Kamis, 13 Juli 2017

sholihah

Prinsip seperti ini sebenarnya sangat sederhana dan mudah di ungkapkan, namun jika yang menyandang status sholihah adalah wanita yang berwajah "kurang cantik" seringkali para lelaki memilih untuk mencari yang lain. Seringkali bukan berarti semua. Kebanyakan memang lebih memilih yang cantik parasnya, yang langsung dapat dinikmati oleh mata, karena memang bisa dinikmati lebih instan. Sedangkan "ke shoihahan" memerlukan proses untuk menikmatinya, perlu pergaulan sehari hari sehingga bisa merasakan betapa senangnya bergaul dengan seorang yang sholihah. Namun nafsu manusia memang cendering kepada perkara yang bisa dinikmati langsung dan cepat.

Saya hanya menyebutkan pendekatan, namun jika kita lihat lebih jauh, hal seperti ini juga kita jumpai pada orang yang melihat kebutuhan duniawi dan ukhrowi. Mereka kebanyakan lebih cenderung untuk mempersiapkan kebutuhan duniawi dengan antusias, sementar kebutuhan akhirat hanya dipenuhi dengan unsur kemalasan. Tidak lain karena hasil dari unsur duniawi tampak instan, dan bisa dinikmati lebih cepat, sedangkan panen dari amal untuk akhirat baru bisa dinikmati kelak seusai mati. Namun mereka sering lupa, bahwa yang kekal itu lebih berharga, bahwa yang abadi itu lebih bernilai. Mereka lebih suka yang cepat dan langsung dinikmati dari pada yang kekal dan abadi.

Orang yang cerdas adalah orang yang banyak berbekal untuk masa setelah kematiannya. Yaitu mereka-mereka yang lebih mengutamakan akhirat daripada dunia nya. Bukan berarti tidak bekerja dan mencari nafkah, justru mereka bekerja dan berusaha untuk bertahan hidup demi kelangsungan mencari bekal di akhirat nati. Seperti yang di sampaikan dalam al quran yang bermakna "jangan lupa bagian mu di dunia  (untuk mempersiapkan bekal di akhirat nanti).
sumber Yusuf rosyadi

