Sabtu, 08 Juli 2017

dulu - sekarang

sumber Arham rasyid
Masa kecil dulu, belum ada parenting ala Ayah Edi atau bunda Elly Risman, tapi alhamdulillah kami tumbuh dengan didikan tata krama yg gak kalah dengan ilmu parenting kekinan.
Penerapan hukuman tetap ada, tapi masih manusiawi lah. Sesekali melayang tamparan kecil di mulut kalo kedapatan ngomong jorok. Tapi tentunya sebatas tamparan shock terapy biar gak diulang, sekadar tamparan sayang pada anak, bukan tamparan ala istri jenderal pada petugas bandara.

Sebuah ironi. Entah pendidikan makin canggih atau kami yg makin kolot, gw perhatikan kebanyakan anak sekarang enteng banget ngomong jorok, seolah gak ada beban.
Cobalah sekali-sekali berbaur di halte ataupun seangkot dengan anak-anak usia SMP atau SMA yang bau matahari. Makian seolah sudah jadi kebutuhan.  Dulu kebutuhan manusia cuma sandang pangan dan papan, sekarang mereka tambahkan makian.

Kalo sudah begini siapa yg tanggung jawab? Gak elok kalo menyalahkan orang tua. Toh seberapa banyak sih waktu yg dihabiskan anak-anak saat ini dengan lingkungan rumah? Belum lagi kalo orangtua full time worker dan anak-anak full day school, ketemu pun sudah pada full body capek. Jadilah anak-anak lebih banyak berkhalwat dengan gadget. Berasyik masyuk dengan facebook. Khusyuk dengan youtube.

Pernah mencari tau siapa yang jadi panutan anak-anak sekarang di media sosial? Sekadar info, untuk Youtube Indonesia, ada nama Reza okt***** salah satu youtubers kesohor dengan subscribes jutaan. Sengaja namanya gw kasih bintang-bintang, biar gak usah dikepoin. Cukup tau saja, kalo ini salah satu yg merusak generasi muda. Omongannya kayak isi septic tank.

Belum lagi role model macam Yonglek, yg bikin tren dengan ngomelin tangga dan lampu. Atau Awkarin, yg mensucikan semua orang, seolah dia doang yg punya dosa. Dia gak tau kalo sampe saat ini gak ada yg Suci dalam debu, selain iklim.
Oke fix, gw sudah tua. Gak usah ngomong ketahuan usianya.

Trus ada lagi vlogger keren luar biasa yg kemaren ndeso-ndesoin orang. Kalo yg itu sebenarnya gak perlu heran. Karena sebelumnya, kakaknya juga pernah pake topi bertulis "ndasmu", duduk bareng tanpa sungkan dengan bapaknya yg dihormati rakyat.

Trus yg terbaru....... duh, gak enak sebenarnya ngomongin ini. Konon dia harus dimaklumi karena masih unyu-unyu dan kinyis-kinyis, walaupun sudah pinter gambar alis. Bikin video faking-faking asolole, entah apa yg dicari. Tapi ya sudahlah, jangan terus-terusan dibully..

Pertanyaanya, apa yg memicu anak-anak kekinian jadi kurang ajar, yg mereka sebut kebebasan berekspresi?
Bahkan kalo disimak beberapa di antara kasus yg mengaku korban persekusi justru masih di bawah umur.
Bocah-bocah masih bau minyak telon yg berani masuk wilayah agama. Menghina syariat dan juga ulama. Petantang-petenteng nantang berantem yg ujung-ujungnya malah mewek-mewek sambil bawa materai.

Yg ikut andil perilaku sedemikian sebenarnya banyak. Termasuk media dan juga kita. Media berperan mengubah tokoh-tokoh villain menjadi hero. Gak apa-apa kasar, yg penting jagoan, idealnya begitu. Walhasil tersangka penista agama pun dipuja sedemikian rupa, putusan hukum diprotes dengan aksi bakar-bakaran. Padahal negara ini negara hukum, bukan negara api.
Sebagian dari kita juga kadang gak nyadar memberi contoh. Entah krisis kepahlawanan atau salah jalan, contohnya ISIS yg kasar ada saja yg nganggap benar padahal gak lebih dari kilaabun naar.
Ada juga yg bangga pake kaos tokoh-tokoh semisal Aidit, Musso, atau Semaoen, biar dibilang keren melek sejarah. Tapi saat dibilang simpatisan PKI malah mereka marah.

Tokoh-tokoh superhero kanak-kanak dari barat juga begitu. Ada kecenderungan menjadikan orang jahat jadi jagoan. Lihat saja film Batman, siapa yg mencuri perhatian? Joker! Gak cukup secara tersirat, malah dibuatkan edisi Suicide squad.

Nah, sekarang tugas berat kita sebagai orang tua, mengontrol anak. Amati perkembangannya, siapa teman-temannya, idolanya, hobinya,  kecenderungannya, bahkan ke wilayah privacy semisal gadget. Adakah yg lebih konyol dari kau mengeluarkan uang banyak untuk membeli teknologi yg kau tau akan merenggut posisimu sebagai teman terdekat anak-anak?
Makanya, gak usah dulu jauh ngurusin anak orang, kalo anak sendiri bikin kurus. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Itu sudah..

Demi anak, gak ada salahnya update trend dan permasalahan kekinian.
Seperti kata pepatah:
"How can you do that,
Jangan asal ngguyu biar gak dibilang kudet"

Kamis, 06 Juli 2017

jawaban ujian

sumber AIM

Dalam pengajian rutin saya semalam, disampaikanlah pandangan-pandangan para sahabat Nabi dan para ulama tentang kehidupan. Kesimpulannya adalah bahwa apapun bentuk, model, corak dan kisah yang terjadi pada kita adalah UJIAN bagi kita. Kita harus bisa menjawab setiap soal ujian itu agar bisa lulus dengan baik. Jawabannya sesungguhnya sederhana saja dan hanya ada dua saja, yaitu SABAR DAN SYUKUR.

