Selasa, 11 Juli 2017

novel Bintang part 4

*Si Kembar -- spin off Serial BINTANG

**episode 4

ILY terbang cepat menuju selatan.
Aku sudah beberapa kali menaiki ILY di klan Bumi. Tapi itu selalu menyenangkan. Hamparan persawahan terlihat di bawah sana. Juga gunung-gunung. Sungai terlihat mengukir daratan. Gumpalan awan seperti kapas mengambang.
“Kenapa ada banyak balon udara?” Seli menatap sekitar.
Seli benar. Ada banyak balon udara di sekitar kami.
“Ini minggu-minggu perayaan besar, Seli. Penduduk setempat menerbangkan balon udara sebagai tanda syukur.” Ali yang menjawab.
“Kenapa balon udara bisa terbang setinggi ini?”
“Itu karena mereka sekarang menggunakan gas. Jika hanya lampion atau balon udara dengan tenaga minyak tanah, itu tidak akan terbang setinggi ini.”
“Balon-balon ini bisa mengganggu jalur penerbangan pesawat komersil bukan?”
“Tentu saja. Balon-balon dengan tenaga gas ini membahayakan pesawat, bisa terbang hingga 10.000-12.000 meter. Itu terlarang. Yang boleh diterbangkan hanya lampion atau balon udara tradisional. Tapi kita tidak akan membahas soal balon udara, kita bukan juru bicara Kementerian Perhubungan, Seli. Kita akan tiba di lokasi pintu kamuflase beberapa detik lagi. Bersiap.”
ILY sudah tiba di atas lautan. Terus bergerak ke selatan.
Beberapa detik, kapsul perak yang kami tumpangi menurunkan ketinggian, mengambang dua puluh meter dari permukaan laut. Jarak kami dengan daratan sekitar sepuluh kilometer. Tidak ada siapa-siapa atau benda apapun di sana.
Apakah pintu menuju candi bawah tanah itu ada di dalam lautan?
“Lorong menuju candi itu ada di bawah sana. Di kedalaman 1.200 meter.” ILY yang menjawab.
“Apalagi yang kamu tunggu? Kita langsung masuk ke dalam sana, ILY!” Ali berseru.
ILY tidak bergerak.
“Aku tidak menyarankan itu, Ali.”
“Kamu sudah didesain untuk menyelam di dalam lautan, ILY. Bisa melesat cepat tanpa masalah. Apa yang kamu cemaskan?”
“Itu bukan keputusan yang bijak, Ali. Kalian seharusnya memberitahu Av atau Miss Selena untuk perjalanan kategori ini. Keselamatan adalah hal utama.” ILY tetap mengambang.
“Tidak perlu.” Ali menggeleng.
“Aku akan mengaktifkan pemberitahuan ke Kota Tishri, memberitahu Av tentang perjalanan ini. Agar jika terjadi apa-apa, ada yang bisa membantu.”
Ali menepuk dahinya, “Lihat, dia sama cerewetnya dengan Ily dulu, bukan?”
“Aku tidak cerewet, Ali. Aku menilai situasi—“
“Baiklah, aku akan mengambil-alih mode otomatis sejenak.” Ali menekan beberapa tombol di panel kemudi, lantas memegang tuas. Suara ILY menghilang.
Kapsul perak meluncur ke bawah.
Tidak ada yang akan menghentikan Ali sekarang, tidak meskipun wajah Seli terlihat cemas. 
“Aku seharusnya tidak memasukkan fitur cerewet itu di ILY.” Ali nyengir. Kapsul perak mulai menerobos permukaan laut, bergerak tanpa hambatan, langsung menyelam.
Aku belum pernah menaiki kapsul perak ini di dalam air. Ini pemandangan yang keren. Kami bisa menyaksikan sekawanan ikan melintas dari dinding transparan ILY. Juga ikan pari besar. Ubu-ubur. Kapsul perak terus meluncur ke bawah.
Bagian lautan yang ini seperti jurang dalam tanpa dasar, setelah beberapa ratus meter menyelam, sekitar kami terlihat gelap. Ali menekan tombol, menyalakan lampu, menerangi depan.
“Apakah pintu lorong itu akan ada penjaganya, Ali?” Seli bertanya. Terakhir kami masuk ke lorong seperti ini, ada dua ekor ular besar yang menunggu. Mencegah kami masuk.
“Boleh jadi.” Ali menjawab santai. Si Biang Kerok ini selalu santai, ini hanya dianggap karya wisata olehnya—yang lebih seru dibanding menatap relief candi dan mendengar ceramah Bu Ati.
Seli mengambil tasnya, mengeluarkan Sarung Tangan Matahari, dia mengenakannya. Bersiap. Sarung tangan itu langsung beradaptasi dengan pemakainya. Menyesuaikan warna dan tekstur, seolah tidak ada sarung tangan di sana. Meneladani Seli, aku juga ikut mengeluarkan Sarung Tangan Bulan. Kami harus berjaga-jaga dari kemungkinan buruk. Sarung tangan ini adalah senjata terbaik milik petarung dunia paralel.
“Kamu tidak membawa Sarung Tangan Bumi-mu, Ali?” Seli bertanya lagi.
“Aku bahkan tidak pernah melepasnya sejak pertama kali memakainya.” Ali nyengir, mengangkat tangannya. Hanya mata setajam Faar yang bisa melihat sarung tangan dunia paralel saat dikenakan. Di mata orang kebanyakan, Ali tidak terlihat mengenakan apapun.
“Bahkan mandi sekalipun?”
“Iya. Buat apa aku lepas?”
“Bahkan saat di toilet?”
“Iya.”
“Dan setelah itu makan? Tetap tidak dilepas?”
“Iya.”
“Itu jorok sekali, Ali.” Seli menatap jerih.
“Hei, apanya yang jorok?” Ali tertawa, “Sarung tangan ini memiliki teknologi bisa membersihkan sendiri. Dia lebih higienis dibanding cuci tangan sebelum makan. Aku bahkan mengupil dengan sarung tangan tetap terpasang. Kamu belum mencobanya.”
Seli menggeleng, jijik.
Astaga? Aku menatap dua teman baikku itu. Lihatlah, mereka asyik sekali bicara tentang mengupil saat kapsul perak kami terus menyelam menembus kegelapan dasar lautan. Entah apa yang dipikirkan Seli, dia tidak harus meladeni Ali soal begini.
ILY mulai melambat.
“Kita hampir sampai.” Ali memberitahu.
Tanpa diberitahu aku bisa melihatnya, meski gelap, layar besar di depan kami menunjukkan pencitraan sensor canggih, menampilkan bentuk tiga dimensi. Kami telah tiba di dasar lautan. Ada dinding tinggi di depan kami. Dengan gerbang besar. Aku menahan nafas saat cahaya lampu ILY menyinari gerbang itu. Tingginya hampir empat puluh meter, terbuat dari batu pualam. Di sisi kiri dan kanan gerbang itu nampak dua patung gajah berukuran besar. Itu bukan gajah biasa, patung itu berdiri dengan dua kaki, dua tangannya memegang tombak perak. Itu tidak mirip gajah, itu seperti monster manusia dengan kepala gajah, atau dewa-dewa berkepala gajah. Seolah menjaga gerbang dari siapapun yang hendak masuk.
Tapi ILY terus bergerak maju. Melintasinya.
Seli ikut menahan nafas mendongak menatap patung monster yang menyambut kami. Menyeramkan melihatnya.
Melewati gerbang tersebut, kami persis memasuki lorong panjang. Ukurannya empat kali lebih lebar dibanding lorong-lorong kuno Klan Bintang, dengan diameter dua puluh meter. Terendam air.
Ali konsentrasi penuh mengendalikan ILY, lorong ini terus menanjak ke atas dengan kemiringan tertentu, menuju utara, kembali ke titik candi sebelumnya, lima puluh kilometer di depan sana. Dinding lorong yang seperti pipa raksasa itu terlihat masih baik. Dengan relief-relief berbentuk simetris. Tidak ada ikan atau hewan laut yang terlihat di dalam lorong.
Ali menekan tuas kemudi, ILY melaju lebih cepat di dalam lorong.
Atmosfer petualangan tercium pekat. Apapun yang menunggu kami di ujung lorong ini, kami akan tahu beberapa menit lagi.