novel Bintang part 7

*Si Kembar -- spin off Serial BINTANG

**episode 7

Pertarungan dimulai.
Tersisa jarak lima puluh meter dari kami, Seli melepas dua petir biru. Itu petir yang besar. Susul-menyusul.
Dua monster itu lincah menghindar, petir itu menghantam udara kosong, meletup. Jangankan kena, memperlambat gerakan pun tidak.
Aku mengatupkan rahang, sepuluh meter, menunggu hingga dekat, giliranku melepas pukulan berdentum.
Monster gajah itu kali ini tidak menghindar, salah-satunya mengarahkan tombak ke depan, balas mengirim pukulan berdentum. Dua pukulan serupa bertemu. Suara pekak membuat sakit telinga. Butiran salju menyelimuti sekitar candi.  Tubuhku terpelanting lima meter. Monster itu bergeming, selangkah pun tidak berpengaruh, tetap bergerak maju.
Giliran Ali menyambutnya, dia loncat, mengirim tinju ke depan. Meski tubuhnya bukan lagi ‘beruang pemarah’, pukulan Ali sama kuatnya.
Pukulan berdentum dibalas pukulan berdentum. Tinju dibalas tinju. Jual beli. Monster yang lainnya loncat, tangan kosongnya menyambut tinju Ali.
BUUM!!
Ali terbanting ke belakang sama sepertiku.
Dua monster itu beringas mengejar Ali.
Splash! Tubuhku yang masih mengambang di udara menghilang, untuk kemudian splash! Teknik teleportasi. Muncul di depan dua monster itu, memotong gerakan mereka. Tanganku teracung ke depan. Bukan pukulan berdentum, aku mengirim teknik energi dingin ke arah mereka.
SROOM!
Dua larik cahaya keluar dari tanganku, telak mengenai dada dua gajah itu, suhu di sekitar kami langsung jatuh minus 100 derajat. Gerakan dua monster itu terhenti. Tubuh mereka membeku. Diselimuti es tebal, merayap cepat ke arah kaki, tangan, wajah. Sepertinya akan berhasil.
Monster itu meraung. Tombak perak mereka terlihat membara, panas. Sekejap, seluruh es itu luruh ke bebatuan candi. Tombak itu sekarang terangkat ke arahku, menyemburkan api—bukan pukulan berdentum.
Astaga! Aku belum pernah melihat teknik itu. Aku tidak tahu jika tombak itu bisa mengeluarkan api.
Splash! Tubuhku menghilang, sambil meraih tangan Seli yang mematung kaget menyaksikan api menyambar, splash! Aku dan Seli muncul di atas stupa besar, Ali juga loncat ke sana, menjauh.
Bola api menghanguskan apapun radius dua puluh meter.
“Ini tidak akan mudah.” Ali menggeram.
Aku mengangguk, dua monster ini tangguh.
“Apa yang akan kita lakukan, Ra?”
“Gunakan latihan kita.” Aku menjawab tegas.
Sepulang dari Klan Bintang, menyaksikan betapa kompaknya Pasukan Bayangan dan Pasukan Matahari bahu-membahu bertempur, aku, Seli dan Ali ikut melatih gerakan itu. Kami bisa saling mengisi gerakan, bekerjasama memaksimalkan teknik setiap klan. Jika ada yang menyerang, ada yang bersiap membuat pertahanan, dan sebaliknya.
Kami bertiga segera memasang kuda-kuda.
Waktu kami tidak banyak, dua monster itu sudah loncat ke atas stupa. Langsung mengirim pukulan berdentum dengan tombak perak.
Aku sudah siap, membuat tameng transparan yang kokoh. Tameng itu berhasil menahannya. Saat monster itu masih mengambang, membutuhkan sepersekian detik mengirim serangan berikutnya, atau memperbaiki posisi, aku berseru, “SELI!”
Seli mengangguk, dia keluar dari tameng, mengirim petir biru. Tidak sempat menghindar, telak mengenai dua monster itu. Menahan gerakan mereka.
“ALI!!” Aku menoleh ke kanan.
Ali tangkas loncat ke atas, tinjunya bergerak cepat. Tinju Ali silih berganti mengenai wajah gajah-gajah itu. Dua monster itu terbanting ke bawah sebelum menyadari apa yang mengenai mereka.
“Semua maju!” Aku berseru lagi.
Kami bertiga lompat turun dari stupa.
Kerjasama tim kami berhasil, meskipun serangan Seli dan Ali sepertinya tidak terlalu berarti bagi dua monster gajah itu, tapi dengan saling mengisi, kami bisa mengendalikan pertarungan. Timing penting sekali dalam pertempuran jarak dekat.
Dua monster itu berusaha bangkit.
“SELI! Teknik kinetik.” Aku berseru lagi. Kami tidak akan memberikan ruang bagi mereka.
Seli mengangkat tangannya, berteriak. Puing-puing stupa ikut terangkat ke udara. Sebelum dua monster itu betulan berdiri, puing-puing bebatuan itu seperti peluru menembaki mereka.
Dua gajah itu meraung marah.
“ALI!”
Ali melesat ke depan, kembali mengirim tinju.
Terlambat, salah-satu dari gajah itu masih sempat mengacungkan tombak perak, siap mengirim pukulan berdentum ke arah Ali.
Aku tidak akan membiarkan itu. Melesat ke depan, membuat tameng transparan.
BUM!! Pukulan itu mengenai tamengku. Aku terbanting dua langkah, tapi tamengku utuh, tidak meletus.
“SELI!!”
Seli tahu apa yang harus dia lakukan, dia maju lagi, mengirim petir biru. Giliran dua monster itu terbanting ke belakang.
Inilah latihan kami. Saling mengisi. Saling melindungi. Bergerak cepat, satu sama lain, seperti menari tandem tiga orang.
Setengah jam berlalu.
Arena pertempuran kami hampir memporak-porandakan separuh ruangan itu. Danau yang berlubang, hutan-hutan yang hangus, candi yang runtuh separuhnya. Sejauh ini kami berhasil menahan serangan dua monster gajah itu.
Tetapi masalah terbesarnya, stamina kami mulai habis. Hingga kapan kami bisa menahannya?
Tubuhku basah kuyup oleh keringat. Seli tersengal, dia mulai lelah.
Dan kami tidak menggunakan seragam hitam-hitam desain Ilo. Kami memakai jaket merah marun seragam sekolah. Tanpa seragam Ilo dengan teknologi tinggi itu, setiap kali kami terbanting atau terkena pukulan, tubuh kami terasa sakit, nyeri bahkan bengkak. Tidak ada yang melindungi.
Setengah jam lagi berlalu cepat.
“Sisi kanan, Ali! Pertahanannya terbuka.” Aku berseru.
Ali melesat ke sana, mengirim tinju, mengenai dada salah-satu monster. Cukup untuk menahan laju serangan.
“SELI!!”
Seli lompat, giliran dia mengirim petir. Salah-satu monster lainnya juga tertahan. Tapi hanya dua detik, mereka merangsek maju lagi.