Mengapa jawabannya hanya dua itu? Karena ujiannya "hanya" ada dua macam saja: pertama adalah ujian musibah yang menghendaki jawaban sabar; kedua adalah ujian nikmat yang menghendaki jawaban sukur. Menurut mereka yang telah menjalani hidup penuh ujian itu dan bercerita akan apa yang lazim terjadi, ujian musibah jauh lebih mudah dijawab dibandingkan ujian nikmat. Banyak yang tidak lulus dengan ujian kenikmatan karena banyak di antara manusia menduga kenikmatan itu bukanlah ujian. Bukankah sementara ini kebanyakan kita mengira kenikmatan dalam berbagai bentuknya itu hanya sebagai anugerah? Padahal, bencana seringkali hadir bersamanya jika tak dipahami sebagai ujian yang harua diwaspadai.

Ada kalimat bijak Sayyidina Umar yang sangat mengena bagi kita: "Sayactidak peduli apakah besok saya akan mendapatkan nikmat apa mendapatkan musibah. Karena saya tidak tahu yang mana yang paling baim bagi saya, apakah nikmat apa musibah." Dahsyat sekali, bukan? Sayyidina Umar mengajarkan bahwa sangat mungkin ada kebaikan dicdalam musibah. Sayangnya, kita cenderung tutup mata dengan terlarut dalam tangisan derita.

Apa yang harus jadi pegangan kita agar tetap saja bersahaja dalam kondisi apapun? Coba perhatikan ayat berikut ini:
و الله يعلم و انتم لا تعلمون
"Dan Allah adalah tahu, sementara kalian adalah tidak tahu."

Ya, Allah mengetahui mana yang terbaik dengan pengetahuan yang pasti. Sementara kita tahu hanya dalam batas praduga yang belum tentu pasti. Jalani saja hidup ini, percayalah bahwa Allah takdirkan yang terbaik bagi kita, walau sementara ini hati kita masih merasa tak nyaman dengan takdir kita. Teruslah waspada dengan kenikmatan, itu juga adalah ujian. Salam, AIM.

harta

copyright ifani ifani

Daripada nyumbangin orang miskin mending beli ferrari, karena biarpun nolongin orang susah, tar kalo nabrak dijalan yang kismin itu pasti seneng, seneng nimpukin anda. Mak kan mo diamuk masa gegara mobil mak lg macet deket bgt dibelakang mobil lain kecium ban serepnya. Gak kenapa2 dia tapi meres dan ngajak massa, pas banget hari lebaran, masi pada pake segala atribut. Mobil mak beda, mau dipentungin ya gw bayarlah.

Daripada mengasihi fakir miskin, mending bikin rumah lagi, karena mungkin tar kalo ada apa2 merekalah mungkin yang duluan mecahin kaca jendela anda, ngapain ditulungin.

Daripada nyantunin anak yatim mending beli kapal pesiar, bisa jalan - jalan ke pulau indah yang gak ada orang minta-minta....yang kerja gw duit2 gw ngapain nulung2.

Banyak orang yang secara materi mampu, berpikiran begini, karena gak yakin ada gunanya nolong2 atau nyumbang2 in orang selain zakat yang wajib (itu juga lom tentu bayar palagi nambahin). Karena ditulungin juga gak ada gunanya suatu waktu malah dihajar sama kaum yang ditolong itu.

Tapi percayalah sebagian hartamu adalah hak orang miskin dan anak yatim. Bila cobaanmu adalah menjadi kaya secara harta, bila kau tak pernah menolong orang tak mampu, kau hanya akan kaya di dunia saja....dan itu adalah cemen karena kau berpikir bahwa kekayaan itu adalah pure berkah dan bukan cobaan.

Biarpun yang kau bantu atau sejenisnya songong padamu, ingatlah pahala itu diberikan dari Tuhan bukan dari manusia. Sedekahmu, sumbanganmu diurus Tuhan balasannya. Tak usah mengharap dari manusia, mereka baik syukur kalo gak EGP sajah.

Semua tergantung niat.
Bayar zakatmu, sumbang orang tak mampu dan anak yatim, setelah itu apa yang terjadi terjadilah, yang kutau Tuhan penyayang umatnya....

Yang lebih wokeh lagi ferrari iya, rumah iya, kapal pesiar iya, jet pribadi iya, nyumbang jalan terosss, nah baru mantep wkwk
#Dicari jodoh yg gini oleh para jomblo wkwk

"Sebaik - baik harta adalah yang ada ditangan orang-orang yang sholeh".