*bersambung tere liye

***spin off itu memang pendek-pendek, kalau satu episode panjang, itu jadinya naskah novel. harap bersabar :

novel Bintang part 3

*Si Kembar -- spin off Serial BINTANG

**episode 3

“ILY?” Seli menatap Ali tidak mengerti, “Bukankah ILY tinggal di kota kita? Di basemen rumahmu?”
Ali menggeleng, menunjuk ke atas, “ILY ada di atas kepala kita sekarang, Seli. Terbang mengambang seratus meter. Aku mengaktifkan mode tidak terlihatnya—tentu saja. Kamu tidak usah cemas orang lain melihatnya, Ra.” Ali menjawab santai, menoleh padaku.
Seli menatap Ali—setengah tidak percaya.
“Aku memang memanggil ILY kalau itu pertanyaannya. Dia terbang beberapa menit lalu saat sensorku berbunyi. Dia hanya butuh tiga menit ke sini. Melesat cepat. Tenang saja, dia tidak akan menabrak pesawat, atau burung, ILY adalah benda terbang paling canggih di bumi.”
Si Jenius itu menyeringai lebar—seperti hendak bilang betapa jeniusnya dia.
Seli tertawa pelan—aku menyikut Seli, kenapa pula harus ‘memuji’ Ali.
“Bagaimana? Kalian ikut denganku memeriksa sesuatu itu? Dengan seluruh teknologi yang dimiliki ILY kita bisa masuk ke dalam candi tanpa terlihat.”
“Tapi kita tetap tidak bisa menghilang begitu saja dari rombongan, Ali. Bu Ati akan memeriksa.” Seli menoleh ke rombongan yang sudah jauh di atas anak tangga.
“Ibu Ati hanya akan berpikir kita tertinggal di belakang, Ra. Atau yang lebih keren lagi, Bu Ati menyangka kita sangat antusias, memeriksa sendiri relief candi. Dia tidak akan cemas. Ini lokasi wisata, siapapun bisa terpisah tidak sengaja.”
Aku mengusap wajah. Keberatan.
“Ayolah, Ra, Seli. Aku tidak tahu apakah sesuatu itu akan terus berada di dalam candi sana. Bagaimana jika sesuatu itu bergerak menghilang, kita kehilangan kesempatan memeriksanya.”
Aku menghembuskan nafas perlahan.
“Boleh jadi sesuatu itu penting, Ra. Dia memiliki jawaban atas pertanyaan kita.” Ali mendesakku.
Aku berpikir sejenak.
Baiklah.
Aku juga penasaran itu apa. Skala 10, itu terlihat menakutkan. Tapi sejak Si Tanpa Mahkota berhasil lolos dari Penjara Bayangan—dan kami-lah yang membuatnya lolos, tidak ada rumusnya lagi kami mengkhawatirkan banyak hal. Ini petualangan kami. Aku akan memenuhi takdirku sebagai pemegang Buku Kehidupan.
Aku mengangguk.
“Yes!” Ali mengepalkan tangannya, terlihat senang.
“Duuhh.” Seli mengeluh di saat yang bersamaan. Tapi Seli adalah Seli. Dia akan selalu bersama-sama kami kemanapun pergi meski terlihat keberatan.
“ILY turun!” Ali berkata pelan, memberi perintah.
Aku dan Seli tidak melihatnya, juga tidak mendengarnya, kapsul perak, teman perjalanan kami di Klan Bintang itu telah mendesing perlahan, turun ke arah kami, sekarang mengambang di antara stupa-stupa.
Ali melipat proyeksi transparan di tangannya, memasukkannya ke dalam saku celana. Dia juga kembali mengeluarkan “kaca mata” hitam, mengenakannya.
“ILY buka pintu!” Ali berkata pelan. Menatap ke depan.
Persis di depan sana ILY telah menunggu, membuka pintunya.
“Ikuti langkah kakiku, Ra, Seli.” Ali melangkah sambil menunjuk “kaca-mata”-nya, “Hanya aku yang bisa melihat ILY dengan mode menghilangnya. Sekali kita lompat ke dalam pintunya, kita bertiga langsung tak terlihat.”
Kami berhenti sejenak. Ada rombongan turis yang melintas.
Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa di dekat kami, Ali gesit lompat ke atas. Sekejap tubuhnya sudah menghilang di dalam. Seli menoleh kepadaku. Aku mengangguk mantap, menyemangati. Tanpa menunggu lagi, Seli ikut lompat naik. Tubuhnya juga menghilang. Aku menyusul cepat.
Interior kapsul perak itu langsung terlihat saat kami berada di dalamnya.
“Selamat datang di ILY Versi 5!” Juga suara yang menyapa.
Aku menoleh bingung. Itu bukan suara Ali. Itu siapa? Ada orang lain di dalam kapsul.
Ali tertawa, “Aku menambahkan banyak fitur baru di kapsul ini, Ra. Kapsul ini sekarang sempurna bisa berkomunikasi, termasuk dipanggil jarak jauh. Dia bisa bicara. Cerewet malah.”
“Itu tidak benar. Aku tidak cerewet.”
Astaga?
ILY bisa bicara sekarang? Dan itu sungguhan suara Ily dulu.
Seli sudah duduk di kursinya, memasang sabuk pengaman.
“Halo, ILY.” Wajah Seli terlihat membaik.