“Mundur!”
Aku segera membuat tameng transparan. Seli dan Ali berkumpul di belakangku.
BUUM!! Dua bola api mengenai tamengku. Hawa panas tetap terasa menyengat kulit meski tamengku berhasil menahannya.
Ali di belakang ikut membuat tameng transparan. Membantu pertahanan.
“Terima kasih, Ali.”
Si Jenius itu mengangguk, tersengal. Keringat mengalir di pelipisnya
Kami sudah bertahan habis-habisan satu jam terakhir. Jika diawal pertarungan kami yang lebih menguasai ritme, semakin lama dua monster itu yang unggul jauh. Mereka masih terlihat segar bugar. Gerakan mereka tetap tangkas dan buas. Sejauh ini pukulan kami hanya bisa menahan mereka, tidak bisa melukai apalagi menghabisi. Tubuh monster gajah ini kuat sekali.
“Apa yang kita lakukan sekarang, Ra?” Seli berbisik, nafasnya satu-dua.
“Bertarung sampai titik penghabisan.” Aku menjawab tegas.
Ali, yang fisiknya lebih kuat dibanding kami juga terlihat tertatih, tadi salah-satu tombak perak menghantam pahanya, membuat paha kanannya bengkak.
“Kamu tidak apa-apa, Ali?” Aku bertanya.
Ali mengangguk, dia baik-baik saja.
“Apakah dua monster ini punya kelemahan, Ra?”
Aku tidak tahu. Semua teknik yang kami keluarkan sia-sia.
Ali yang biasanya jenius, kali ini juga mentok. Dia tidak punya ide bagaimana mengalahkan dua gajah ini.
Dan kami tidak punya banyak waktu untuk ‘mengobrol’ membahasnya. Lihatlah, dua monster itu sudah merangsek untuk kesekian kalinya, kembali menyerang. Seperti tidak pernah kehabisan nafas.
“SELI!!” Aku berseru.
Seli mengirim petir, berusaha menahan dari jauh. Petir itu sudah tidak seterang sebelumnya, mudah saja dihindari.
Dua tombak perang teracung. Aku bergegas membuat tameng transparan.
Keliru. Itu bukan pukulan berdentum. Salah-satu gajah itu mengiris tamengku dengan ujung tombaknya. Meletus. Yang lain bersiap mengirim bola api besar. Kami dalam masalah besar tanpa tameng.
Splash! Di detik terakhir, aku segera memutuskan meraih tangan Seli dan Ali, tubuh kami menghilang, splash! Muncul di atas stupa terbesar candi, satu-satunya bangunan candi yang masih utuh, seratus meter dari dua gajah itu. Bola api membakar tinggi di sana.
Tersengal.
“Kita tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi.”
“Bagaimana jika kita kembali masuk ke ILY, Ra?” Seli memberi usul, “Terbang setinggi mungkin.”
Ali menggeleng, “Kita tidak bisa terbang tinggi, Seli. Ada lapisan tak terlihat di atas sana. ILY bisa melewatinya turun, tapi tidak bisa melewatinya ke atas.”
Dua gajah itu meraung marah saat tahu bola apinya membakar udara kosong. Menoleh cepat ke segala penjuru mencari kami. Persis melihat posisi kami di atas stupa, mereka berlarian menyerang lagi.
Kali ini kami benar-benar terdesak.
Aku berusaha berpikir cepat. Apa yang harus kami lakukan? Bagaimana meloloskan diri dari dua gajah ini. Kami butuh keajaiban. Nasib petualangan kami bisa berakhir di ruangan ini tanpa keajaiban.
Dua monster itu tinggal lima puluh meter.
“Ra—“ Seli berkata pelan.
Aku menoleh. Apa?
Seli menunjuk dinding timur.
Ada siluet cahaya di sana.
Itu apa?
“Apakah itu sunrise.”
“Tidak mungkin, kita baru satu jam di ruangan ini, bagaimana mungkin sudah matahari terbit.”
Tapi itu memang cahaya matahari terbit.
“Ruangan ini sepertinya memiliki siklus siang dan malam lebih cepat. Setiap satu jam berganti siang dan malam. Seperti ruangan di Klan Bintang yang cukup satu jam saja siklus musim sepanjang tahunnya.” Ali berkata pelan.
Entahlah, apakah fakta baru itu membantu kami atau tidak. Dua monster itu tinggal dua puluh meter, kali ini tidak ada ampun mereka melepas pukulan berdentum paling kuat yang mereka miliki.
Aku berusaha membuat tameng transparan dengan sisa-sisa tenaga. Juga Ali dan Seli, mengirim serangan balasan. Kami tahu itu sia-sia, tapi setidaknya kami telah berusaha.
BUUM!! Tamengku robek, pukulan Ali dan Seli juga sia-sia.
Tubuh kami bertiga terbanting jatuh dari stupa. Menggelinding. Aku mengaduh, kaki Ali kembali mengenai wajahku.
Seli pingsan lebih dulu, badannya menghantam bebatuan candi, bongkahan stupa juga menimpa badannya. Ali berusaha merangkak berdiri di antara kepulan debu, tapi terjatuh lagi, paha kanannya semakin bengkak. Aku hanya bisa beranjak duduk.
Dua monster itu tidak memberikan belas kasihan, kembali mengirim pukulan mematikan. Dengan jarak sedekat itu, tidak ada waktu menghindarinya.
Aku mendongak, menatap dinding timur. Matahari akhirnya terbit. Cahayanya telah tiba di pelataran candi, membasuh lembut stupa besar. Menyiram wajahku—dan dua monster itu.
Ini mungkin akhir kisah kami.
BUUMM!!
Aku memejamkan mata.
Tapi hei, tidak terjadi apa-apa.
Aku membuka mata.
Bukan kami, justeru dua monster itu seperti habis terkena pukulan keras. Tubuh mereka terbanting ke lantai candi. Kemudian menghilang
Mataku silau, berusaha menerka apa yang terjadi? Kemana monster itu pergi?
Sebagai gantinya, dua orang lain berlarian mendekati kami.
Bukan monster gajah itu. Melainkan manusia biasa.
“Kalian tidak apa-apa?”
Salah-satu dari mereka bertanya.
Aku mengerjapkan mata.
“Bantu yang tertimpa batu, Ngglanggeran! Aku akan membantu yang laki-laki.” Temannya melesat cepat mendekati Seli dan Ali.
Siapa mereka? Dari Klan mana? Ngglanggeran? Itu nama salah-satu dari mereka?
Di setengah kesadaranku, yang bisa kupastikan, dua orang ini terlihat serupa. Usia mereka sekitar dua puluh lima tahun menurut ukuran Klan Bumi. Pemuda. Mengenakan pakaian berwarna abu-abu, terlihat gagah. Rambut mereka terpotong rapi dengan model yang tak pernah kulihat di dunia paralel. Tangan mereka menggenggam tongkat perak kecil. Bentuk hidung, mata, mulut, garis wajah mereka berdua mirip sekali.
Apakah mereka kembar?
Aku sudah terkulai kehabisan tenaga,
“Yang satunya menyusul pingsan, Ngglanggeram!”