Mangkanya gw gini gini aja kali gak punya psawat
#Lom soleh wkwk

Jum'at barokah yak

feminisme

copyright Michelle Jonny

Klo biasa aku baca di laman2 media seluncur, sejak taun 2000an kayaknya emansisapi (a.k.a perbudakan) wanita sudah pelan2 berevolusi jadi emansipasi (pemberdayaan) wanita.
*
Mau ga mau, kaum pria yg tadinya kolod banget, mesti merelakan istrinya bekerja karena memang terasa perbedaan antara keluarga yg ditopang 1 penghasilan dan 2 penghasilan.
Selain itu, istri yg berkarier kelihatan ga terlalu stress karena banyak tempat pelarian energi positif ketimbang yg diam di rumah dan cuma melakukan pekerjaan rumah tangga.
*
Kalau bagiku sih, menikah dengan orang yg bisa belajar memahami lebih penting daripada menikah dengan kriteria fisik spt tajir, ganteng, intelek, lulusan LN, berasal dari keluarga terpandang.
Karena terlepas dari apaaapun latarnya, yg megang kendali hubungan rumah tangga sama sekali bukan faktor materi tapi gimana cara memahami satu sama lain.
*
Ada juga, yg merasa menjadi ibu rumah tangga adalah karier.
Itu bener banget!!
Karier yg jangkanya paling panjang adalah ibu rumah tangga dan bapak rumah tangga.
Equal. Sama.
*
Menjadi ibu rumah tangga sama dengan jadi CEO perusahaan.
Suami, ownernya (karena nama resmi wajib pajak dan aset adl suami)
Maju atau tidaknya suatu keluarga, tergantung pengelolaan uang dan aset bergerak di dalamnya.
Mungkin, bisa dibagi..
Istri mengatur aset bergerak (kesehatan, pendidikan, kehangatan, dan rasa aman)
Sementara suami, fokus di aset tidak bergerak (rumah, mobil, tabungan, dan hal2 bersifat materi)
Atau sebaiknya (enak gimana aja)
*
Uniknya, semua hal di atas, bukan muncul dari buah kesadaranku.
Itu semua koJonny yg membabarkan dan aku baru ngeh. Bener semua itu!
*
KoJonny ngoceh 2 jam panjang lebar sama temennya yg komplain karena istrinya selalu belanja hal2 yg ga diperlukan dan ditumpuk di dapur spt TUPPERWARE, slow juicer, normal juicer, super speed juicer.
Pemotong bawang, pisau mahal, panci mahal.
Dan itu ga dipake tiap hari.
"Boros betul dia.. itu peralatan dapur, klo dikumpulin, mungkin bisa beli 1 mobil!" Kata suaminya.
Anak mereka 2.
*
"Emang dia pakai tabungan kamu utk beli semuanya?" Tanya koJonny
"Ngga sih, pake uang belanja."
"Lah, itu kamu kasih buat belanja, kan? Terserah dia donk mau beli apa," jawab KoJonny dengan nada bercanda.
*
"Dulu di awal pernikahan saya juga ga paham apa itu 'jatah istri' dan apa itu rumah tangga.
Suatu hari, waktu saya ulang tahun, Miselle belikan saya kamera yg mahal bagi saya. Saya tanya, uang darimana? Dia jawab, uang belanja dikumpulkan.
*
Saya cuma jawab, terimakasih. Senang bisa punya kamera idaman.
Dia ngga pernah minta uang sama saya (sama sekali) saya kasi berapa, dia terima berapa.
Saya ga berpikir, darimana dia dapat uang itu?
*
Beberapa bulan kemudian, dia ultah. Saya ga kasi dia apa2 (ga pernah kasi apa2 😂😂😂)
Dia cuma minta panci keramik 500ribu pada saya, dan saya jawab "GA BOLEH! BOROS! PAKAI AJA YG DI RUMAH."
Dia menangis.
Saya terkejut, kenapa dia cengeng? Lebay!
*
Lalu, abang sepupunya (kebetulan ada disana) yg mendengar saya melarang Miselle, berbisik ke saya; Jon, kameramu harganya 5,5 juta.
*
Saya masih ngga ngeh.
*
Sampai di rumah, saya baru tau dari suster (babysitter), ternyata selama berbulan2, uang dapur diirit mereka sampai bisa beli kamera saya.
Setiap hari ke pasar di jatah hanya 20rb supaya cukup makan siang dan sore. (Cuma belanja sayur mayur)
Sisanya disimpan. Dia ga keluar jalan2, dia irit berbulan2, sampai seingat saya, ke dokter anak aja ga pernah! Dia jaga sendiri kalau anaknya sakit.
*
Lalu saya ke dapur dan melihat ada noda di lantai.
Saya panggil dia dan suruh dia lihat, "Kamu ga lihat ini? Ga bisa lap?"
Tanpa membantah saya, dia ambil lap dan jawab sambil membersihkan noda, "Mata saya ngga kelihatan."
Sambil gosok2 mata dan lihat noda itu dekaaaat sekali.
*
Mendadak hati saya sakit. Saya sangat kejam.
Perlukah kacamatanya diganti? Koq dia ga bilang? (Minus 9 coi)
Hanya demi sebuah kamera, sebuah hadiah utk membahagiakan saya, dia sampe segitunya!?
*
Sementara saya?
Apa yg sudah saya berikan utk dia?
Saya cuma tau kerja, pulang rumah sudah bersih, anak sudah rapi.
*
Setelah itu, saya jadi ngerti.
Istri kayak dia, kalau diberikan kepercayaan, ga akan salah!
Saya biarkan dia atur keuangan saya. Saya percaya segalanya adalah demi kebaikan saya.
Keluarga kami. Akhirnya ya kamu lihat lah... (tercipta Sagha)
*
Sebagai pemimpin kita bukannya mesti sok berkuasa dan ngatur, Bro...
Justru kita harus mendukung perkembangan mereka yg kita naungi. Percayalah, istrimu membeli semua barang itu ujung2nya buat kamu dan anak2 juga.
Biar praktis masak, lebih sehat, dll."
*
Mendengar KoJonny menceritakan ulang percakapannya dengan sang teman, aku jadi senang.
Selama ini efek emansipasi cuma kubaca. Sekarang aku bisa terlibat di dalamnya.
Menikmati impact dari pemberdayaan diriku sebagai ibu rumah tangga lalu pelan2 menjadi wanita karier yg dianggap bermanfaat.
*
😊😊😊😊😊😊😊😊😊

belajar sunnah

sumber : anonim
Cerdasnya orang yang beriman adalah, dia yang mampu mengolah hidupnya yang sesaat & yang sekejap untuk hidup yang panjang.
Hidup bukan untuk hidup, tetapi hidup untuk Yang Maha Hidup. Hidup bukan untuk mati, tapi mati itulah untuk hidup.
.
Kita jangan takut mati, jangan mencari mati, jangan lupakan mati, tapi rindukan mati. Karena, mati adalah pintu berjumpa dengan Allah SWT. Mati bukanlah akhir cerita dalam hidup, tapi mati adalah awal
cerita sebenarnya, maka sambutlah kematian dengan penuh ketakwaan.
.
Hendaknya kita selalu menjaga tujuh sunnah Nabi setiap hari. Ketujuh sunnah Nabi SAW itu adalah:

Pertama, Tahajjud karena kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya.
.
Kedua, membaca Al-Qur’an sebelum terbit matahari. Alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, sebaiknya mata membaca Al-Qur’an terlebih dahulu dengan penuh pemahaman.
.
Ketiga, Jangan tinggalkan masjid terutama di waktu shubuh. Sebelum melangkah kemana pun langkahkan kaki ke masjid, karena masjid merupakan pusat keberkahan, bukan karena panggilan muadzin tetapi panggilan Allah yang mencari orang beriman untuk memakmurkan masjid Allah.
.
Keempat, jaga shalat Dhuha karena kunci rezeki terletak pada shalat dhuha.
.
Kelima, jaga sedekah setiap hari. Allah menyukai orang yang suka bersedekah, dan malaikat Allah selalu mendoakan kepada orang yang bersedekah setiap hari.
.
Keenam jaga wudhu terus menerus karena Allah menyayangi hamba yang berwudhu. Kata khalifah Ali bin Abu Thalib, “Orang yang selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu shalat walau ia sedang tidak shalat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, ampuni dosa dan sayangi dia ya Allah”.
.
Ketujuh, amalkan istighfar setiap saat. Dengan istighfar masalah yang terjadi karena dosa kita akan dijauhkan oleh Allah.
Semoga bermanfaat Ya...

Selasa, 04 Juli 2017

self healing

*Duowoo.... semoga bermanfaat untuk kesehatan*

Kami sedang antri periksa kesehatan. Dokter yang kami kunjungi ini termasuk dokter sepuh –berusia sekitar tujuh puluhan- spesialis penyakit “Silakan duduk,” sambut dr.Paulus.
Aku duduk di depan meja kerjanya, mengamati pria sepuh berkacamata ini yang sedang sibuk menulis identitasku di kartu pasien.

“Apa yang dirasakan, Mas?”

Aku pun bercerita tentang apa yang kualami sejak 2013 hingga saat ini. Mulai dari awal merasakan sakit maag, peristiwa-peristiwa kram perut, ambruk berkali-kali, gejala dan vonis tipes, pengalaman opnam dan endoskopi, derita GERD, hingga tentang radang duodenum dan praktek tata pola makan Food Combining yang kulakoni.

“Kalau kram perutnya sudah enggak pernah lagi, Pak,” ungkapku, “Tapi sensasi panas di dada ini masih kerasa, panik juga cemas, mules, mual. Kalau telat makan, maag saya kambuh. Apalagi setelah beberapa bulan tata pola makan saya amburadul lagi.”

“Tapi buat puasa kuat ya?”

“Kuat, Pak.”

“Orang kalau kuat puasa, harusnya nggak bisa kena maag!”

Aku terbengong, menunggu penjelasan.

“Asam lambung itu,” terang Pak Paulus, “Diaktifkan oleh instruksi otak kita. Kalau otak kita bisa mengendalikan persepsi, maka asam lambung itu akan nurut sendiri. Dan itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang puasa.”

“Maksudnya, Pak?”

“Orang puasa ‘kan malamnya wajib niat to?”

“Njih, Pak.”

“Nah, niat itulah yang kemudian menjadi kontrol otak atas asam lambung. Ketika situ sudah bertekad kuat besok mau puasa, besok nggak makan sejak subuh sampai maghrib, itu membuat otak menginstruksikan kepada fisik biar kuat, asam lambung pun terkendali. Ya kalau sensasi lapar memang ada, namanya juga puasa. Tapi asam lambung tidak akan naik, apalagi sampai parah. Itu syaratnya kalau situ memang malamnya sudah niat mantap. Kalau cuma di mulut bilang mau puasa tapi hatinya nggak mantap, ya tetap nggak kuat. Makanya niat itu jadi kewajiban, ‘kan?”

“Iya, ya, Pak,” aku manggut-manggut nyengir.

“Manusia itu, Mas, secara ilmiah memang punya tenaga cadangan hingga enam puluh hari. Maksudnya, kalau orang sehat itu bisa tetap bertahan hidup tanpa makan dalam keadaan sadar selama dua bulan. Misalnya puasa dan buka-sahurnya cuma minum sedikit. Itu kuat. Asalkan tekadnya juga kuat.”

Aku melongo lagi.

“Makanya, dahulu raja-raja Jawa itu sebelum jadi raja, mereka tirakat dulu. Misalnya puasa empat puluh hari. Bukanya cuma minum air kali. Itu jaman dulu ya, waktu kalinya masih bersih. Hahaha,” ia tertawa ringan, menambah rona wajahnya yang memang kelihatan masih segar meski keriput penanda usia.

Kemudian ia mengambil sejilid buku di rak sebelah kanan meja kerjanya. Ya, ruang praktek dokter dengan rak buku. Keren sekali. Aku lupa judul dan penulisnya. Ia langsung membuka satu halaman dan menunjukiku beberapa baris kalimat yang sudah distabilo hijau.

