Minggu, 18 Juni 2017

Apa kata mereka?

copyright by Michelle Jonny
Sama seperti siang dan malam, perasaan pun bisa berubah jadi terang dan gelap.
Sama seperti bunga yg tumbuh, cantik, lalu layu dan mati, begitu juga hubungan kita dengan semua orang.

Kita tidak bisa memaksa seseorang utk membalas kebaikan yg kita berikan pada mereka. Sama seperti kita tak bisa mengharap makanan yg kita telan 100% menutrisi tubuh dan TIDAK MENJADI KOTORAN.
Dan lagi, TIDAK SELALU makanan enak itu baik utk tubuh. Kadang yg pahit atau tawar justru lebih baik.

Sama halnya, perasaan sedih dan menderita justru adalah nutrisi yg dibutuhkan batin utk bertumbuh.
Selama kita 'berbeda', beberapa orang akan selalu menganggap kita SALAH.
Padahal, salah itu salah kalau menyakiti diri sendiri dan orang lain -- versiku.
Bukannya menuruti orang lain tapi menyakiti diri sendiri.
Apalah?

Nasehat, semuanya, boleh2 aja didengar. Tapi yg utama adalah diri sendiri.
Dalam mempertimbangkan Nasehat, kita mesti pasang Goal dan Keuntungan Jangka Panjang.
Contohnya kayak ada pempek di meja makan, padahal dokter bilang kita uda mesti puasa gluten.
Goal kita SEHAT.
TRUS, ada yg 'nasehati', "Udahlah.., jadi org ga usah terlalu bersih, makan aja,,,"
Lep. Mundur kita 10 langkah dari GOAL itu.

Dulu, kata mereka, janganlah bercerai, kasian anak2.
Sedangkan GOALku mau sukses berkarya dan membalas budi orangtua.
Solusi yg mereka berikan, murni omong kosong seperti, sabar dan terima apa adanya.
--- bagaimana pun, aku paham, mereka hanya manusia yg jagonya cuma bicara.

** Menurutku, lebih kasian lagi kalau anak2 selalu melihat papa mamanya perang BarathaYudha.
Klo tiap hari kepala ngebul sama masalah rumah tangga, kapan ide cemerlang bisa berdatangan?
Apalagi klo sampe terjadi 3 kingdom alias pihak ketiga.

Kata mereka, penderitaanku gak ada apa2nya dibanding si xxxxxx
Penderitaan koq dibanding2in? Dibanggakan?
** Memang betul kita harus sabar, tapi jangan kepleset. Kesabaran itu artinya ya kesabaran menghadapi diri sendiri. Jangan sampai karena masalah, kita tidak bisa mengubah orang lain, malah diri kita ini yg kita rusak. Lha yah piye?

Walau bukan Nasrani, aku selalu termotivasi dengan kata2 Yesus, "Maafkanlah mereka Bapa, mereka tidak tahu apa yg sedang diakukannya."

Dengan kesadarannya, Yudas mengkhianati Gurunya yg baik padanya.
Dengan kesadarannya, pasukan Romawi menerima suap utk menyiksa Yesus yg pernah menyentuh hatinya.
Dengan kesadarannya, warga hanya bisa melihat dan menangis melihat Sang Nabi disalib.
Seorang baik dihukum atas kebaikannya dan dengan kesadaran pula mereka mencemooh seolah ia penista walaupun ia tak pernah berbuat hina.

Aku beruntung, apapun kekerasan yg terjadi padaku tidak membunuhku.
Fisikku, meski lemah, namun imanku akan pemaafan dan kebaikan semakin kuat.
Mereka sungguh tidak tahu apa yg mereka katakan dan lakukan.
Tapi aku tahu apa yg kukatakan dan kulakukan.

Aku tau tujuanku adalah kesuksesan.
Dan itu sama sekali ngga ada hubungannya dengan apa yg mereka YAKINI.

Kata mereka, aku gak becus jadi istri.
Istri yg brekele.
Istri yg patut diselingkuhi dan ditinggalkan karena tidak patuh.
Ibu yg jahat dan tidak menangis walau anaknya tidak bersamanya.
Karena aku terlalu suka mengajar dan melayani orang banyak.

Hari ini, aku baru tau kalau aku melakukan sesuatu yg benar karena aku merasa sangat bahagia atas kegelapan yg kutinggalkan demi mencari terang.
Kata2 mereka tidak salah, hanya saja mereka mengatakannya pada orang yg salah.
Semua hal buruk yg terjadi. Menjadi batu loncatanku utk belajar lebih baik lagi.