**bersambung

ide bisnis

Kasih sayang ibu kepada Anak memang sepanjang Masa Sob.

Yapz, beberapa hari yang lalu saya diskusi ringan dengan teman sekolah yang saat ini sudah menjadi seorang ibu :)

Tapi di sisi lain dia mengalami hal yang mungkin tidak semua orang mau, yaitu dia sekarang menjadi seorang single Parent

Singkat cerita akhirnya saya menanyakan pendapatan dan biaya hidupnya, setelah saya membaca arus kas pendapatan dan pengeluarannya.

Luar Biasaa....

ternyata menjadi single parent dengan gaji sekitar 5-6jt di jakarta itu cukup berat utk mengasuh dan membiayai hidup seorang anak bayi di jakarta ini.

Tidak kebayang saya, bagaimana jika seorang single mom mendapatkan gaji dibawah 5jt dan membiayai hidup 2 anak di jakarta?

Tapi syukurlah, Teman saya ini mempunyai keinginan untuk memberikan yang terbaik kepada anaknya dan tidak pernah putus harapan :)

karena saya tahu diluar sana, masih ada orang tua yang kadang membuang anaknya, padahal Anak merupakan Anugerah dari Allah / Tuhan Yang Maha Kuasa.

Akhirnya saya mencoba untuk membantu dia, dengan memberikan beberapa tips berikut ini :

1. Saya meminta dia untuk menjalankan part time online shop dengan menjual perlengkapan bayi dan baju kepada teman kerjanya, karena dia bekerja di sebuah perusahaan yang cukup besar dengan karyawan sekitar 250 orang. target market yang cukup lumayan :)

2. Saya meminta dia mengatur waktu dan cash flow kartu kredit dia, dengan cara memanfaatkan cicilan utk keperluan anaknya melalui beberapa market place yang suka memberikan diskon dan cicilan (bukan mengajarkan Riba tetapi ini subsidi silang yang dia bisa lakukan)

kemudian utk membayar penuh semua tagihan terpakai tanpa tunggakan setiap bulannya agar tidak terkena bunga berjalan / bunga riba yang mengerikan suka menjerat orang :)

3. saya meminta dia mengisi waktu luang dia di sabtu dan minggu, bukan sekedar menemani anaknya tetapi juga aktif berkomunitas dengan ibu-ibu lainnya atau ibadah.

supaya networkingnya makin meluas dan tentunya bisa mendapatkan target market utk jualan hehehe...

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari,

karena esok hari adalah misteri ilahi, tapi yang kita bisa lakukan hari ini adalah memberikan yang terbaik dan bersyukur tanpa harus menanti hal baik datang kepada diri kita.

Saya ingat pepatah Guru saya waktu sekolah, Jelek-jeleknya Anak dan badungnya anak pasti orang tua terutama ibunya pasti bela anaknya.

Dan hari ini saya makin mengerti kenapa Kasih Ibu di bilang Sepanjang Masa :)

Semoga Anda dan keluarga Sehat dan sukses selalu sobatku.

Iwan Kenrianto

Rabu, 12 Juli 2017

humor 1

Buat jamaah, followers, atau kawan-kawan jombloers calon suami-suami yg ada rencana mau nikah dalam waktu dekat ataupun dalam waktu yg entah, berikut ini ada beberapa skill naluriah yg patut kau kuasai yg niscaya gak akan kau temui di tempat manapun :

1. Magician : kau harus bisa dalam sekejap berada di hadapan istri saat dipanggil, gak peduli datang dari arah mana
2. Mentalist : kau harus bisa membaca pikiran istri, menebak-nebak kadar mood-nya. Salah baca, bisa runyam urusannya.
3. Astronom : kau harus tau hitung-hitungan periodik datang bulan serta penanggalan muda atau tua. Dua hal ini erat kaitannya dengan mood.
4. Translator : kau dituntut menerjemahkan 1001 arti kata "terserah", yg akan berbeda maknanya di setiap kondisi
5. Reporter : kau mesti terdepan dalam mengabarkan, terutama posisimu saat bepergian, kalo perlu dengan titik koordinat sekalian. Sebab bagi sebagian suami gak ada yg lebih menakutkan dari lima kali panggilan gak terjawab dari nomer istri
6. Driver : saat muda kau boleh saja jadi rider atau racer, tapi setelah menikah kau gak lebih dari seorang driver under pressure. Rem mendadak itu artinya satu cubitan, nginjak lobang dua cubitan, nginjak becek siap-siap memar di lengan
7. Sales : kau harus mati-matian menjelaskan keunggulan suatu barang yg kau beli, yg sebenarnya penjelasanmu itu tujuannya bukan sekadar azas manfaat barang melainkan lebih kepada defensif untuk gak mau dibilang salah beli
8. Trampolin : saat kau sudah jadi ayah, tubuhmu adalah tempat lompat-lompatan dan bermain yg lebih nyaman dari arena bermain manapun
9. Storytellerr : kau harus bisa mengarang cerita dadakan apa saja. Salah satu manfaatnya adalah untuk mencegah anak tertidur di boncengan saat berkendara.
10. Ninja : kau harus bisa bergerak dalam senyap tanpa menimbulkan suara dan tau-tau saja sudah ada di sofa. Ini sangat bermanfaat ketika kau telat pulang dan gak siap alasan

Semoga bermanfaat. Silahkan yg mau tambahin

© Arham Rasyid ayah Hafidzah
the surveyor of household

kenali tubuhmu

Tahukah anda?