“Coba baca, Mas: ‘mengatakan adalah mengundang, memikirkan adalah mengundang, meyakini adalah mengundang’. Jadi kalau situ memikirkan; ‘ah, kalau telat makan nanti asam lambung saya naik’, apalagi berulang-ulang mengatakan dan meyakininya, ya situ berarti mengundang penyakit itu. Maka benar kata orang-orang itu bahwa perkataan bisa jadi doa. Nabi Musa itu, kalau kerasa sakit, langsung mensugesti diri; ah sembuh. Ya sembuh. Orang-orang debus itu nggak merasa sakit saat diiris-iris kan karena sudah bisa mengendalikan pikirannya. Einstein yang nemuin bom atom itu konon cuma lima persen pendayagunaan otaknya. Jadi potensi otak itu luar biasa,” papar Pak Paulus.

“Jadi kalau jadwal makan sembarangan berarti sebenarnya nggak apa-apa ya, Pak?”

“Nah, itu lain lagi. Makan harus tetap teratur, ajeg, konsisten. Itu agar menjaga aktivitas asam lambung juga. Misalnya situ makan tiga kali sehari, maka jarak antara sarapan dan makan siang buatla sama dengan jarak antara makan siang dan makan malam. Misalnya, sarapan jam enam pagi, makan siang jam dua belas siang, makan malam jam enam petang. Kalau siang, misalnya jam sebelas situ rasanya nggak sempat makan siang jam dua belas, ya niatkan saja puasa sampai sore. Jangan mengundur makan siang ke jam dua misalnya, ganti aja dengan minum air putih yang banyak. Dengan pola yang teratur, maka organ di dalam tubuh pun kerjanya teratur. Nah, pola teratur itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang yang puasa dengan waktu buka dan sahurnya.”

“Ooo, gitu ya Pak,” sahutku baru menyadari.

“Tapi ya itu tadi. Yang lebih penting adalah pikiran situ, yakin nggak apa-apa, yakin sembuh. Allah sudah menciptakan tubu kita untuk menyembuhkan diri sendiri, ada mekanismenya, ada enzim yang bekerja di dalam tubuh untuk penyembuhan diri. Dan itu bisa diaktifkan secara optimal kalau pikiran kita optimis. Kalau situ cemas, takut, kuatir, justru imunitas situ turun dan rentan sakit juga.”

Pak Paulus mengambil beberapa jilid buku lagi, tentang ‘enzim kebahagiaan’ endorphin, tentang enzim peremajaan, dan beberapa tema psiko-medis lain tulisan dokter-dokter Jepang dan Mesir.

“Situ juga berkali-kali divonis tipes ya?”

“Iya, Pak.”

“Itu salah kaprah.”

“Maksudnya?”

“Sekali orang kena bakteri thypoid penyebab tipes, maka antibodi terhadap bakteri itu bisa bertahan dua tahun. Sehingga selama dua tahun itu mestinya orang tersebut nggak kena tipes lagi. Bagi orang yang fisiknya kuat, bisa sampai lima tahun. Walaupun memang dalam tes widal hasilnya positif, tapi itu bukan tipes. Jadi selama ini banyak yang salah kaprah, setahun sampai tipes dua kali, apalagi sampai opnam. Itu biar rumah sakitnya penuh saja. Kemungkinan hanya demam biasa.”

“Haah?”

“Iya Mas. Kalaupun tipes, nggak perlu dirawat di rumah sakit sebenarnya. Asalkan dia masih bisa minum, cukup istirahat di rumah dan minum obat tipes. Sembuh sudah. Dulu, pernah di RS Sardjito, saya anjurkan agar belasan pasien tipes yang nggak mampu, nggak punya asuransi, rawat jalan saja. Yang penting tetep konsumsi obat dari saya, minum yang banyak, dan tiap hari harus cek ke rumah sakit, biayanya gratis. Mereka nurut. Itu dalam waktu maksimal empat hari sudah pada sembuh. Sedangkan pasien yang dirawat inap, minimal baru bisa pulang setelah satu minggu, itupun masih lemas.”

“Tapi ‘kan pasien harus bedrest, Pak?”

“Ya ‘kan bisa di rumah.”

“Tapi kalau nggak pakai infus ‘kan lemes terus Pak?”

“Nah situ nggak yakin sih. Saya yakinkan pasien bahwa mereka bisa sembuh. Asalkan mau nurut dan berusaha seperti yang saya sarankan itu. Lagi-lagi saya bilang, kekuatan keyakinan itu luar biasa lho, Mas.”

Dahiku berkernyit. Menunggu lanjutan cerita.

“Dulu,” lanjut Pak Paulus, “Ada seorang wanita kena kanker payudara. Sebelah kanannya diangkat, dioperasi di Sardjito.
Nggak lama, ternyata payudara kirinya kena juga. Karena nggak segera lapor dan dapat penanganan, kankernya merembet ke paru-paru dan jantung. Medis di Sardjito angkat tangan.

Dia divonis punya harapan hidup maksimal hanya empat bulan.”

“Lalu, Pak?” tanyaku antusias.

“Lalu dia kesini ketemu saya. Bukan minta obat atau apa.
Dia cuma nanya; ‘Pak Paulus, saya sudah divonis maksimal empat bulan.

Kira-kira bisa nggak kalau diundur jadi enam bulan?’

Saya heran saat itu, saya tanya kenapa.

Dia bilang bahwa enam bulan lagi anak bungsunya mau nikah, jadi pengen ‘menangi’ momen itu.”

“Waah.. Lalu, Pak?”