“Halo, Seli. Lama tidak berjumpa. Senang melihatmu semakin kuat.”
Seli mengangguk.
“Bagaimana? Bagaimana kamu memasukkan suara Ily ke dalam kapsul ini?” Aku menyikut Ali, ikut beranjak duduk.
“Itu mudah. Ali meminta database suaraku dari Akademi Bayangan di Klan Bulan. Ilo dan Vey mengijinkannya…. Hallo, Ra. Apa kabarmu?” Kapsul perak yang menjawab lebih dulu.
“Eh, kabarku baik.”
Aku menatap sekeliling interior. Ini aneh. Bagaimana mungkin kami sekarang bisa bicara dengan Ily—yang telah meninggal mengorbankan dirinya mencegah pintu Penjara Bayangan terbuka. Dia akan sempurna menemani kami seperti dulu, berpetualang di Klan Matahari.
“Ini seru, Ra!” Seli punya pendapat lain.
“Yeah!” Ali tertawa pelan, “Kita berangkat sekarang.”
Aku buru-buru mengenakan sabuk pengaman.
“ILY terbang mengambang lima puluh meter di atas candi.” Ali berseru mantap.
Kapsul perak yang kami naiki mendesing pelan, terbang dengan mudah menuju ketinggian.
“Aktifkan sensor, ILY! Radius seratus kilometer di bawah tanah.”
Layar besar di depan kami menyala. Candi di bawah sana terlihat di tengah layar, berupa model empat dimensi, di bawahnya, mulai menyulam tekstur perut bumi. Aku dan Seli memperhatikan. Setengah menit, tidak ada apa-apa di layar, hanya tanah kosong.
“Tentu saja tidak ada apa-apa.” Ali mengangguk, “Tidak ada teknologi Klan Bintang, Klan Matahari apalagi Klan Bumi yang bisa mendeteksinya. Jika itu bisa dilakukan, sejak dulu arkeologi bumi sudah menemukannya. Sesuatu di bawah sana memiliki tameng penangkal. Baik, aktifkan sensor SuperRaib. Kekuatan penuh, ILY!”
“Sensor apa?” Seli bertanya duluan.
Ali nyengir, “Sensor SuperRaib.”
ILY yang kami naiki mendesing kencang. Seperti mengeluarkan seluruh tenaganya. Layar di depan kami berubah. Di bawah candi mulai terbentuk garis-garis merah. Sensor mulai menangkap sesuatu.
“Raib bisa bicara dengan alam, begitulah…. Aku terinspirasi dengan hal itu. Jadi kunamakan sensor paling kuat ILY dengan nama tersebut. Bedanya, sensor ILY lebih masuk akal, bukan sihir, menggunakan gabungan teknologi tiga Klan sekaligus, lebih canggih dibanding sensor milik Pasukan Bintang. Aku juga tidak perlu menempelkan kuping ke tanah, bertanya, ‘halo, ada siapa di dalam sana?’.”
Seli tertawa pelan. Ali bergurau.
Tapi itu tidak lucu. Jika saja situasinya berbeda, aku hampir menjitak kepala Ali. Dia sejak dulu selalu menganggap remeh teknik tersebut, mengolok-oloknya. Tapi gerakan tanganku terhenti.
“Lihat!” Ali menunjuk.
“Itu apa?” Seli termangu.
Layar besar di dalam kapsul selesai melukis sesuatu.
“Itu candi. Sepuluh kali lebih besar.” Aku menatap layar.
Ini sangat mengejutkan. Persis di bawah candi yang terkenal itu, berjarak lima puluh kilometer di perut bumi, ada candi besar dalam ruangan kubus besar. Modelnya terlihat jelas di layar. Lebih megah, lebih menakjubkan. Simetris delapan sisi. Stupa-stupa raksasa terlihat menakjubkan.
“Siapa yang membangun candi di perut bumi?” Seli bertanya pelan.
Aku menggeleng. Entah siapa yang membuatnya, itu bukan pekerjaan penduduk bumi. Teknologi itu hanya dimiliki Klan Bintang. Tapi bagaimana mungkin bentuk bangunannya seperti candi? Tidak ada bangunan itu di Klan Bintang.
“Apakah kamu menemukan lorong menuju candi itu, ILY?” Ali berseru.
“Sensorku menemukan pintu kamuflase di sisi selatan, Ali. Delapan puluh kilometer dari sini. Ada lorong menuju persis ke jantung candi di bawah tanah.”
“Bagus sekali, ILY, kita menuju ke sana.”
“Tapi aku harus mengingatkan kalian.” ILY belum bergerak, meski Ali sudah menyuruh.
“Apa?”
“Lorong itu lebih tua dibanding lorong kuno Klan Bintang.”
“Lebih tua dari apa?” Seli bertanya cemas.
“Lorong itu boleh jadi berbahaya.”
“Berbahaya!” Seli menepuk dahi.
“Tidak masalah. Segera berangkat, ILY!” Ali memotong.
Kapsul perak mendesing pelan, sekejap, sudah melenting menuju selatan. Meninggalkan keramaian di candi Borobudur. Tempat Ibu Ati dan empat pulih murid sekolahku sedang karya wisata. Tempat ribuan turis sedang asyik mengambil selfie, menikmati pemandangan.
Mereka tidak punya ide sama sekali, di bawah candi ini, ada candi dengan ukuran sepuluh kali lebih besar, dan ada sesuatu dengan kekuatan besar dunia paralel di sana.