Dari mereka yg kasar, aku menjadi lembut.
Dari mereka yg pelit, aku menjadi dermawan.
Dari mereka yg sombong, aku menjadi rendah hati.
Dari mereka yg selalu menghina, aku belajar memuji.

Setelah memahami semua ini, aku ngga lagi meratap saat 'abang ngga pulang beibeh, abang ga bawa uang beibeh"
Malahan aku merasa bebas saat dia tak di sekitar, karena aku bisa mewujudkan cita2ku selangkah lebih maju. Lagi. Lagi. Dan lagi.
Saat hari perpisahan final, aku sudah siap utk segalanya.
Malah kayaknya dalam hati ini lega, "Akhirnya bisa lepas juga.."

Sabtu, 17 Juni 2017

AMALAN WANITA HAID DI BULAN ROMADHON

copyright by Aini anwar
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang istimewa dan senantiasa dinantikan kedatangannya. Saat menginjakkan kaki di bulan nan mulia ini, entah mengapa, kita semua pasti mempunyai semangat yang di atas rata-rata. Ya, mungkin salah satunya adalah karena pahala amalan yang menjadi berlipat ganda.

Ada beberapa yang bisa kita lakukan untuk tetap meraup keutamaan bulan Ramadhan, di antaranya:

1.Tetap bangun di dini hari, layaknya orang sahur seperti biasa.

Jangan salah lho, membantu anggota keluarga dalam mempersiapkan makan sahur, adalah sebuah amal kebaikan. Disamping itu, kita juga bisa tetap panjatkan doa di waktu-waktu makbul, termasuk saat sahur (sebab masih masuk 1/3 malam). Meskipun tidak shaum, tidak ada salahnya bila kita turut makan sahur, anggap saja sarapan di awal waktu.

Rasulullah Saw. bersabda : “Makan sahurlah kalian. Sesungguhnya pada makan sahur tersebut terdapat keberkahan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

2. Senantiasa menjawab adzan dan memanjatkan doa di waktu antara usai adzan dan sebelum iqomah.

“Tidak akan ditolak doa antara adzan dan iqamah.” (H.R. Abu Dawaud, At-Tirmidzi)

3. Perbanyak sedekah

Rasulullah Saw. bersabda : “Sesungguhnya sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan.” (H.R. Tirmidzi)

4. Perbanyak dzikir dan wirid (termasuk bershalawat

Tetap berdzikir al-matsurat, tetap memanjatkan doa, membaca tasbih-tahmid-takbir, bershalawat serta memperbanyak istighfar.

5. Membaca buku-buku bermanfaat, mendatangi taklim, majelis ilmu atau sekadar mendengarkan ceramah dari berbagai media.

6. Memberi makan orang yang berbuka puasa. 

Rasulullah Saw. bersabda :  “Barang siapa yang memberikan makanan untuk berbuka orang lain akan mendapatkan pahala seperti apa yang didapatkan oleh orang yang diberi makanan tersebut, tidak berkurang dari pahalanya sedikit pun.” (H.R. Tirmidzi)

7. Tetap melatih kebersihan hati, dan menjaga ahlak baik.

Rasulullah Saw. bersabda :  “Bertakwalah di manapun kalian berada dan berbuatlah kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapus keburukan; perlakukanlah orang-orang dengan ahlak baik.”
(H.R Ahmad)

8. Tetap saling menasihati dalam kebaikan, misalnya saling berbagi tausyiah. (Q.S Al-Ashr: 3)

Itulah beberapa hal yang bisa seorang wanita lakukan jika mendapatkan siklus haid di bulan Ramadhan.

Ingat, jangan pernah bersedih, bersungut-sungut, menyesali diri, dan sebagainya. Sebab semua terjadi berdasarkan kehendak Allah. Toh, jika sedang tidak suci bukan berarti hilang kesempatan meraih keutamaan bulan Ramadhan.

Allah itu Maha Adil, Maha Melihat, Maha Pengasih-Penyayang, sekaligus Maha Pemberi Perhitungan. Jangan pernah berburuk sangka padaNya, karena Allah berdasarkan prasangka hambaNya dan Allah lebih mengetahui segala yang terbaik bagi kita.

So, jika tamu bulanan menyapa, berlapang jiwa, jalani, dan nikmati saja!