1. Jika maag bukan hanya diakibatkan karena kesalahan pola makan, tapi justru lebih didominasi karena stress.

2. Jika hypertensi bukan hanya diakibatkan oleh terlalu banyak konsumsi makanan yang asin, tapi lebih dominan karena kesalahan dalam memanage emosi.

3. Jika kolesterol bukan hanya diakibatkan oleh makanan berlemak, tapi rasa malas berlebih yang lebih dominan menimbun lemak.

4. Jika asthma bukan hanya karena terganggunya suplai oksigen ke paru-paru, tapi sering merasa sedih yang membuat kerja paru-paru tidak stabil.

5. Jika diabetes bukan hanya karena terlalu banyak konsumsi glucousa, tapi sikap egois dan keras kepala yang mengganggu fungsi pankreas.

6. Jika penyakit liver bukan hanya karena kesalahan pola tidur, tapi sifat suudzon kepada orang lain yang justru merusak hati kita.

7. Jika jantung koroner bukan hanya diakibatkan oleh sumbatan pada aliran darah ke jantung, tapi jarang sedekah membuat jantung kita kurang merasakan ketenangan, sehingga detaknya tidak stabil.

Dan masih banyak lagi

Faktor penyebab penyakit adalah karena masalah:

- Spiritual 50%
- Psikis 25%
- Sosial 15%
- Fisik  10%

Yuk... perbaiki diri ke arah yang lebih positif +☺

Salam sehat dan sukses penuh berkah...semoga bermanfat

Selasa, 11 Juli 2017

novel Bintang part 6

*Si Kembar -- spin off Serial BINTANG

**episode 6

Dua monster itu dengan buas memburu kapsul perak.
Tinju, tendangan, tombak perak, apapun yang bisa digunakan, silih berganti mengincar ILY. Bahkan belalai mereka bisa menghantam kapsul kami.
Ali menggeram, wajahnya konsentrasi penuh memegang tuas kemudi, membawa ILY melakukan manuver ekstrem, terbang menghindar kesana-kemari. Sia-sia, kemana pun ILY terbang, dua monster itu bisa mengejarnya.
BUMM!! Untuk yang ke sekian kalinya kapsul perak kami terkena pukulan berdentum.
Aku memasang kuda-kuda di lantai ILY, kembali membuat tameng transparan melindungi kapsul. Tameng itu sejauh ini efektif, ILY terpelanting membal seperti bola, Seli berpegangan ke kursi. Baru setengah jalan membal ke atas, tinju monster lainnya datang menghantam. BUMMM!! Telak mengenai kapsul. ILY melayang jauh ke lereng pegunungan salju.
Aku habis-habisan menjaga tameng transparanku.
Sejauh ini, tamengku bisa menahan serangan, mengurangi dampak kerusakan, tapi dengan ILY terus jungkir balik di langit-langit ruangan, terbanting kesana-kemari, konsentrasiku berkurang. Kami seperti berada di wahana roller coaster yang berputar 360 derajat.
“Apa yang harus kita lakukan?” Seli bertanya cemas, kasihan melihatku.
Kami sudah hampir lima belas menit terbang menghindari dua monster itu. Atas bawah, kiri kanan, termasuk menyelam ke danau, tidak berhasil.
“Kita harus keluar dari kapsul! Hanya itu kesempatan kita.” Ali berseru, dia menarik tuas, berusaha membawa ILY terbang dari pegunungan salju. Dua monster itu sudah mengejar lagi, seperti dua orang yang sudah seminggu kelaparan melihat makanan lezat.
Rumitnya, setiap kali kapsul melewati ketinggian 1.000 meter, seperti ada gel atau seperti itulah yang tak terlihat yang menghambat, membuat ILY tidak bisa terbang lebih tinggi.
“Kita tidak boleh keluar dari kapsul, Ali!” Seli keberatan. ILY adalah benteng pertahanan terbaik kami, lebih baik kami tetap berada di dalam kapsul, itu maksud kalimat ILY.
“Kita akan terus jadi bulan-bulanan jika tetap berada di dalam kapsul, Seli!” Ali berseru, sambil membanting tuas kemudi ke kiri, ILY melenting menuju permukaan danau.
“Awas sebelah kanan, Ali!” Aku memberitahu.
BUMM!! Pukulan berdentum itu mengenai salah-satu stupa candi, meleset. Membuat porak-poranda.
Ali menggigit bibir, membanting tuas kemudi ke bawah, ILY terbang rendah, hanya sepuluh senti di atas permukaan danau. Dua monster itu persis di belakang kami, jaraknya tinggal dua puluh meter siap mengirim serangan berikutnya. Matanya merah, belalainya melambai. Melenguh kencang.