*bersambung tere liye

SEDIH itu

Banyak orang yang pusing tujuh keliling karena kehilangan sesuatu. Ada yang bingung karena kehilangan jabatan, ada pula yang bingung karena kehilangan harta, sebagaimana ada pula yang pusing karena kehilangan harga diri. Ada yang gelisah karena kehilangan anggota keluarganya dan ada pula yang gelisah karena kehilangan relasi.

Rata-rata mereka yang kehilangan akan bersedih. Yang merasa akan kehilangan saja sudah mulai bersedih walau sesungguhnya kekhawatiran kehilangan itu belum tentu terjadi. Jadi sesungguhnya manusia itu banyak dipermainkan oleh pola pandang dan perasaannya sendiri. Lalu bagaimana mengatasi perasaan sedih seperti itu?

Para pakar psikologi agama menyatakan bahwa kita merasa kehilangan itu adalah karena kita merasa memiliki sesuatu. Siapapun yang memiliki sesuatu memang berpotensi untuk kehilangan. Maka cara terbaik dan terjitu menghindar dari rasa kehilangan adalah dengan menghilangkan rasa memiliki.

Dari sinilah kita memahami pentingnya pemahaman kalimat "innaa lillaah" yang bermakna bahwa kita adalah milik Allah.  Dari sini pulalah kita merasakan pentingnya meyakini bahwa semuanya adalah milik Allah, baik yang ada ataupun yang akan ada, yang nyata dan yang tidak nyata. Kalau semuanya adalah milik Allah, lalu mengapa kita merasa kehilangan?

Jangan sedih jika sebagian nikmat dicabut Allah dari kita. Toh memang semuanya milik Allah, bukan milik kita. Bisakah dan mampukah kita? Harus berusaha terus, agar tak sedih karena merasakan kehilangan. Salam, AIM

Senin, 10 Juli 2017

Zona Waktu

*Refleksi yg smg bermanfaat agar kita makin mensyukuri berbagai nikmatNYA*

Papua 2 jam lebih awal dari Jakarta, Tapi tidak berarti Jakarta lambat, atau Papua cepat. Keduanya bekerja sesuai "Zona Waktu"nya masing-masing.

Ada orang yg masih sendiri. Ada yg nikah sudah beberapa kali. Ada orang yg menikah dan hrs menunggu 10 tahun utk memiliki momongan. Ada juga yang memiliki momongan dalam setahun usia pernikahannya.

Ada orang yg lulus kuliah di usia 22th, tapi menunggu 5 tahun utk mendapatkan pekerjaan tetap; yang lainnya lulus di usia 27th dan langsung bekerja.

Seseorang menjadi CEO di usia 25 dan meninggal di usia 50 saat yg lain menjadi CEO di usia 50 dan hidup hingga usia 90th.

Setiap orang bekerja sesuai "Zona Waktu"nya masing-masing.

Seseorang bisa mencapai banyak hal dengan kecepatannya masing-masing.
Bekerjalah sesuai "Zona Waktu" kita.

Kolega kita teman-teman, adik kelas kita mungkin "tampak" lebih maju. Mungkin yang lainnya "tampak" di belakang kita.

Setiap orang di dunia ini berlari di perlombaannya sendiri2, jalurnya sendiri2, dlm waktunya masing-masing. Allah punya rencana berbeda untuk masing-masing orang. Waktu berbeda utk setiap orang.

Obama pensiun dari presiden di usia nya yg ke 55, dan Trump menjadi presiden di usianya ke 70.

Jangan iri kepada mereka atau mengejeknya...

Itu "Zona Waktu" mereka.
Kita pun berada di "Zona Waktu" kita sendiri!

Kita tidak terlambat. Kita tidak lebih cepat. Kita punya zona waktu sendiri.

*Yg penting terus berusaha dan berkarya yg terbaik sehingga rencana2 indah Allah SWT atas hidup kita terjadi.*
*_Allah SWT pasti membuat semuanya indah pada waktunya....._*

Selamat menikmati waktunya Allah SWT...

selamat berlibur...semoga sesuatu akan indah pada waktu nya....