Rabu, 14 Juni 2017

ramadhan

http://www.hipwee.com/list/kamu-yang-ngaku-sudah-dewasa-ini-nih-6-perbedaan-ramadhannya-anak-kecil-dan-orang-dewasa-yang-harus-kamu-tahu/?ref=community_homepage

Selasa, 13 Juni 2017

istri

copyright by Michelle Jonny

Ngga tau gimana dengan sebagian besar orang, ya..
Tapi bagiku pribadi, mengalah itu adalah pantang. Apalagi kalau aku sudah merasa ini adalah hal yg tepat!! Tepat darimana? Dari riset. Bukan cuma bicara.
Kalau bisa dibuktikan dengan proyeksi bahwa apa yg kumaksudkan ini benar, maka ngga ada alasan utk 'mengalah' pada sesuatu yg salah.

Memang, kuakui, ngga semua wanita siap utk 'berkeras' karena alasan anak, biar ga ribut, biar ga blablabla..
Aku emang koq BUKAN istri yg terbaik, tercantik, terpintar, dan ter ter lainnya.
Karena setiap pria pasti punya penilaian sendiri atas diri wanita yg dinikahinya.

Sayangnya, pikiranku memang agak nyeleneh dari kebanyakan wanita.
Dan aku pun penganut paham musyawarah mencapai mufakat.

Contohnya ngga jauh2..
Perjuangan Mendirikan Sagha aja deh..

Gak ada manusia yg sempurna sampai kita bernafsu menginginkannya.
Namun setelah nafsu itu luntur, dan sifat2 yg bertolak belakang dengan (keinginan) kita muncul, ia nampak tak lagi sempurna dan banyak cacatnya.
Jadilah satu sama lain saling tunjuk dan menuding kesalahan. Hubungan pun jadi melelahkan dan semakin membingungkan.

Ya, aku bukan ahli dalam menjelaskan soal hubungan.
Ini cuma hasil kajian, saringan, dan teknik yg menurutku membawa manfaat. Sering aku share pada mereka yg sempet ketemu langsung denganku. Dan mereka yg disiplin, akan mendapat keuntungan.
Hm,, kupikir, ada baiknua aku share sekalian -- terlepas dari resiko adanya kontroversi.

*** Sebelum pacaran atau mulai kenalan, kita mesti tau banget, kira2 kriteria yg kayak gimana yg kita inginkan? Visualisasi ini harus jelas. Sambil melakukan visualisasi, jangan pernah berhenti menanam cinta dan penghiburan pada org2 yg kesepian seperti panti jompo, panti asuhan, atau orang yg tidakunya anak/ tidak menikah. Penghiburan kadang ga perlu uang. Cukup jadi temen ngobrol. Wujudkan pula berbakti pada orgtua.

*** Sebagai seniman gambar, aku bisa menggambar karakter yg aku inginkan. Aku suka. Aku cinta. Dan aku pun bisa membayangkan sifatnya adalah yg sehat, jujur, polos, pekerja keras, penyayang, dan hanya hidup utk diriku.
Karena ini adalah angan2, jadi kayaknya bole2 aja kita mengharap yg baik2, tak terbatas (suka2 gue donk)
😝😝😝😝😝😝

*** Setelah ketemu, dia 100% sama seperti gambaranku.
Sampai aku pun takjub. Tapi... ada tapinya.. namanya juga dia ini manusia, bukan robot, pasti ada juga sifat2 yg tidak aku sebut saat menggambar 😂😂😂😂😂😂😂😂
Seperti, dia polos ternyata berasal dari desa.
Dia jujur ternyata kadang suka ketus.
Dia pekerja keras ternyata suka lupa waktu dan tidur setelah mengeluh sakit pinggang.
Dia hidup hanya demi diriku ternyata malah introvert abis dan ga percaya diri.
Nah kan?

*** Intinya, kesuksesan itu bisa DIULANG! Dan kalau uda tau caranya, lakukan lebih baik lagi!
Aku pun mulai menggambar tentang rumah kami, anak kami, dan mobil kami. Padahal saat itu kami masih kos dan motor masih cicil. Kami terus berbuat minimal 1 hal baik setiap hari.
Disinilah pentingnya MEMILIH ORANG YG TEPAT. Bagi KoJonny, aku emang bak bidadari yg muncul 1000 taun sekali. Bawah sadarnya sudah mengamini aku adalah "berkat terbesar" yg dia dapat seumur hidup.
Amin...

Sudah begitu pun, bukan artinya hubungan kami ga bermasalah. Karena sebagai laki2 dewasa, dia pun punya ego yg besar. Bertolak belakang banget dengan semangat menyayang dan mengasihi.

Long short story, rumah - anak - mobil - penghasilan baik - tercapai.

*** Giliran aku nih, yg mau 'menggapai cita2' dan kira2 sifatnya sudah bisa kubaca. Utk mendapatkan apa yg kita inginkan; "TANYA!! MINTA BANTUAN pada org yg tepat"
Aku 'mendidik' KoJonny dengan caraku, semua ada proposal, gambaran, ilustrasi.