“Dua monster ini mahkluk apa sebenarnya?” Seli menatap jerih ke belakang.
“Tidak tahu, Seli. Yang jelas dua monster ini bukan gajah yang lucu, imut dan menyenangkan. Dia membuatku jadi membenci gajah sekarang.” Ali menjawab cepat.
Seli menoleh kepadaku.
Aku menggeleng, aku juga tidak tahu. Yang pasti dua monster ini menguasai semua teknik bertarung dunia paralel, seperti teleportasi, pukulan berdentum, teknik kinetik, sambaran petir, bahkan di luar itu, yang belum pernah kami lihat. Tongkat peraknya mirip miik Faar, dalam versi yang lebih besar dan kuat.
“Awas, Ali! Menghindar!” Aku memberitahu.
Tongkat perak salah-satu gajah itu teracung ke kami.
ILY melenting ke arah Candi, berusaha menghindar.
Gerakan tipuan!
Itu bukan pukulan. Monster itu justeru bergerak ke arah kami menghindar, seperti bisa membaca pikiran kami. Di sana dia telah menunggu sepersekian detik.
“BUMM!!”
Tanpa ampun, pukulan berdentum dari jarak dekat mengantam ILY. Kapsul perak kami terbanting ke arah Candi. Dua stupa raksasa hancur lebur seketika, menahan laju kapsul.
Kali ini, tameng transparanku tidak kuat, meletus di stupa ketiga. Tanpa tameng itu, kami bertiga rebah-jimpah di dalam kapsul. Ali terpelanting dari kursinya, kakinya menimpa wajahku. Seli menghantam dinding kapsul. Mengaduh karena kaget dan sakit.
Lima detik terseret, kapsul kami teronggok di puing-puing stupa candi.
“Aku tidak mau lagi berada di dalam kapsul, Ra.” Ali bangkit, bersungut-sungut.
Aku membantu Seli. Dia baik-baik saja, hanya wajahnya pias.
“Apa yang akan kamu lakukan?” Seli bertanya.
Ali sudah menekan tombol, pintu ILY terbuka.
“Aku memilih bertarung di luar, mau kalah mau menang. Dua gajah dumbo ini harus diajari sopan-santun.”
“TIDAK BOLEH ALI!”
Ali tidak peduli, “Dua gajah ini bukan Bona Gajah Kecil Berberlalai Panjang, Seli! Dua gajah ini jelas berniat menghabisi kita. Aku memilih bertarung langsung dengannya.”
Seli meremas jemarinya. Dia menatapku. Maksudnya, Ali baru bisa melakukan itu jika aku setuju.
Baiklah. Aku mengangguk. Ali benar, kami hanya jadi sasaran empuk di dalam kapsul perak. Aku tidak bisa terus-menerus membuat tameng transparan. Saatnya kami bertarung serius.
“Terima kasih, Ra. Mari kita bertarung.” Ali lompat ke bebatuan candi yang runtuh. Ali tidak mengeluarkan pentungan kasti yang selama ini dia bawa, dia mengenakan Sarung Tangan Bumi, itulah senjatanya.
Sementara dua monster itu berlarian mendekat ke candi. Meraung. Aku melihat bayangan mereka di atas danau.
Ali menggeram.
Sedetik!! Dia telah berubah, bertransformasi menjadi ‘beruang’. Tubuhnya memang tetap seperti manusia, tapi sarung tangannya, berubah menjadi tangan beruang, dengan bulu-bulu tebal. Faar telah mengajari Ali mengaktifkan kekuatan Sarung Tangan Bumi. Dia bisa mengendalikan sepenuhnya transformasi beruang buas itu. Dia bukan Ali yang lemah setiap pertarungan jarak dekat.
Aku juga lompat ke samping kanan Ali, memasang kuda-kuda. Konsentrasi penuh. Kesiur angin kencang terdengar. Salju turun di sekitar kami. Aku siap bertarung bersisian dengan Ali.
Seli juga ikut turun, berdiri di samping kiri Ali. Seli tidak akan pernah membiarkan kami bertarung sendirian. Meskipun dia berbeda pendapat, dia selalu ada. Tangan Seli terangkat ke atas. Seketika, sarung tangannya mengeluarkan cahaya terang benderang. Ruangan kubus dengan sisi 30 kilometer itu seperti disinari matahari jarak dekat. Menyilaukan. Kapanpun tangan itu bisa mengirim petir biru.
Sebagai balasannya, dua monster itu justeru mempercepat larinya. Berlarian di atas permukaan danau.
Meraung ganas. Kali ini, seolah melihat makanan lezat setelah sebulan kelaparan.