slogan hidup

*_Sekedar mengingat hafalan yg musnah ditelan zaman._*

1. مَنْ جَدَّ وَجَدَ
2. مَنْ سَارَ عَلَى الدَّرْبِ وَصَلَ
3. مَن صَبَرَ ظَفِرَ
4. مَنْ قَلَّ صِدْقُهُ قَلَّ صَدِيْقُهُ
5. جَالِسْ أَهْلَ الصِدْقِ وَالوَفَاءِ
6. مَوَدَّةُ الصَّدِيْقِ تَظْهَرُ وَقْتَ الضِّيْقِ
7. وَمَااللَّذَّةُ إِلاَّ بَعْدَ التَّعَبِ
8. الصَّبْرُ يُعِيْنُ عَلَى كُلِّ عَمَلٍ
9. جَرِّبْ وَلاَحِظْ تَكُنْ عَارِفًا
10. اطْلُبِ العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلىَ اللَّحْدِ
11. بَيْضَةُ اليَوْمِ خَيْرٌ مِنْ دَجَاجَةِ الغَدِ
12. الوَقْتُ أَثْمَنُ مِنَ الذَّهَبِ
13. العَقْلُ السَّلِيْمُ فىِ الجِسْمِ السَّلِيْمِ
14. خَيْرُ جَلِيْسٍ فىِ الزَّمَانِ كِتَابٌ
15. مَنْ يَزْرَعْ يَحْصُدْ
16. خَيْرُ الأَصْحَابِ مَنْ يَدُلُّكَ عَلَى الخَيْرِ
17. لَوْلاَ العِلْمُ لَكَانَ النَاسُ كَالبَهَائِمِ   
18. العِلْمُ فىِ الصِغَرِ كَالنَّقْشِ عَلَى الحَجَرِ
19. لَنْ تَرْجِعَ الأَيَّامُ الَّتِى مَضَتْ
20. تَعَلَّمَنْ صَغِيْرًا وَاعْمَلْ بِهِ كَبِيْرًا
21. العِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلاَ ثَمَرٍ
22. الاِتِّحَادُ أَسَاسُ النَّجَاحِ
23. لَا تَحْتَقِرْ مِسْكِيْنًا وَكُنْ لَهُ مُعِيْنًا
24. الشَرَفُ بِالأَدَبِ لَابِالنَّسَبِ
25. سَلَامَةُ الإِنْسَانِ فِى حِفْظِ اللِّسَانِ
26. آدَابُ المَرْءِ خَيْرٌ مِنْ ذَهَبِهِ
27. سُوْءُ الخُلُقِ يُعْدِى
28. آفَةُ العِلْمِ النِّسْيَانُ
29. إِذَا صَدَقَ العَزْمُ وَضَحَ السَّبِيْلُ
30. لَا تَحْتَقِرْ مَنْ دُوْنَكَ فَلِكُلِّ شَىءٍ مَزِيَّةٌ
31.أَصْلِحْ نَفْسَكَ يَصْلُحْ لَكَ النَّاسُ
32. فَكِّرْ قَبْلَ أَنْ تَعْزِمَ
33. مَنْ عَرَفَ بُعْدَ السَّفَرِ اِسْتَعَدَّ
34. مَنْ حَفَرَ حُفْرَةً وَقَعَ فِيْهَا
35. عَدُوٌّ عَاقِلٌ خَيْرٌ مِنْ صَدِيْقٍ جَاهِلٍ
36. مَنْ كَثُرَ إِحْسَانُهُ كَثُرَ إِخْوَانُهُ
37. اِجْهَدْ وَلَا تَكْسَلْ وَلَا تَكُ غَافِلًا  # فَنَدَامَةُ العُقْبَى لِمَنْ يَتَكَاسَلُ
38. لَا تُؤَخِّرْ عَمَلَكَ إِلَى الغَدِ مَاتَقْدِرُ أَنْ تَعْمَلَهُ اليَوْمَ
39. اُتْرُكِ الشَّرَّ يَتْرُكْكَ
40. خَيْرُ النَّاسِ اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَاَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
41. فِى التَّأَنِّى السَّلَامَةُ وَفِى العَجَلَةِ النَّدَامَةُ
42. ثَمْرَةُ التَفْرِيْطِ النَّدَامَةُ وَثَمْرَةُ الحَزْمِ السَلاَمَةُ
43. الرِّفْقُ بِالضَّعِيْفِ مِنْ خُلُقِ الشَّرِيْفِ
44. فَجَزَاءُ سَيَّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا
45. تَرْكُ الجَوَابِ عَلَى الجَاهِلَ جَوَابٌ
46. مَنْ عَذُبَ لِسَانُهُ كَثُرَ إِخْوَانُهُ
47. إِذَا تَمَّ العَقْلُ قَلَّ الْكَلَامُ
48. مَنْ طَلَبَ أَخًا بِلَا عَيْبٍ بَقِيَ بِلَا أَخٍ
49. قُلِ الحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا
50. خَيْرُ مَالِكَ مَا نَفَعَكَ
51. خَيْرُ الأُمُوْرِ أَوْسَطُهَا
52. لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ وَلِكُلِّ مَقَالٍ مَقَامٌ
53ِْ. إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
54. لَيْسَ العَيْبُ لِمَنْ كَانَ فَقِيْرًا بَلْ العَيْبُ لِمَنْ كَانَ بَخِيْلًا
55. لَيْسَ اليَتِيْمُ الَّذِى قَدْ مَاتَ وَالِدُهُ بَلْ اليَتِيْمُ يَتِيْمُ العِلْمِ وَالأَدَبِ
56. لِكُلِّ عَمَلٍ ثَوَابٌ وَلِكُلِّ كَلَامٍ جَوَابٌ
57. وَعَامِلِ النَّاسَ كَمَا تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلُوْكَ   
58ِ. هَلَكَ امْرُؤٌ لَمْ يَعْرِفْ قَدْرَهُ
59. رَأْسُ الذُّنُوْبِ الكَذِبُ
60. مَنْ ظَلَمَ ظُلِمَ
61. لَيْسَ الجَمَالُ بِأَثْوَابٍ تُزَيِّنُنَا إِنَّ الجَمَالَ جَمَالُ العِلْمِ وَالأَدَبِ
62. لَا تَكُنْ رَطْبًا فَتُعْصَرَ وَلَا يَابِسًا فَتُكَسَّرَ
63. مَنْ اَعَانَكَ عَلَى الشَّرِّ ظَلَمَكَ
64. العَمَلُ يَجْعَلُ الصَّعْبَ سَهْلًا
65. أَخِىْ لَنْ تَنَالُ العِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ  أُسْتَاذٍ وَ طُوْلُ زَمَانٍ
66. مَنْ تَأَنَّى نَالَ مَا تَمَنَّى
67. اُطْلُبِ العِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ
68. النَّظَافَةُ مِنَ الْإِيْمَانِ
69. إِذَا كَثُرَ الـمَطْلُوْبُ قَلَّ الـمُسَاعِدُ
70. لَا خَيْرَ فِى لَذَّةٍ تَعْقِبُ نَدَمًا
71. تَنْظِيْمُ العَمَلِ يُوَفِّرُ نِصْفَ الوَقْتِ
72. رُبَّ أَخٍ لَمْ تَلِدْهُ وَالِدَةٌ
73. دَاوُوا الغَضَبَ بِالصُّمْتِ
74َِ. الكَلَامُ يَنْفُذُ مَا لَا تَنْفُذُهُ الإِبَرُ
75. لَيْسَ كُلُّ مَا يَلْمَعُ ذَهَبًا
76. سِيْرَةُ الـمَرْءِ تُنْبِئُ عَنْ سَرِيْرَتِهِ
77. قِيْمَةُ الـمَرْءِ بِقَدْرِ مَا يُحْسِنُهُ
78. صَدِيْقُكَ مَنْ اَبْكَاكَ لَا مَنْ أَضْحَكَكَ
79. عَثْرَةُ القَدَمِ أَسْلَمُ مِنْ عَثْرَةِ اللِّسَانِ
80َُ. خَيْرُ الْكَلَامِ مَا قَلَّ وَدَلَّ
81. كُلُّ شَيْءٍ إِذَا كَثُرَ رَخُصَ إِلَّا الأَدَبُ
82. أَوَّلُ الغَضَبِ جُنُوْنٌ وَآخِرُهُ نَدَمٌ
83. العَبْدُ يُضْرَبُ بِالعَصَا وَالحُرُّ يَكْفِيْهِ بِالإِشَارَةِ
84. اُنْظُرْ مَا قَالَ وَلَا تَنْظُرْ مَنْ قَالَ
85. الحَسُوْدُ لَا يَسُوْدُ
86. الأَعْمَالُ بِخَوَاتِمِهَا