Biar 'dana' mengalir, aku harus mendobrak stereotip istri yg ada di pikirannya.
Baginya, istri2 itu boros, pecicilan, suka gosip, dan suka pamer demi bikin orang lain iri.
Hm... tugasku adalah meyakinkan dia bahwa aku adalah org yg tepat utk berinvestasi.

*** Belajar menerima kesalahan dan ngga ngotot
Saat klinik kuproyesikan, beda jauh dengan hasilnya karena ternyata aku banyak menerima pasien yg tidak mampu dan klinik ini bener2 jadi bisnis non profit.
Aku mengakui kesalahan dan dia bilang, ngga apa.. kan demk kebaikan.. kebaikan yg membawa kita jadi 'berkecukupan' jadi selama itu baik, pasti akan membawa kita ke tempat yg lebih baik lagi, katanya.

*** Mampu membuktikan komitmen
Komitmen ku adalah, tidak membuat Jovan jadi terbengkalai.
Dia lahir karena aku menginginkannya, maka aku pun harus merawatnya dengan baik.
Meskipun akhirnya, KoJonnya tersentuh karena kegigihanku dan menyewa 1 babysitter ekstra utk kami.

Saat mengakuisisi Avaloka menuju ke Sagha, proposalku adalah BEP 1 tahun dari nilai investasi.
Tapi belum sampai bulan ke3, kami sudah Return Of Investment. Dari tabungan dll bahkan bertambah 1 aset berupa sebuah mansion.

Semakin aku bisa membuktikan apa yg aku katakan, semakin kuat pula kedudukanku.

*** TULUS
Dia boleh2 aja merasa insecure karena aku ketemu banyak orang dan belajar banyak hal.
Disinilah aku harus membuktikan kalau apa yg kulakukan bukan demi aku sendiri tapi demi keluarga kita bersama. Keluarga besarnya juga, dan aku juga.

*** MEMBERI JABATAN
Aku terus mengatakan kalau Sagha berdiri bukan karena aku. Kalau aku hebat, uda dari jaman Avaloka aku sukses, kan? Justru ada kendala. Sukses itu kerja team. Terutama sumber dana. Kalau ga ada dana dari PakBoss, kan kami jadi macet juga semuanya? Dengan dana yg kuat, manajemen yg handal, tim yg berhubungan secara nyata dengan konsumen (distributor dan turunannya) maka kami bisa mencapai hari ini.

*** TRANSPARAN
Hampir, aku tidak memiliki 'rahasia'. Tapi bukan artinya tidak punya privasi.
Privasiku adalah berkumpul dg keluarga, menggambar, dan melakukan hal2 yg kuinginkan.
Tapi HP, buku, catatan, komputer, semua terbuka tanpa password dan dia bisa lihat apa saja kapan saja.
* meskipun sampai detik ini Hpku ndak pernah di cek.

*** DISIPLIN
Disiplin adalah bentuk kita menghormati peraturan utk diri sendiri. Kami bukan militer, tapi karena aku sayang diriku, tubuh ini membawaku pada banyak keindahan, maka aku pun harus lembut padanya.
Dan karena usaha menyayangi diri sendiri ini, aku jadi disegani olehnya.

*** KOMUNIKASI
Dengan gaya pikir istimewa yg dia miliki, aku sudah bisa mentolerir kelemahannya dalam komunikasi dan merasa spesial karena 'kunci'nya aku yg pegang.
Timing kapan harus bicara dan gimana caranya, kira2 aku sudah tau.

Inilah yg kumaksud tidak mengalah!!
No!! Kadang seseorang melarang kita utk berbuat sesuatu dengan cara berbeda karena mereka belum 'move on' dari kepahitan hidupnya
Kalau kita bisa membuktikan kebenaran dan hasilnya, maka hidup kita akan berubah.
Selamanya.

*sengaja ditulis panjang biar yg suami2 ga niat baca*
😂😂😂😂😂😂😂😂

Senin, 12 Juni 2017

Public Commitment and the Consequencies

copyright by Michelle Jonny
Setelah bercerai, aku pulang kembali ke rumah gadis dan semua disana menerimaku dengan tangan terbuka.
Then, my Dad, asked me like, "Oke, sekarang kamu uda hidup baru lagi, rencanamu mau ngapain? Gimana kalau ambil S2?"
"Dad, i hate school..," jawabku.
Ini aneh, baginya.
Karena aku menamatkan SMA di usia 16 dan S1 di usia 19.
Guru2 selalu memujiku di depan orangtua, dan mereka mengira, aku suka sekolah, makanya aku semangat banget sampe menyelesaikan semua lebih cepat dari anak2 lainnya.