“Ya saya jelaskan apa adanya. Bahwa vonis medis itu nggak seratus persen, walaupun prosentasenya sampai sembilan puluh sembilan persen,
tetap masih ada satu persen berupa kepasrahan kepada Tuhan yang bisa mengalahkan vonis medis sekalipun.
Maka saya bilang; sudah Bu, situ nggak usah mikir bakal mati empat bulan lagi.
Justru situ harus siap mental, bahwa hari ini atau besok situ siap mati.
Kapanpun mati, siap!
Begitu, situ pasrah kepada Tuhan, siap menghadap Tuhan kapanpun. Tapi harus tetap berusaha bertahan hidup.”

Aku tambah melongo. Tak menyangka ada nasehat macam itu.
Kukira ia akan memotivasi si ibu agar semangat untuk sembuh, malah disuruh siap mati kapanpun.
O iya, mules mual dan berbagai sensasi ketidaknyamanansudah tak kurasakan lagi.

“Dia mau nurut. Untuk menyiapkan mental siap mati kapanpun itu dia butuh waktu satu bulan.
Dia bilang sudah mantap, pasrah kepada Tuhan bahwa dia siap.
Dia nggak lagi mengkhawatirkan penyakit itu, sudah sangat enjoy.
Nah, saat itu saya cuma kasih satu macam obat. Itupun hanya obat anti mual biar dia tetap bisa makan dan punya energi untuk melawan kankernya.

Setelah hampir empat bulan, dia check-up lagi ke Sardjito dan di sana dokter yang meriksa geleng-geleng. Kankernya sudah berangsur-angsur hilang!”

“Orangnya masih hidup, Pak?”

“Masih. Dan itu kejadian empat belas tahun lalu.”

“Wah, wah, wah..”

“Kejadian itu juga yang menjadikan saya yakin ketika operasi jantung dulu.”

“Lhoh, njenengan pernah Pak?”

“Iya.
Dulu saya operasi bedah jantung di Jakarta. Pembuluhnya sudah rusak. Saya ditawari pasang ring.

Saya nggak mau. Akhirnya diambillah pembuluh dari kaki untuk dipasang di jantung.

Saat itu saya yakin betul sembuh cepat. Maka dalam waktu empat hari pasca operasi, saya sudah balik ke Jogja, bahkan dari bandara ke sini saya nyetir sendiri.
Padahal umumnya minimal dua minggu baru bisa pulang.
Orang yang masuk operasi yang sama bareng saya baru bisa pulang setelah dua bulan.”

Pak Paulus mengisahkan pengalamannya ini dengan mata berbinar. Semangatnya meluap-luap hingga menular ke pasiennya ini. Jujur saja, penjelasan yang ia paparkan meningkatkan harapan sembuhku dengan begitu drastis.

Persis ketika dua tahun lalu pada saat ngobrol dengan Bu Anung tentang pola makan dan kesehatan. Semangat menjadi kembali segar!

“Tapi ya nggak cuma pasrah terus nggak mau usaha.
Saya juga punya kenalan dokter,” lanjutnya,
“Dulu tugas di Bethesda, aslinya Jakarta, lalu pindah mukim di Tennessee, Amerika.

Di sana dia kena kanker stadium empat. Setelah divonis mati dua bulan lagi, dia akhirnya pasrah dan pasang mental siap mati kapanpun.

Hingga suatu hari dia jalan-jalan ke perpustakaan, dia baca-baca buku tentang Afrika.
Lalu muncul rasa penasaran, kira-kira gimana kasus kanker di Afrika.
Dia cari-cari referensi tentang itu, nggak ketemu. Akhirnya dia hubungi kawannya, seorang dokter di Afrika Tengah.

Kawannya itu nggak bisa jawab.
Lalu dihubungkan langsung ke kementerian kesehatan sana. Dari kementerian, dia dapat jawaban mengherankan, bahwa di sana nggak ada kasus kanker.
Nah dia pun kaget, tambah penasaran.”

Pak Paulus jeda sejenak. Aku masih menatapnya penuh penasaran juga, “Lanjut, Pak,” benakku.

“Beberapa hari kemudian dia berangkat ke Afrika Tengah.
Di sana dia meneliti kebiasaan hidup orang-orang pribumi. Apa yang dia temukan?
Orang-orang di sana makannya sangat sehat.
Yaitu sayur-sayuran mentah, dilalap, nggak dimasak kayak kita.

Sepiring porsi makan itu tiga perempatnya sayuran, sisanya yang seperempat untuk menu karbohidrat. Selain itu, sayur yang dimakan ditanam dengan media yang organik. Pupuknya organik pake kotoran hewan dan sisa-sisa tumbuhan.

Jadi ya betul-betul sehat.
Nggak kayak kita, sudah pupuknya pakai yang berbahaya, eh pakai dimasak pula. Serba salah kita.

Bahkan beras merah dan hitam yang sehat-sehat itu, kita nggak mau makan.
Malah kita jadikan pakan burung, ya jadinya burung itu yang sehat, kitanya sakit-sakitan.”

Keterangan ini mengingatkanku pada obrolan dengan Bu Anung tentang sayur mayur, menu makanan serasi, hingga beras sehat. Pas sekali.

“Nah dia yang awalnya hanya ingin tahu, akhirnya ikut-ikutan.

Dia tinggal di sana selama tiga mingguan dan menalani pola makan seperti orang-orang Afrika itu.”

“Hasilnya, Pak?”

“Setelah tiga minggu, dia kembali ke Tennessee.

Dia mulai menanam sayur mayur di lahan sempit dengan cara alami.
Lalu beberapa bulan kemudian dia check-up medis lagi untuk periksa kankernya,”

“Sembuh, Pak?”

“Ya! Pemeriksaan menunjukkan kankernya hilang.
Kondisi fisiknya berangsur-angsur membaik. Ini buki bahwa keyakinan yang kuat, kepasrahan kepada Tuhan, itu energi yang luar biasa.