1. Siapa bersungguh-sungguh dia berhasil.
2. Siapa berjalan pada relnya akan sampai.
3. Siapa bersabar berhasil.
4. Siapa sedikit kejujurannya, sedikit temannya.
5. Bergaullah dengan orang jujur dan menepati janji.
6. Kasih sayang teman tampak pada waktu kesempitan.
7. Tak ada kenikmatan kecuali setelah susah payah.
8. Kesabaran membantu atas setiap pekerjaan.
9. Coba dan perhatikan, kau akan jadi tahu.
10. Tuntutlah ilmu sejak buaian hingga liang lahat.
11. Telur hari ini lebih baik dari ayam  besok hari.
12. Waktu itu lebih berharga daripada emas.
13. Pikiran yang sehat terdapat pada badan yang sehat.
14. Sebaik-baik teman duduk sepanjang waktu adalah buku.
15. Siapa menanam dia akan memetik.
16. Sebaik-baik kawan adalah yang menunjukkanmu pada kebaikan.
17. Jika tak ada ilmu maka pasti manusia seperti binatang.
18. Pengetahuan pada waktu kecil seperti lukisan di atas batu.
19. Tak akan kembali hari-hari yang telah berlalu.
20. Belajarlah pada waktku kecil dan amalkan dia saat kau besar.
21. Ilmu tanpa diamalkan bagaikan pohon tanpa buah.
22. Persatuan adalah dasar keberhasilan.
23. Jangan menghina orang miskin dan jadilah penolong baginya.
24. Kemuliaan itu dengan adab bukan karena keturunan.
25. Keselamatan manusia ada pada menjaga pembicaraannya.
26. Perilaku (baik) seseorang lebih baik dari emasnya.
27. Kejelekan perilaku itu menular.
28. Bencana pengetahuan adalah lupa.
29. Jika benar tekadnya maka akan jelas perjalanannya.
30. Jangan menghina orang yang lebih rendah darimu, karena setiap sesuatu memiliki kelebihan.
31. Perbaiki dirimu, maka akan baik kepadamu semua manusia.
32. Berpikirlah sebelum bertindak.
33. Siapa yang mengetahui jauhnya perjalanan dia akan bersiap-siap.
34. Siapa menggali lobang akan terposok ke dalamnya.
35. Musuh yang cerdas lebih baik dari kawan yang bodoh.
36. Siapa yang banyak kebaikannya maka banyak sahabatnya.
37. Bersungguh-sungguhlah dan jangan malas dan jangan jadi lalai, karena penyesalan mendalam itu adalah milik mereka yang bermalas-malasan.
38. Jangan tunda pekerjaanmu hingga besok, apa yang dapat kau kerjakan hari ini.
39. Tinggalkannlah kejahatan itu, dia pasti meninggalkanmu.
40. Sebaik-baik manusia adalah yang terbaik akhlaknya dan paling bermanfaat bagi manusia.
41. Dalam kehati-hatian ada keselamatan dan dalam ketergesa-gesaan ada penyesalan.
42. Buah dari penyia-nyiaan adalah penyesalan dan buah dari keteguhan adalah keselamatan.
43. Kasih sayang pada yang lemah termasuk akhlak yang mulia.
44. Balasan dari kejelekan adalah kejelakan yang setimpal.
45. Meninggalkan jawaban untuk orang bodoh adalah jawabannya.
46. Barang siapa yang manis tutur katanya banyak sahabatnya.
47. Jika sempurna akal seseorang maka sedikit bicaranya.
48. Barang siapa yang mencari kawan tanpa aib maka dia tetap tidak memiliki kawan.
49. Katakanlah yang benar meskipun pahit.
50. Sebaik-baik hartamu adalah yang memberikan manfaat bagimu.
51. Sebaik-baik perkara adalah pertengahan.
52. Setiap tempat ada kata-katanya (yg cocok) dan setiap kata-kata ada tempatnya (yg cocok.
53. Jika kamu tidak malu maka berbuatlah sekehendakmu.
54. Bukannya aib bagi mereka yang miskin, tapi aib itu milik mereka yang pelit.
55. Bukannya yatim itu yang telah mati orang tuanya, tapi yatim itu adalah yang tidak memiliki ilmu dan sopan santun.
56. Setiap pekerjaan ada balasannya dan setiap perkataan ada jawabannya.
57. Dan perlakukanlah manusia sebagaimana kamu ingin diperlakukan.
58. Hancurlah seseorang yang tidak mengetahui kemampuannya.
59. Otak dari dosa adalah kebohongan.
60. Siapa yang menzalimi akan terzalimi.
61. Bukannya keindahan itu dengan pakaian yang menghiasi kita tapi keindahan itu adalah keindahan ilmu dan adab.
62. Jangan kamu lemah nanti kamu diperas dan jangan keras nanti kamu dipatahkan.
63. Barang siapa yang membantumu melakukakan kejelekan, dia menzalimimu.
64. Tindakan, membuat yang sulit menjadi mudah.
65. Saudaraku! Kamu tidak akan mendapat ilmu kecuali dengan enam perkara, akan ku berikan perincian dengan jelas :  Kecerdasan, Harta Benda, Ketamakan, Mempergauli Ustadz Kesungguhan  Waktu yang panjang.
66. Barang siapa yang berhati-hati maka dia akan mendapatkan apa yang dia impikan.
67. Tuntutlah ilmu itu walaupun ke negeri Cina.
68. Kebersihan adalah bagian dari iman.
69. Jika perminataan terlalu banyak, sediki yang membantu.
70. Tak ada kebaikan pada kenikmatan yang diiringi penyesalan.
71. Mengatur pekerjaan akan menghemat setengah waktu.
72. Banyak saudara yang tidak dilahirkan oleh seorang ibu.
73. Obatilah kemarahan itu dengan diam.
74. Perkataan itu menembus apa yang tak ditembus oleh jarum.
75. Tidak setiap yang berkilap itu adalah emas.
76. Tindak tanduk seseorang menunjukkan kepribadiannya.
77. Nilai seseorang sesuai dengan kebaikan yang dilakukannya.
78. Sahabatmu adalah yang membuatmu menangis bukan yang membuatmu tertawa.
79. Terpelesetnya kaki lebih aman dari terpelesetnya lidah.
80. Sebaik-baik kata adalah yang ringkas dan mengena.
81. Segala sesuatu jika kebanyakan akan murah kecuali sopan santun.
82. Awal kemarahan adalah kegilaan dan berakhir dengan penyesalan.
83. Budak itu dipukul dengan tongkat sedangkan orang yang merdeka itu cukup dengan isyarat.
84. Perhatikan apa yang dikatakan dan jangan perhatikan siapa yang mengatakan.
85. Pendengki tak akan bahagia.
86. Semua pekerjaan harus dituntaskan