Mom dan dad, nanya terus, kenapa kenapa kenapa?
Bagi mereka, seorang wanita - akan berkelas kalau otaknya cerdas - apalagi, karena aku sudah berstatus janda, mereka khawatir, aku akan dipermainkan laki2 atau mengalami masa depan yg pahit.
Lalu aku coba diskusi dengan baik, kalau aku merasa sekolah itu buang2 waktu.
Justru aku 'ngebut' karena aku mau ngejar kegemaranku yg lain..

"Apa itu?" Tanya Daddy.
"Mengajar," Daddy kaget dan ngga nyangka kalau aku bakal jawab gitu. Usiaku baru aja 20. Siapa yg mau diajarin sama anak kecil?
Tapi Dad ngga mengecilkan aku. Justru Dad nanya lagi, "Mau ngajar apa?"
"If you don't mind, aku merasa terbantu oleh meditasi sampai bisa kembali ke tangan kalian. Aku merasa menemukan kebijaksanaan - walau sedikit. Kalau boleh, aku mau berbagi pengalaman ini ke semua orang."

"Daddy takut kamu nyesal.. semua anak seumur kamu lagi have fun, berteman, bersenang2," katanya.
"Lah, trus gimana? Aku ga suka beramai2. Aku akan nyesal kalau ngga nyoba, Dad..," jawabku.
Atas keinginanku, Dad memberikan sedikit lahan di depan rumah dan dibangun sesuai seleranya (bagiku, kayak gimanapun tempatnya, ga masalah, yg penting kesempatannya)

Long short story, di kelas meditasiku, aku ketemu Koko Ganteng ini.. cieeee cieeeee nostalgia nih yeeee...
Everything change, since then.
Aku jadi semakin percaya apa kata Guruku;

** setelah menguasai sesuatu yg terbukti manfaatnya, ajari org lain utk merasakannya

** jangan pelit dalam hal apapun, karena apa yg kita tanam akan kita tuai nantinya. Menanam ilmu pada org lain hasilnya bijaksana, menanam kemumetan pada org lain hasilnya 'ketidakpahaman'
SUB INI penting karena ketidakpahaman artinya juga kesulitan menerima perbedaan.
"Gue gak habis pikir loh, koq dia bisa gitu ya? Padahal kan blablabla..," sering denger?
Ketidakmampuan menerima perbedaan juga bisa membuat kita menderita karena kita jadi menghujani diri dengan rasa tidak adil, penghakiman --- yg hanya akan menggiring kita pada masalah2 lainnya.

** kebijaksanaan itu mudah, ngga sulit. Ngga mesti ngerti kata2 mutiara atau membahas bahasa2 kesadaran yg ruwet biar jadi bijaksana. Bijaksana itu cukup dengan 1 kalimat : tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain.

** apa yg kamu inginkan, bantu org lain mendapatkannya lebih dulu

** apa yg tidak kamu inginkan, jangan lakukan pada siapapun

** memahami kalau segala sesuatu itu ada 'jalannya'. Kita membantu, boleh, tapi kalau bantuan itu tak diterima atau tidak sesuai hasil yg diinginkan, let it go lah~

Setiap orang pasti pernah melakukan Public Commitment.
Tapi hanya beberapa saja yg berhasil melaksanakannya setelah digempur konsekuensi atas komitmen yg dipublikasikan itu. Syarat public commitment agar bisa berkonjungsi dg alam dan diijabah adalah; harus merupakan sesuatu yg bermanfaat bagi mahluk lain.

Seperti : aku ingin sukses dan jadi orang kaya
Konsekuensinya : kamu akan kurang tidur, selalu banyak kerjaan dan waktu utk keluarga berkurang.
.. tak jarang, konsekuensi selalu menjadi konflik bagi kebanyakan orang
Banyak orang mau Kaya Raya, tapi ditanya, klo uda kaya mau ngapain? Bingung..
Itu ga mungkim tercapai karena alam ga akan bekerjasama dg keinginan yg tak bertujuan baik tersebut.

Oh, lupa, ada cara lain utk cepat kaya.
Berbisnis maksiat. Ini cepet banget kaya raya. Tapi setelah 'sampai' disana, mereka akan menemukan kalau 'kekayaan' ini hampa.. ga ada artinya.

Atau menjadi kaya dengan 'egois', berhati dingin, kejam, sok profesional?
Yg akan ditemui cuma kesepian walau uang bertriliun banyaknya.