**bersambung tere liye

novel Bintang part 5

*Si Kembar -- spin off Serial BINTANG

**episode 5

Lima menit terus menanjak di dalam lorong berbentuk pipa besar itu, kapsul perak yang kami naiki akhirnya keluar dari air.
Splash.
Muncul di permukaan. Di sebuah ruangan berbentuk kubus dengan sisi dua ratus meter. Ada beberapa stupa besar di sana. Tersusun simetris empat sisi. Ruangan itu tidak gelap, ada sistem pencahayaan yang sama seperti di ruangan Klan Bintang, seolah ada matahari di atas sana, yang beranjak turun di dinding sisi timur, sebentar lagi sunset.
Aku mendongak menatap matahari itu. Awan putih mengambang di sana—pemandangan yang sangat mengherankan jika aku belum pernah mengunjungi dunia paralel. Ruangan ini seperti permukaan bumi, hanya dinding-dinding tinggi yang membuatnya berbeda.
“Ini ruangan apa, Ali?” Seli bertanya, dia ikut memperhatikan sekitar.
Kapsul perak kami naik perlahan ke langit-langit ruangan, masih dengan mode menghilang. Ali tidak mau mengambil resiko menampakkan ILY. Di empat dinding ruangan terlihat air terjun besar, menghujam ke dasar, kemudian membentuk sungai yang berkumpul, menuju lubang lorong, tempat kami keluar tadi.
“Ini sepertinya ruangan pemeriksaan, atau pos terdepan sebelum masuk ke ruangan candi di depan sana, Seli.” Ali ikut memperhatikan.
“Apakah ada orang di ruangan ini?” Seli berbisik pelan.
“Sepertinya tidak ada. Sensor ILY tidak menunjukkan aktivitas mahkluk hidup apapun.” Ali menunjuk ke layar besar.
Meskipun demikian kami tetap harus waspada. Kami kenyang dengan pengalaman petualangan di dunia paralel, sebuah ruangan akan lebih berbahaya justeru ketika nampak lengang, tidak ada isinya. Kami tidak tahu apa yang telah menunggu di balik stupa misalnya.
“Kita kemana sekarang, Ali?”
“Dinding sisi utara, Sel. Ada lorong berikutnya di sana, menuju ruangan candi.” Ali menggerakkan lagi tuas kemudi ILY, kapsul perak bergerak perlahan melintas di sela stupa-stupa besar.
Kapsul perak tiba di dinding utara.
“Patung monster itu lagi, Ra.” Seli menahan nafas.
Aku mengangguk, aku juga telah melihatnya. Di dinding itu ada gerbang berikutnya, lebih tinggi dibanding di dasar lautan sebelumnya, terbuat dari batu pualam, dan lebih megah, ditimpa cahaya matahari. Dan ada dua patung besar monster berbadan manusia serta berkepala gajah di sana. Karena cahaya lebih terang, aku bisa memperhatikan lebih detail patungnya, wajah “gajah” itu terlihat buas. Matanya tajam, kupingnya mengembang, belalainya melambai ke belakang, sementara tangannya mengacungkan tongkat perak ke arah kami. Seperti tidak mengijinkan siapapun melintasi lorong. 
ILY terus melintasi gerbang, dua patung monster tidak akan menghentikan Ali. Kami bersiap masuk ke dalam lorong gelap berikutnya.
Seli menghembuskan nafas. Dia lega, setidaknya kami tidak diserang sesuatu di ruangan tadi. Hanya deg-deg-an menatap patung monster saja.
“Berpegangan, Ra, Seli. Kecepatan penuh.” Ali menarik tuas kemudi, dan sebelum kami betulan berpegangan, ILY melesat cepat memasuki lorong besar. Kali ini meluncur dengan kemiringan tajam ke bawah, seperti terjun bebas. Menuju kedalaman lima puluh kilometer.
Tiga puluh detik lengang.
“Sepertinya ruangan kosong tadi dekat sekali dengan permukaan bumi.” Seli memperhatikan dinding lorong yang berpendar-pendar ditimpa cahaya dari ILY. Kami terus meluncur turun.
Ali mengangguk, “Iya. Pembuat lorong-lorong ini menggunakan trik fisika sederhana, pintu utama lorong sengaja di buat di dasar laut, lorong naik ke atas hingga ke ketinggian permukaan laut, tiba di pos terdepan ruangan tadi, kemudian lorong menuju lagi ke bawah. Agar air laut tidak masuk ke dalam ruangan candi di depan sana. Mungkin kita tadi berada di perut salah-satu gunung atau bukit dekat candi tempat karya wisata.”
“Tapi bagaimana orang-orang tidak tahu jika ada ruangan itu, Ali, jika ruangan tadi dekat dengan permukaan bumi? Boleh jadi tanpa sengaja orang akan menemukannya, kan?”
“Banyak caranya agar orang tidak tahu, Sel. Mulai dari cara paling kuno hingga teknologi canggih. Cerita mistis misalnya, itu cara kuno. Ada kisah tentang Ratu penguasa lautan, itu cukup untuk membuat nelayan tidak mendekati lokasi tertentu, atau jadi penjelasan simpel jika ada kejadian tidak masuk akal. Ada kisah menyeramkan lainnya tentang gunung, petani tidak berani mengolah lahan tertentu. Tapi di atas segalanya, teknologi adalah cara terbaik, jelas sekali ruangan ini memiliki penangkal. Tidak ada teknologi pemetaan geologi milik Klan Bumi yang bisa mendeteksinya.”
Aku menatap punggung kursi Ali. Si Biang Kerok ini selalu punya penjelasan. Entah apakah dia mengarang-ngarangnya hingga masuk akal, atau memang itu penjelasan terbaiknya.
ILY terus meluncur cepat ke bawah.
“Kita hampir sampai. Bersiap-siap.”
Aku dan Seli memperbaiki posisi duduk.
Lima belas detik lagi menatap layar besar ILY, dinding gelap lorong berakhir. Digantikan pemandangan yang spektakuler.
Kapsul perak kami persis keluar dari atap sebuah ruangan besar berbentuk kubus dengan sisi tak kurang dari tiga puluh kilo meter. Separuh dasar ruangan itu adalah danau. Dengan tepi-tepi hutan lebat berbentuk gunung-gunung berselimutkan salju di sisinya. Simetris empat sisi. Kami tiba persis saat matahari bersiap tenggelam di dinding sebelah timur. Sunset. Langit terlihat jingga. Awan putih yang laksana kapas juga terlihat memerah.