Sabtu, 08 Juli 2017

keluarga

Tidak sedikit Orang bahkan saya pribadi sendiri pernah terjebak dalam sebuah kalimat ini.

Kita Ga Pernah Tahu Umur Kita Sampai Kapan, Klo Ga Nikmatin Sekarang Kapan Lagi?

Pernah Dengar Sob?

Semalem saya ngobrol ringan dengan salah satu Member IMS Community saya yang saat ini sedang membangun startup company dengan investor asing.

Ketika kami sedang ngobrol dia bertanya kepada saya seperti biasa, Sob, kenapa dirimu kok leveragesnya cepat banget dalam 2 tahun ini?

Jawaban saya terhadap dia cukup singkat Sobat.

Menunda Kesenangan dan pengalihan uang ke investasi yang menghasilkan uang lagi.

(Artikelnya bisa anda baca di sini >> bit.ly/nundakesenangan2  jika Anda belum membacanya)

Sobat ini berkata, Sob lu ga mau jalan2 ke luar negeri gitu? paling sminggu habis 10jt doank.

saya bertanya balik, dlm 1 thn brp kali Anda keluar negeri?

dia jawab sekitar 5x. Oke Sob, berarti Anda menghabiskan 50jt/thn utk refreshing, dimana saya mengalihkan 50jt tersebut ke tempat lain.

Jadi Kapan kamu nikmatin hidup Sob? kan Umur ga ada yang tahu Lho.

Saya menjawab, betul Sob memang umur ga ada yang tahu, makanya hidup sehat itu penting.

Selain itu, saya harus membangun aset utk keluarga saya,

sehingga mereka tetap bisa menikmati hasil dari pembanguna aset passive income saya ke depannya, tanpa perlu bersusah payah seperti saya.

Akhirnya sobat ini tercerahkan, dan ingin mengurangi jalan-jalannya.

Kita terkadang suka berpikir bahwa untuk menghibur dan menyenangkan diri harus dengan beberapa hal dibawah ini :

1. Pergi Ke Luar Negeri
2. Belanja Produk Bermerk dan Mahal
3. Makan Di Restoran Mewah.
4. Pakai Mobil Baru yang cangih dan keren
5. Beli Rumah Lebih mewah dan Keren

Tapi kita suka Lupa beberapa hal di bawah ini :

1. Berapa banyak waktu Anda habiskan bersama Keluarga Anda? Orang Tua, Anak, Pasangan Hidup Anda?

Pernah GA berpikir Umur Orang Tua Anda Semakin Lama semakin Tua dan menipis? dan Anda menyesali ketika Mereka sudah tidak Anda? dan Anda berkata Andai Dulu Gw..,,,,

Saya melihat byk sekali kejadian seperti ini terjadi dalam lingkungan sosial saya.

2. Membangun Passive Income utk keluarga Anda, mgkn saat ini Anda jago dan hebat mencari uang tapi belum tentu keluarga Anda memiliki skill dan kemampuan yang sama bukan Sobat?

Pernahkah berpikir gimana nasib mereka nantinya? siapa yang menafkahi mereka? menyekolahkan Anak-anak Anda?

Yang paling menyakitkan adalah waktu ada keluarga yang sakit, kita baru sadar kita ga punya tabungan / cadangan keuangan untuk mengobati mereka.

waktu kita mencoba minta bantuan, teman-teman, saudara berkata jangan bercanda, karena mereka anggap kita kaya dengan gaya kita selama ini

(saya mengalami ini Sobat 3tahun yang lalu ketika ayah saya mengalami sakit, dan di sana titik balik saya kembali ke nol dan bahkan mines)

3. Jalan bersama keluarga, jika memang mahal keluar negeri kenapa ga coba di domestik aja? byk kok tempat indah di indonesia :D

4. Kita Selalu Ngomong ke Orang Lain, Kita cari Uang untuk keluarga, tapi kita suka lupa kita ga pernah dekat atau makan bareng keluarga kadang lebih banyak deket sama client dan makan sama client daripada keluarga.

5. Kita suka asumsikan bahwa dengan kita kasih uang aja, keluarga senang, padahal buat keluarga terutama orang tua, makan bersama itu jauh lebih INDAH DAN BERHARGA BAGI MEREKA ( TRY IT SOB. I DONT LIE TO YOU !! )

dan Terakhir...

Buat saya HARTA PALING BERHARGA ADALAH KELUARGA.

sama seperti yang di sampaikan dalam Film Keluarga Cemara.

Saat ini saya bahagia dengan kondisi, masalah yang saya hadapi karena apapun itu saya selalu berada bersama keluarga saya dan menghadapinya bersama :D

Semoga Sobat menemukan kebahagiaan dalam keluarga Sobat, Sehat Selalu Sekeluarga dan Sukses Selalu yah Sobat

Salam Selaras Sobat

Karena Akan Selalu Ada PENGALAMAN, Di Setiap PETUALANGAN....