Aku dan suamiku, hanya manusia biasa yg setara dengan orang lainnya.
KoJonny selalu mengatakan, ia akan menjadi laki2 yg menghargai wanita dan menyayangi anak2.
Konsekuensinya?
Wanita selalu sulit dimengerti dan anak2 selalu egois, berisik, cengeng, dll.
😂😂😂😂😂😂

Sebagai pembimbing meditasi, aku pun bermasalah dengan konsekuensi.
Public commitment, terlanjur tercetus. Sementara, ngga semua orang bersedia berubah, ngga semua orang belajar meditasi demi mengembangkan diri. Beberapanya, bahkan datang 'biar cepat kaya' -- padahal utk jadi kaya, tersedia paket lainnya dan bila dilakukan dg tepat, kekayaan materi -- sangat mudah didapatkan.

Di saat kita tertimpa konsekuensi (bukan masalah) kita harus ingat, apa pencetus sampai kita berpikir kalau ini yg kita inginkan?

Konsekuensi dari puasa adalah lapar.
Konsekuensi dari menikah adalah kewajiban utk berbagi.

Apapun itu, pasti ada konsekuensinya.
Masalahnya, seberapa kuat keinginan kita utk terus menuju sasaran?
Selama konsekuensinya masih wajar dan ada jalan keluar, sesulit apapun, itu pantas dibuktikan.

Kalau boleh dirayakan, tahun ini adalah tahun ke 8, KoJonny dan aku tidak membunuh mahluk walau serangga, dan tidak terlibat dengan tindakan yg menyakiti diri sendiri (tidak memasukan 'racun' ke mulut)
Dia mengatakan padaku utk sungguh2 hidup dalam cara2 yg kuyakini mampu membawa kami pada kebahagiaan.

Konsekuensinya banyak (bagiku)
Beberapa kali Jovan kena demam berdarah, tapi kami tetap anti menggunakan pembasmi serangga.
Kami mencoba cara lain seperti mengoles Sagha setelah Jovan mandi, dan merawatnya dengan baik saat dia kena DB. Membersihkan rumah dan menggunakan difuser + Lavender oil. Ga ada jaminan yg suka bunuh serangga bakal bebas digigit nyamuk, kan?
DB belum tentu, tapi paru2 sudah full racun dari obat anti serangga? Sama aja boong 😂

Dilema datang kalau semut datang ke makanan kami.
Biasanya, kami sebarkan kopi dan garam sampai semua hilang dengan sendirinya.
Inilah yg membuat aku kagum padanya.
Aku aja, belum bisa 100% ikutin cara2 dia (meski kutau itu benar dan baik)
Sementara dia, demi menjaga ikrarnya utk menghargai aku, bersedia hidup dengan cara2 yg dia yakin membawanya pada kebaikan (meski saat itu belum terbukti)

"Alam menjaga segala isinya, bila kita membantu alam menjaga mahluk lainnya, apapun cita2 kita, alam akan mengabulkannya. Logis, karena energi kita berbaur dan bersinergi denganNya," kata Guruku.

"Saat kamu menuju Puncak Gunung karena ingin mendapat jamur besar, jangan sia2kan jamur kecil yg ada dalam perjalanan. Pungut, kumpulkan, dan manfaatkan sampai kamu berhasil meraihnya.

Sama seperti kamu, Miselle, bila kamu ingin menjadi Guru. Atau Ahai mau jadi orang kaya, jangan sepelekan setiap ide kecil, masalah2, atau kawan atau musuh yg datang. Terima mereka, hadapi sepenuh hati. Sampai pada akhirnya kamu mengerti, dan ketika Jamur Besar sudah di tangan, kamu paham bagaimana cara merawatnya, mempertahankan, dan memeliharanya agar semakin banyak dan menjadi manfaat bagi mereka yg juga sedang mencarinya."

mari jadi MAnusia Langka

Barang langka itu mahal. Semakin antik suatu barang semakin mahal harganya. Begitupun manusia.., semakin langka semakin mahal nilainya.
Seperti apa sih manusia langka itu?

*YANG LANGKA ITU…*

*ISTRI*
yang tunduk patuh pada suami...
yang senantiasa berseri seri saat dipandang...
yang ridha terdiam saat suami marah...
Tidak merasa lebih apalagi meninggikan suara...
Tercantik di hadapan suami...
Terharum saat menemani suami beristirahat....
Tak menuntut keduniaan yang tidak mampu diberikan suaminya...
yang sadar bahwa ridha-Nya ada pada ridha suaminya...