Apalagi ditambah dengan usaha yang logis dan sesuai dengan fitrah tubuh.

Makanya situ nggak usah cemas, nggak usah takut..”

Takjub, tentu saja.

Pada momen ini Pak Paulus menghujaniku dengan pengalaman-pengalamannya di dunia kedokteran, tentang kisah-kisah para pasien yang punya optimisme dan pasien yang pesimis.

Aku jadi teringat kisah serupa yang menimpa alumni Madrasah Huffadh Al-Munawwir, pesantren tempatku belajar saat ini.

Singkatnya, santri ini mengidap tumor ganas yang bisa berpindah-pindah benjolannya.

Ia divonis dokter hanya mampu bertahan hidup dua bulan. Terkejut atas vonis ini, ia misuh-misuh di depan dokter saat itu.
Namun pada akhirnya ia mampu menerima kenyataan itu.

Ia pun bertekad menyongsong maut dengan percaya diri dan ibadah. Ia sowan ke Romo Kiai, menyampaikan maksudnya itu.

Kemudian oleh Romo Kiai, santri ini diijazahi (diberi rekomendasi amalan)
Riyadhoh Qur’an, yakni amalan membaca Al-Quran tanpa henti selama empat puluh hari penuh, kecuali untuk memenuhi hajat dan kewajiban primer.

Riyadhoh pun dimulai. Ia lalui hari-hari dengan membaca Al-Quran tanpa henti.

Persis di pojokan aula Madrasah Huffadh yang sekarang. Karena merasa begitu dingin, ia jadikan karpet sebagai selimut.

Hari ke tiga puluh, ia sering muntah-muntah, keringatnya pun sudah begitu bau.

Bacin, mirip bangkai tikus,kenang narasumber yang menceritakan kisah ini padaku. Hari ke tiga puluh lima, tubuhnya sudah nampak lebih segar, dan ajaibnya; benjolan tumornya sudah hilang.

Selepas rampung riyadhoh empat puluh hari itu, dia kembali periksa ke rumah sakit di mana ia divonis mati.

Pihak rumah sakit pun heran.
Penyakit pemuda itu sudah hilang, bersih, dan menunjukkan kondisi vital yang sangat sehat!

Aku pribadi sangat percaya bahwa gelombang yang diciptakan oleh ritual ibadah bisa mewujudkan energi positif bagi fisik.

Khususnya energi penyembuhan bagi mereka yang sakit.

Memang tidak mudah untuk sampai ke frekuensi itu, namun harus sering dilatih. Hal ini diiyakan oleh Pak Paulus.

“Untuk melatih pikiran biar bisa tenang itu cukup dengan pernapasan.

Situ tarik napas lewat hidung dalam-dalam selama lima detik, kemudian tahan selama tiga detik. Lalu hembuskan lewat mulut sampai tuntas. Lakukan tujuh kali setiap sebelum Shubuh dan sebelum Maghrib.

Itu sangat efektif. Kalau orang pencak, ditahannya bisa sampai tuuh detik.
Tapi kalau untuk kesehatan ya cukup tiga detik saja.”

Nah, anjuran yang ini sudah kupraktekkan sejak lama. Meskipun dengan tata laksana yang sedikit berbeda.

Terutama untuk mengatasi insomnia. Memang ampuh. Yakni metode empat-tujuh-delapan.

Ketika merasa susah tidur alias insomnia, itu pengaruh pikiran yang masih terganggu berbagai hal.

Maka pikiran perlu ditenangkan, yakni dengan pernapasan.
Tak perlu obat, bius, atau sejenisnya, murah meriah.

Pertama, tarik napas lewat hidung sampai detik ke empat, lalu tahan sampai detik ke tujuh, lalu hembuskan lewat mulut pada detik ke delapan. Ulangi sebanyak empat sampai lima kali.

Memang iya mata kita tidak langsung terpejam ngantuk, tapi pikiran menadi rileks dan beberapa menit kemudian tanpa terasa kita sudah terlelap.
Awalnya aku juga agak ragu, tapi begitu kucoba, ternyata memang ampuh. Bahkan bagi yang mengalami insomnia sebab rindu akut sekalipun.

“Gelombang yang dikeluarkan oleh otak itu punya energi sendiri, dan itu bergantung dari seberapa yakin tekad kita dan seberapa kuat konsentrasi kita,” terangnya,

“Jadi kalau situ sholat dua menit saja dengan khusyuk, itu sinyalnya lebih bagus ketimbang situ sholat sejam tapi pikiran situ kemana-mana, hehehe.”

Duh, terang saja aku tersindir di kalimat ini.

“Termasuk dalam hal ini adalah keampuhan sholat malam.

Sholat tahajud. Itu ketika kamu baru bangun di akhir malam, gelombang otak itu pada frekuensi Alpha. Jauh lebih kuat daripada gelombang Beta yang teradi pada waktu Isya atau Shubuh.
Jadi ya logis saja kalau doa di saat tahajud itu begitu cepat ‘naik’ dan terkabul. Apa yang diminta, itulah yang diundang.
Ketika tekad situ begitu kuat, ditambah lagi gelombang otak yang lagi kuat-kuatnya, maka sangat besar potensi terwujud doa-doa situ.”

Tak kusangka Pak Paulus bakal menyinggung perihal sholat segala.  Aku pun ternganga. Ia menunjukkan sampul buku tentang ‘enzim panjang umur’.

“Tubuh kita ini, Mas, diberi kemampuan oleh Allah untuk meregenerasi sel-sel yang rusak dengan bantuan enzim tertentu, populer disebut dengan enzim panjang umur.  Secara berkala sel-sel baru terbentuk, dan yang lama dibuang.
Ketika pikiran kita positif untuk sembuh, maka yang dibuang pun sel-sel yang terkena penyakit.