Iwan Kenrianto

karma believer

sumber : Michelle jonny

Belakangan ini, saat aku memuji anak2 teman di sosmed, balasannya pasti, "Aminn.. biar sudah besar seperti tante Miselle."

It's a small sentece but it worth much for my parents.
Karena banyak yg mau anaknya jadi kayak aku (hasil rekayasa genetik) 😂😂😂
Mereka yg kenal aku di masa lalu, banyak juga yg mencontohkan namaku utk kasus terjelek seperti, "Jangan kayak si Miselle gitu.. kecil2 uda kawin. Untung aja bla bla bla..."
Pertama kali denger kata2 kayak gitu, reaksi pertama, menelan air mata. Tapi aku juga ngga berdiri dan mencak2 suruh org jaga mulut. Karena, aku percaya, selain ini adalah porsi karmaku, mereka juga sedang menanam karma mereka.
Tahun2 berlalu, aku yg dulu hanya hidup di otak mereka dan aku yang sekarang menjadi contoh yg baik bagi teman2 yang telah berkeluarga.

Sorry, can't help.
Aku terlahir sebagai karma believer kelas berat. 😁😁😁
Kenapa bisa?

Karena aku tumbuh dan mengembangkan otak kecilku dengan cerita dari Daddy.
Cerita yang sama, tapi aku selalu suka. Bahkan kalau Daddy lagi cerita, aku bisa mengabaikan yg lain dan nguping cerita Daddy.

Cerita yang paling aku suka, itu tentang 老天有眼 (Langit punya mata; Tuhan selalu adil)

Ceritanya gini, jaman dulu, ada sepasang suami istri yang kaya raya. Suaminya terkenal suka membantu orang dan sangat dermawan.
Tapi, suatu hari, sang suami sakit, dan mereka bangkrut karena semua harta sudah habis utk berobat.
Istrinya sangat sedih, tapi si suami selalu menghibur istrinya.
Setiap kali istrinya berkata kalau dunia ini kejam dan Tuhan itu tidak adil, suaminya selalu membalas, "老天有眼 (Tuhan itu selalu adil)"

Suatu hari, sang Suami yg tak mau istri cantiknya menderita, meninggalkan rumah dengan secarik pesan, "Jalanilah kehidupanmu dengan bahagia, lupakan aku. Jangan berhenti berbuat baik. "老天有眼"

Tahun demi tahun berlalu, dan istri sudah menikah lagi dengan saudagar kaya.
Namun, ia masih mengenang suaminya yg dulu. Ia terus mengenangnya dengan berbuat kebajikan. Karena kebajikan bagai identitas suaminya itu.
Ia sering membagikan makanan kepada para pengemis lewat pintu belakang rumahnya, dan memberikan mereka pakaian.

Suatu hari, saat musim dingin, seorang pengemis meninggal di pintu belakang rumahnya.
Dan setelah dibersihkan, ia mengenali pengemis itu adalah mantan suaminya.
Ia sangat sedih dan marah... mengapa orang sebaik dia harus meninggal dengan cara setragis ini!?
Dengan sembunyi2, ia menguburkan suaminya.
Dan sebelum dikubur, ia menuliskan kekecewaannya dengan darahnya sendiri di atas mayat mantan suaminya (tipikal cerita kungfu neh) 老天无眼 (Tuhan itu buta).
"Agar ketika kamu bertemu Tuhan, ia tahu betapa aku marah dan membencinya. Dan kalau kita bertemu lagi, biarkan aku selalu di sisimu dalam susah maupun senang," kata Sang Istri.

Beberapa bulan setelah suaminya meninggal, putra mahkota lahir.
Namun, putra mahkota terlahir dengan penyakit aneh dan tak ada tabib yg dapat menyembuhkan.
Sampai dibuatlah sayembara, "Siapa yg dapat menyembuhkan Putra Mahkota, bila laki2 akan dijadikan pejabat, dan bila perempuan, akan dijadikan orang kepercayaan permaisuri."

Konon, putra mahkota lahir dengan kutukan.
Kutukan apa?
Di dada putra mahkota tertera tanda lahir berupa tulisan 老天无眼 (Tuhan itu buta).
Mendengar hal itu, sang istri kaget bukan main. Ia segera ke istana untuk mendaftar.

Ketika menggendong putra mahkota, benarlah itu tulisan yg ditulisnya di atas mayat mantan suaminya.
Ia menyesal, sekaligus bersyukur. Ia pun menangis dan air matanya menetesi tubuh putra mahkota.
Dalam sekejap, huruf 无眼 (buta) berubah menjadi 有眼 (adil).
Kutukan menjadi kebahagiaan, dan sang istri menjadi orang kepercayaan permaisuri sampai Sang Putra Mahkota akhirnya menjadi Kaisar.
Negara yang dipimpinnya berdaulat dan mereka terus mengamalkan kebaikan untuk menyejahterakan rakyatnya.

"Jadi, begitulah," kata Daddy.
"Walaupun kita susah dan terdesak, tapi kita harus selalu berbuat kebajikan. Kadang hal2 yang terjadi tidak sesuai keinginan kita, tapi pasti sesuai dengan perbuatan kita," pesan Daddy. As always.

Dari daddy aku belajar.
Untuk mendidik seorang anak, yg diperlukan adalah waktu dan kebersamaan.
Anakku terlahir dengan membawa nasibnya sendiri.
Tapi ketika nasibnya itu hadir di depan mata, ia harus memilih, aku ingin dia sama sepertiku.
Pilih jalan yang menuntunnya berbuat bajik. Meski kadang hidup terasa pahit, tapi terus berbuat baik.
Aku akan terus bercerita pada anakku seperti Daddy bercerita kepadaku.
Sebelum anakku sanggup berpikir dan mencerna segala informasi dengan egonya.

Pada akhirnya nanti, informasi yg diterimanya sejak dinilah yang akan membuatnya menjadi tegar dan berani. Termasuk bila aku menyabotase hidupnya dengan kemudahan dan kemewahan. Dia akan selalu menggerutu bila menemui hal2 yg tidak mudah dan tidak mewah.
Karena itulah, aku bercerita.
Bahwa hidup tidak selamanya indah.
Tapi Tuhan, punya mata.