*YANG LANGKA ITU…*

*SUAMI*
yang mengerti bahwa istrinya bukan pembantu...
Sadar tak melulu ingin dilayani....
Malu jika menyuruh ini-itu karena tahu istrinya sudah repot seharian urusan anak dan rumah...
yang tak berharap keadaan rumah lapang saat pulang karena sadar itulah resiko hadirnya amanah amanah yang masih kecil...
yang sadar pekerjaan rumah tangga juga kewajibannya....
yang rela mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena rasa sayangnya terhadap
istrinya yang kelelahan....

*YANG LANGKA ITU…*

*ANAK LELAKI*
yang sadar bahwa ibunya yang paling berhak atas dirinya...
yang mengutamakan memperhatikan urusan ibunya...
yang lebih mencintai ibunya dibanding mencintai istri dan anak anaknya...
yang sadar bahwa surganya ada pada keridhaan ibunya...

*YANG LANGKA ITU…*

*ORANG TUA*
yang sadar bahwa anak perempuannya jika menikah sudah bukan lagi miliknya....
yang selalu menasehati untuk mentaati suaminya selama suaminya tidak
menyuruhnya kepada perkara munkar....
yang sadar bahwa keridhaan Allah bagi anaknya telah berpindah pada ridha suaminya....

*YANG LANGKA ITU…*

*SEORANG IBU*
yang meskipun tahu surga berada di bawah telapak kakinya,
Tapi tidak pernah sekalipun menyinggung hal tersebut saat anaknya ada kelalaian terhadapnya....
yang selalu sadar bahwa mungkin segala kekurangan pada anak anaknya adalah hasil didikannya yang salah selama ini...
yang sadar bahwa jika dirinya salah berucap maka malaikat akan mengijabah do'anya...
karena itu dia akan berhati berhati dalam menjaga lisannya dari berkata yang mengutuk anaknya...

*YANG LANGKA ITU…*
Anak yang senantiasa mendoakan kebaikan bagi orangtuanya dalam keheningan sepertiga malam terakhir...
Meskipun sehari hari dalam kesibukan rumah tangganya...
Dalam kesibukan usahanya...
Dalam kesibukan pekerjaannya...

*YANG LANGKA ITU…*
Orang-orang yang saling memberikan nasehat dalam kebenaran dan kesabaran...
yang saling memaklumi jika hal hal di atas lupa atau lalai dilakukan....
Sehingga saling memaafkan diantara mereka...
Maka rahmat Allah berada diantara mereka....
Dan Allah denganb kemurahanNya memaafkan kesalahan kesalahan mereka...

*YANG LANGKA ITU*.......
Manusia yang Giat Khusu' *SHALAT MALAM* walaupun manusia lain *TERLELAP TIDUR* dan tidak banyak yang melakukannya.......

*MARI KITA JADI MANUSIA LANGKA*😄

Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan hidayahNya pada kita semua...Aamiin Ya Robbal Alamin.

*Salam bahagia.*
*Teman para pencinta-Nya* 🙏
Jangan lupa di-share yaa, supaya bermanfaat utk yg lain..💐✨✨

Sumber : Group WA

#ADMINFANSPAGE

Minggu, 11 Juni 2017

jurus sakti mandraguna

Wah, bentar lagi lebaran. Asyik. Banyak ketupat, opor, rendang, kue-kue. Belum lagi amplop THR, seru ini. Tapi juga sekaligus horor. Apalagi yang jomblo, ditanya kapan nikah, mana calonnya, terus keluarga pd tertawa (ngetawain) kayaknya ‘nista’ banget jadi jomblo pas lebaran. Juga yang pengantin baru (juga lama), ditanya mana momongan? Kok belum isi juga? Pun sama, yg sudah punya anak, teteeep ditanya, kok belum ada adiknya? Juga tambahkan pertanyaan, kapan lulus? kapan wisuda? dll.

Nah, berikut saya kasih tips jitu menghadapi hal-hal ini (tapi ini bergurau saja):

1. Bertanya lebih dulu, sebelum ditanya

Misal, pas tiba di rumah pakde/bude, persis masuk, habis salaman, maaf2an, pas mereka mau nanya hal itu, kalian nanya duluan. Kalian harus tahu, strategi pertahanan terbaik itu adalah justeru menyerang. Apa yg ditanya? Banyak, tergantung situ, tega atau nggak. “Pakde, kapan punya rumah baru?” “Bude, kok kulkasnya, tipinya masih jelek gini, kapan beli baru?” atau khusus buat yg suka nyinyir berat selama ini, juga bisa, “Pakde, kapan punya istri kedua? Kok baru satu saja sih?” Dijamin, nggak akan ada yg nanya kalian lagi. Paling juga jadinya dimusuhin, di blokir nggak boleh lagi datang.

