti telah lama saya bahas, dan kamu sendiri sering mengajarkan kepada orang lainnya..

Tidak mungkin buah pepaya tumbuh dari biji salak.
Apa yg kamu rasakan adalah apa yang pernah kamu tanamkan.."

"Ya, Guru... saya hanya perlu waktu. Dan berpikir. Lebih baik semua harta dan bisnis ini saya tidak mau. Di awal rencana saya hanya ingin semua orang bahagia. Tapi kenapa semua berbalik menghantam saya? Saya dapat menerima kehancuran saya. Tapi saya menjadi bingung bila semua orang harus hancur karena saya mundur."

"Miselle, bakatmu, karma, itu bagai bola yang ada di tangan. Sedari awal sudah ada disana.
Kamu boleh melemparnya, boleh memantulkannya, boleh juga membuangnya, atau kamu pergunakan untuk bermain dengan hati2.

Bila kamu melempar, memantulkan, meski tanpa kebencian, pasti akan mengenai orang lain atau dirimu sendiri bila dilakukan tanpa kesadaran.
Tapi kalau kamu telah menguasai permainan bola, kamu akan bermain dengan orang2, dan membawa pulang bola itu dengan hati2 menuruni tangga.
Kamu bahagia, semua orang juga.

Beda sikap membawa bola itu, beda pula hasilnya.
Yang penting sadar.
Kepada bakatmu, pilih org yg benar2 bisa bermain denganmu, tidak lain, itu adalah orang terpenting dalam hidupmu, keluarga.
Kepada mereka yang tidak mengerti, jelaskan, sekalipun itu menjadi pembicaraan terakhir, biarlah, tapi luruskan sesuatu yg bengkok sebelum yg bengkok itu mengeras.

Ketika kamu sudah berusaha, mereka paham atau tidak, mereka berubah atau tidak, itu cerita lainnya.
Dengan hati2 bawa bolamu dan pergilah ke tempat yang tenang.
Bola itu, adalah pikiranmu, bakatmu, milikmu, tindakan yang kamu lakukan dg bola itu adalah karma.

Bila kamu dapat mencurahkan sebuah pikiran dg bijaksana, tak menimbulkan keributan, maka selamanya tak ada keributan.
Tapi bila pikiran itu tercurahkan atau bila dikatakan malah menimbulkan konflik, luruskan, atau mengalah demi kedamaian.
Kedamaian dirimu sendiri. Bukan yang lain.

Itulah karma.
Karma adalah reaksi dari aksi yang kamu lakukan.
Tidak pernah segala kejadian itu terjadi kalau tidak ada pencetusnya."

Setelah itu, aku pun pulang dan memutuskan segala sesuatunya dengan bijak dan benar dalam sebuah musyawarah mufakat.
Wajahku kembali cerah karena gunung di hatiku sudah berpindah.
Namun memang ada beberapa orang yg dibilang apa juga ga akan pindah haluan.
Mereka bukan keras kepala, cuma semangat untuk berubah belum ada.
Tunggu waktunya aja.

Ini kejadian beberapa bulan lalu.
Saat ini, semuanya kembali terasa benar dan indah karena aku telah memutuskan apa yg mesti kulepas dan apa yang sebaiknya kupertahankan.
Tak lain tak bukan, adalah keluarga.
Hal hal yang tidak berkaitan dengan kebahagiaan mereka, tidak akan membuatku bahagia pula.

Siapapun, bisa bahagia.
Tidak terkecuali paranormal dan org kaya.
Mereka cukup selalu sadar pada semua akibat dari ucapan dan perbuatannya.
Katakan hal baik, jadi baik.
Berbuat yang baik, jadi baik