Menurut penelitian, enzim ini bisa bekerja dengan baik bagi mereka yang sering merasakan lapar dalam tiga sampai empat hari sekali.”

Pak Paulus menatapku, seakan mengharapkan agar aku menyimpulkan sendiri.

“Puasa?”
“Ya!”
“Senin-Kamis?”

“Tepat sekali! Ketika puasa itu regenerasi sel berlangsung dengan optimal.

Makanya orang puasa sebulan itu juga harusnya bisa jadi detoksifikasi yang ampuh terhadap berbagai penyakit.”

Lagi-lagi,aku manggut-manggut.

Tak asing dengan teori ini.

“Pokoknya situ harus merangsang tubuh agar bisa menyembuhkan diri sendiri.

Jangan ketergantungan dengan obat. Suplemen yang nggak perlu-perlu amat,nggak usahlah. Minum yang banyak, sehari dua liter, bisa lebih kalau situ banyak berkeringat, ya tergantung kebutuhan.

Tertawalah yang lepas, bergembira, nonton film lucu tiap hari juga bisa merangsang produksi endorphin, hormon kebahagiaan. Itu akan sangat mempercepat kesembuhan.

Penyakit apapun itu! Situ punya radang usus kalau cemas dan khawatir terus ya susah sembuhnya.

Termasuk asam lambung yang sering kerasa panas di dada itu.”

Terus kusimak baik-baik anjurannya sambil mengelus perut yang tak lagi terasa begah. Aneh.

“Tentu saja seperti yang saya sarankan, situ harus teratur makan, biar asam lambung bisa teratur juga.

Bangun tidur minum air hangat dua gelas sebelum diasupi yang lain.

Ini saya kasih vitamin saja buat situ, sehari minum satu saja. Tapi ingat, yang paling utama adalah kemantapan hati, yakin, bahwa situ nggak apa-apa. Sembuh!”

Begitulah. Perkiraanku yang tadinya bakal disangoni berbagai macam jenis obat pun keliru.

Hanya dua puluh rangkai kaplet vitamin biasa, Obivit, suplemen makanan yang tak ada ?;kaitannya dengan asam lambung apalagi GERD.

Hampir satu jam kami ngobrol di ruang praktek itu, tentu saja ini pengalaman yang tak biasa. Seperti konsultasi dokter pribadi saja rasanya.

Padahal saat keluar, kulihat masih ada dua pasien lagi yang kelihatannya sudah begitu jengah menunggu.

“Yang penting pikiran situ dikendalikan, tenang dan berbahagia saja ya,” ucap Pak Paulus sambil menyalamiku ketika hendak pamit.

Dan jujur saja, aku pulang dalam keadaan bugar, sama sekali tak merasa mual, mules, dan saudara-saudaranya.

Terima kasih Pak Paulus.

Kadipiro Yogyakarta, 2016

Dari wordpress GUBUGREOT

#copas

Hawa

sumber : Anonim
Saudara dan saudari kaum Muslimin dan Muslimat, renungan khususnya untuk para wanita.(HAWA) Sayidina Ali R.A menceritakan suatu ketika melihat Rasulullah saw menangis mankala ia datang bersama Fatimah. Lalu keduanya bertanya mengapa Rasulullah saw, mengapa beliau menangis.

Beliau menjawab, "Pada malam aku di isra'kan, aku melihat perempuan-perempuan yang sedang disiksa dengan berbagai siksaan. Itulah sebabnya mengapa aku menangis. Karena, menyaksikan mereka yang sangat berat dan mengerikan siksanya." Putri Rasulullah saw kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya.

Rasulullah saw menjawab "Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih.

Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya.

Aku lihat perempuan tergantung kedua kakinya dengan terikat tangannya sampai ke ubun-ubunnya, diulurkan ular dan kala jengking.

Dan aku lihat perempuan yang memakan badannya sendiri, di bawahnya dinyalakan api neraka. Serta aku lihat perempuan yang bermuka hitam, memakan tali perutnya sendiri. Aku lihat perempuan yang telinganya pekak dan matanya buta, dimasukkan ke dalam peti yang dibuat dari api neraka, otaknya keluar dari lubang hidung, badannya berbau busuk karena penyakit sopak dan kusta.

Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar, beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya.

Aku lihat perempuan yang rupanya seperti (maaf) anj**g, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malikat memukulnya dengan pentung dari api neraka,"

Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan, "Mengapa mereka disiksa seperti itu?"

*Rasulullah menjawab, "Wahai putriku, Adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya.

Perempuan yang digantung (maaf) p*y*d*r* adalah isteri yang 'mengotori' tempat tidurnya.

Perempuan yang tergantung kedua kakinya ialah perempuan yang tidak taat kepada suaminya, ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas.

Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah karena ia berhias untuk lelaki yang bukan muhrimnya dan suka mengumpat orang lain.

Perempuan yang memotong sendiri dengan gunting api neraka karena ia memperkenalkan dirinya kepada orang yang kepada orang lain bersolek dan berhias supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan muhrimnya.

Perempuan yang diikat kedua kaki dan tangannya ke atas ubun-ubunnya diulurkan ular dan kalajengking padanya karena dia meninggalkan sholat dan tidak mau mandi junub.

Perempuan yang kepalanya seperti babi dan badannya seperti himar ialah tukang umpat dan pendusta. Perempuan yang menyerupai anjingialah perempuan yang suka memfitnah dan membenci suami."

Mendengar itu, Sayidina Ali dan Fatimah Az-Zahra pun turut menangis. Dan inilah peringatan kepada kaum perempuan.