2. Cool!

Kunci utama menghadapi pertanyaan ini adalah, cool! Apa itu cool? Tsaaaa.... memasang gaya paling keren seluruh dunia, tersenyum lima senti, menjadi orang paling bahagia. “Kapan nikah?” Cool. “Kapan punya bayi?” Cool. “Kapan ada adiknya lagi?” Cool. Kapan wisuda? Cool. Tidak usah dijawab, fokus saja cool. Bila perlu dramatis sambil benerin gaya rambut, bergaya menepuk2 baju, cool. Tidak usah dijawab. Pasti keki sendiri yang nanya.

3. “Appaaa?”

Ini juga jurus jitu. Kalau ada yang nanya urusan ini pas silaturahmi keluarga, selalu jawab dengan “Appaaa?”. Kapan nih nikahnya? jawab: “Apppaaa?” (sambil digaya2in nggak dengar gitu). Iya, kapan nih nikahnya? jawab lagi: “Apppaaa?” (sambil ngucek2 kuping). Eh, situ budek atau tai kupingnya sekilo, kapan nikahnya? jawab saja lagi: “Appaaa?”

4. Bertukar posisi dengan lincah.

Ini strategi baru. Efektif buat ngadepin mak-mak, babe-babe, pakde, bude yg suka basa-basi kelewatan. Bagaimana cara melakukannya? Gampang. Jangan lama2 ada di sebuah posisi. Baru duduk, langsung pindah. Baru pindah, sudah pindah lagi. Baru makan ini, sudah bertukar posisi, makan yg lain. Biar susah orang lain ngikutin kita. Atau bila perlu, habis salam, maaf2an, langsung pulang. Nggak ada kesempatan buat ngobrol apapun. Aman.

5. Dramatis

Ini juga tips menarik. “Kapan punya bayi?” Jawab pertanyaan itu dengan diam sejenak, lantas mulailah menangis, terisak, tergugu, bila perlu sampai jatuh ke lantai.. “Kapan menikah?” Juga sama, jawab saja dengan menangis sedemikian sedihnya, pegang tangan yg nanya, tambahin dengan kalimat, “Pakde, calon saya itu tega banget mendadak pindah ke London. hiks hiks hiks.... Pakde mau ngasih tiket ke sana? hiks hiks hiks biar saya nyusul ke sana buat ngelamar.... Sekalian hotel bintang lima, uang saku 2.000 dollar. hiks hiks” Tahun depan, kalau Pakde ini masih nanya--dan dia nggak ngasih uang tsb, dia berarti memang tidak punya nurani lagi. Cuma bisa nanya, bantu kagak.

6. Amin.

Apapun pertanyaan orang lain, jawab, “Amin.” Ini juga jurus efektif. Kapan punya adik? Amin. Kapan wisuda? Amin. Kapan lulus? Amin. Mau makan ketupat? Amin. Mau amplop THR? Amin. Apapun dijawab Amin.

7. Hehe....

Kapan Nikah? Hehehe.... Kapan wisuda? Hehehehe... Kapan lulus? Hehehe.... ini strategi simpel, tapi efektif utk tdk saling menyakiti. Apapun pertanyaannya jawab dengan tertawa, hehehe... Tapi pastikan saja, tidak tertawa pas sendirian lagi makan opor, hehehe. Sendirian lagi makan ketupat, hehehe... Kalau sampai begitu, doooh, hayati sedih betul lihatnya, bang, benar2 mendesak memang harus segera menikah, sampai nggak tega.

8. Jurus Super Tega

Terakhir. Jika kalian memang sudah mengkal banget ditanya, dan desperate mau jawab apa, silahkan pakai jurus super tega ini. “Kapan menikah? Kok masih sendiri saja?” jawab: “Lah, Pakde kapan mati? Kok masih hidup saja?”. “Kapan hamil? Kok belum isi-isi sih?” jawab: “Lah, Bude kapan matinya? Kok masih sehat?” Dijamin kalian bisa dicoret dari daftar penerima hibah harta warisan, hehe... Atau lebih parah lagi, diusir dari rumah. Tapi mau bagaimana lagi? Itu memang pertanyaan susah dijawab. Kan “kapan menikah”, “kapan punya bayi” itu sama persis dengan pertanyaan “kapan mati”, itu rahasia Tuhan,toh? Siapa coba yg bisa jawab? Sudah tahu rahasia Tuhan, masih banyak nanya pula. Kacau banget.

Kurang lebih begitu. Saya tdk bertanggungjawab atas komplikasi, efek samping, efek depan, belakang, atas kiri kanan bawah dari saran2 di atas.

*Tere Liye