Aku menahan nafas. Lihatlah, di bawah sana, di tengah danau, candi besar itu menyambut anggun. Seperti bunga teratai elok di tengah danau berair sejernih kristal. Ada empat jalan penghubung di atas permukaan danau yang sepertinya terbuat dari kayu menuju candi itu dari sisi hutan. Pepohonan di hutan sedang berbunga warna-warni, terlihat menawan.
ILY terus turun ke dasar ruangan, semakin dekat dengan candi.
“Ini indah sekali.” Seli berkata pelan.
Aku mengangguk. Dari jarak seratus meter, dasar danau terlihat. Koral, terumbu karang. Ikan-ikan berenang. Itu bukan danau biasa. Stupa-stupa candi memantulkan cahaya lembut matahari senja. Matahari siap terbenam di balik pegunungan bersalju. Aku belum pernah melihat sunset seindah ini di dunia paralel.
“Ini lebih keren dibanding Pulau Pesisir Timur Klan Bintang.” Ali bergumam. Dia beranjak melepas sabuk pengaman, berdiri di dekat jendela transparan kapsul.
Aku dan Seli tertawa kecil, setuju. Juga melepas sabuk pengaman, ikut berdiri di sebelah Ali. Sejenak kami mengabaikan apa tujuan kami ke ruangan ini—mencari sesuatu yang terdeteksi oleh sensor Ali. Kami menikmati sunset.
Seli menghembuskan nafas saat matahari akhirnya benar-benar menghilang di dinding timur, di balik pegunungan salju, menyisakan siluet cahaya tipis.
“Aku akan memeriksa sensor ILY—“
Belum habis kalimat Ali, persis saat gelap membungkus ruangan, sesuatu menghantam kapsul perak.
Itu pukulan yang kencang sekali. Tiba-tiba.
BUUMM!!
Kapsul perak yang kami tumpangi telah terpelanting jauh ke atas hutan lebat.
Seli menjerit kaget, dia terbanting ke layar ILY. Ali rebah jimpah menimpa lemari kapsul.
Aku berseru kencang, segera membuat tameng transparan berbentuk bola, mengelilingi kapsul.
ILY menghantam pepohonan, satu, dua, tiga, tak terhitung berapa kali. Seperti membuat garis di hutan, pohon patah, tumbang, memanjang hingga seratus meter, hingga akhirnya ILY terhenti.
“Kalian tidak apa-apa?” Aku bertanya. Berusaha berdiri.
Wajah Seli pucat pasi. Dia juga berusaha berdiri. Kakinya gemetar.
Ali bersungut-sungut, keluar dari lemari. Badannya terbanting ke sana, melesak masuk. Tapi kami baik-baik saja. Teknik tameng transparan yang menyelimuti seluruh kapsul perak sepersekian detik sebelum kami mendarat di hutan lebat efektif mengurangi dampak benturan.
“Itu apa tadi?” Seli tersengal.
Sebagai jawabannya. Terdengar raungan kencang dari arah Candi. Seperti suara gajah, tapi lebih keras dan nyaring. Mengerikan mendengar suara itu.
“I-tu ap-pa?” Seli mendecit.
“Semua siaga! Posisi bertarung!” Aku berseru tegas. Tidak ada waktu lagi.
“Terbangkan ILY, Ali!”
Ali segera loncat, susah payah duduk di kursinya. Menekan beberapa tombol sekaligus.
ILY segera naik ke atas. Tidak penting lagi mode menghilang atau pengintaian, sesuatu yang menyerang kami jelas bisa mengetahui posisi ILY meski mode itu aktif. Ali menyalakan lampu, menyorot ke depan, ke arah Candi, sumber suara.
Di atas permukaan danau, aku melihatnya pertama kali. Mahkluk itu berlarian buas, seperti bisa berjalan di atas air, tingginya dua puluh meter, badannya seperti manusia, tapi kepalanya, gajah. Itu persis seperti patung yang kami lihat sebelumnya, tapi yang satu ini hidup. Monster itu membawa tongkat perak panjang. Teracung ke depan.
BUMMM!!
“Awas Ali!” Aku berseru.
Tongkat perak itu mengirimkan pukulan jarak jauh. Berdentum.
Ali gesit membanting tuas kemudi, ILY melenting menghindar. Berhasil. Pukulan itu menghancurkan hutan seluas satu lapangan bola. Pukulan itulah yang tadi mengenai kapsul.
“Terbang tinggi Ali!” Aku punya ide.
Ali mengangguk, menarik tuas kemudi kencang-kencang. ILY melesat terbang, mencoba kabur.
Monster itu lebih dulu loncat tinggi, seperti bisa terbang dengan mudah. Tangkas dan cepat, tiba-tiba dia sudah mengambang di depan kami. Dari jarak sedekat itu, aku bisa melihat matanya yang merah, telinganya yang lebar, belalainya yang mendengus, dan tangan kirinya yang buas menghantam kapsul. Meninju kapsul ke bawah.
“Awass, Ali!” Seli menjerit.
Ali berusaha melakukan manuver menghindar. Terlambat.
Aku menggigit bibir, segera membuat tameng transparan. ILY terbanting lagi ke dasar hutan. Kali ini tidak separah sebelumnya. Tameng transparanku cukup kokoh menahan hantaman tinju. ILY seperti bola basket yang dibanting pemain setinggi dua meter, membal, memantul ke belakang.
Monster itu meraung marah. Dia sepertinya tidak suka melihat tameng transparanku. Segera berlarian mengejar.
Dan sebelum kami pulih dari serangan tadi, atau menyusun rencana menghadapinya, monster itu sudah tinggal seratus meter, berlarian mendekat menyibak pepohonan.
“Apa yang harus kita lakukan?” Seli bertanya.
Sebagai jawaban, terdengar raungan panjang dari candi.
Astaga? Monster ini ternyata tidak hanya satu. Ada dua.
Dari candi, berlarian monster berikutnya. Dengan tinggi, ukuran, dan senjata sama persis. Seolah satu monster tidak cukup untuk menghabisi kami.

*bersambung tere liye