Kamis, 20 Juli 2017

perpisahan

Bagaimanapun, dalam setiap perpisahan, pasti tidak semua pihak berduka. Tapi bagi yg ditinggalkan rasanya akan sangat sakit.
*
Alasan inilah yg membuat aku selalu 'meninggalkan' lebih dulu setiap pasangan yg kurasa tidak cocok sebelum mereka menyadari kedangkalan hubungan kami.
Sebenarnya, alih2 menghemat waktu, aku playsave juga sih.
Instingku berbicara kalau "Bukan kamu yg kucari. Bukan 'perlakuan' dan 'perasaan' ini yg ingin kurasakan sepanjang hidupku."
Sebab setelah masa PDKT sudah basi, barulah keluar aroma sesungguhnya dari sebuah eksistensi.
*
Bukan cuma pada pasangan, pada apapun, SAMA.
Even orangtua yg baru 'melihat' anaknya akan berubah dari sayang banget sampe -ngga terlalu sayang- dan suka mengumbar sifat manusiawinya; suka marah, menuntut, mengatur, dll.
*
Aku selalu kembali pada satu kesimpulan klasik; tak ada yg abadi..
We all know that..
Tapi tetap susah saat berhadapan dengan kata GOODBYE dan duduk di posisi yg ditinggalkan.
*
Ketika aku menyadari kalau aku memiliki 'kelebihan' akan sesuatu. Dengan berbagai usaha aku mencari 'siapa dan apa sebenarnya aku ini' dan 'untuk apa aku dilahirkan di dunia ini'
*
Long short story...
Aku menemukan Guru yg berkata, "Apapun kita di kelahiran sebelumnya, tidak penting. Yg penting adalah apa yg kita lakukan di kelahiran ini. Dan bagaimana kita mendesign hari esok. Ga usah jauh2 ke masa depan. Cukup besok. Kamu mau jadi apa?"
*
Beliau mengedepankan research daripada drama 'vision dan penampakan'
Semua itu ga penting kalau ngga membebaskan seseorang dari kelaparan, keserakahan, ketakutan, dan kebencian.
*
Aku mulai melakukan riset.
Bukan lagi berfokus pada feeding my emotion saat berelasi dengan pasangan atau sahabat.
Aku mulai memperhatikan, mempelajari, memprediksi. Setiap kebiasaan, masa lalu, dan pasang surutnya mood dan emosi mereka yg ternyata mempengaruhi keputusan yg diambil.
Dan keputusan itulah yg menjadi cerita hidup mereka.
*
Aku merasa kasihan..
Kita semua kayak yg paling tau tentang diri kita sendiri. Tapi saat kita sedih, kita ngga tau apa yg harus dilakukan. Banyak org yg mengatasinya dg kamuflase. Minum2, pesta sex, narkoba, atau makan yg manis2/ gurih/ enak/ berlemak. Yg pastinya akan membawa mereka pada kesedihan yg lebih dalam karena akibat - wrong view - itu. Mereka ga menyelesaikan dirinya sendiri.
*
Fase keduaku, aku merasa HEBAT dan mampu menangani masalah2 yg mereka hadapi.
But in the end..
Aku lelah.. ternyata sebagai manusia, aku pun memiliki kebutuhan yg sama utk melihat 'apa yg terjadi pada diriku'
*
Fase ketiga, aku merasa DEWASA.
Setiap orang memiliki kisahnya sendiri. Begitu juga aku. Tidak ada orang yg 'terpaksa' melakukan sesuatu. Walaupun situasi sangat menghimpit. Seperti saat aku tak bisa memilih antara harus bertahan dalam suatu hubungan beracun atau meninggalkannya?
*
Aku pilih utk membebaskan diriku sendiri.
Begitupun dengan orangtua.
Tidak ada 1 mahluk pun yg lebih mengerti aku daripada diriku sendiri, kan?
*
Goodbye, always hard to say.
Tapi kalau itu dilandasi dengan niat utk bertumbuh (bukan dengan kebencian) maka semua pihak yg ditinggalkan, akan baik2 saja.
Awalnya aku takut kalau pasangan bisa menyakiti dirinya sendiri saat aku pergi.
Namun akhirnya, aku tetap pergi setelah merasa dia akan selalu dijaga keluarganya. Meski akhirnya dia benar2 menyakiti diri sendiri pun, itu bukan salahku. Karena saat aku 'sakit' aku pun tidak menyalahkannya.
... begitu juga dg orgtua.
Mereka akhirnya banyak belajar dari kepergianku. Dan all is well - all can wait.
Hari ini mereka justru membangga2kan aku.
*
Simple, karena aku membuktikan kalau aku sedang melakukan sesuatu yg benar.
Dan sampai di FASE ke4, SHARING and CARING
DI BALIK setiap GOODBYE, pasti ada hal yg bisa dipelajari.
Ada kesalahan yg tak akan diulangi.
Dan ada kelegaan yg pantas disyukuri.
Terutama sebuah pertanyaan terjawab, "apa yg paling kita butuhkan dalam hidup ini"
Sumber Michelle

novel Bintang part 8

*SELENA-- spin off Serial BINTANG

**episode 1

Namaku Selena.
Aku lahir di Distrik Sabit Enam, dua ratus kilometer utara Kota Tishri, Klan Bulan. Itu bukan kawasan yang maju dan canggih. Itu kawasan kumuh, padat dan tertinggal.
Aku yatim piatu sejak kecil. Orang tua-ku petani jagung. Ayahku meninggal saat aku berusia delapan tahun, karena sakit keras. Dia memiliki sakit bawaan, sejak kecil sudah menderita. Keluarga kami miskin, kami tidak bisa membawa Ayah ke Pusat Pengobatan Mutakhir Kota Tishri. Setelah berjuang selama berbulan-bulan, Ayah meninggal, dimakamkan di Distrik Sabit Enam, pemakaman rendah, kami tidak punya uang untuk mengirim Ayah ke dalam sistem pemakaman Kota Tishri yang modern. Ibuku menyusul Ayah saat usiaku sembilan tahun. Dia sakit-sakitan sejak Ayah meninggal. Awalnya, hatinya yang sakit, separuh semangatnya hilang, kemudian menyusul fisiknya. Hilang keinginan sembuh, tidak bertahan lama, tidak ada biaya pengobatan, Ibu meninggal di suatu malam saat bulan tertutup awan pekat. Aku ingat sekali kejadian malam itu, dengan senyum tipis Ibu berkata kepadaku, “Selena, jadilah anak yang kuat. Kamu akan sendirian menghadapi kehidupan.”
Aku mengangguk pelan.
“Ibu akan pergi, Nak, seperti Ayahmu. Maafkan Ibu yang tidak bisa membesarkanmu dengan baik.”
Aku kembali mengangguk pelan, aku tidak menangis. Sejak kecil aku tidak menangis, bahkan saat lahir aku pun tidak menangis. Kejadian langka yang kemudian membuatku kadang dipanggil, ‘Anak yang tidak pernah menangis’.
Angin malam bertiup kencang memainkan rambut keritingku.
“Selamat tinggal, Selena.”
Ibu menggenggam jemariku, memejamkan matanya, pergi selama-lamanya.
Esok pagi-pagi, tubuhnya dimakamkan di sebelah Ayah. Itu ‘kelebihan’ pemakaman rendah, setidaknya, pusara berbentuk bundar Ayah dan Ibu bisa bersisian di belakang kebun jagung kami.
Tidak banyak yang datang di pemakaman Ibu—juga Ayah dulu. Hanya sepuluh-lima belas orang tetangga kami. Satu-dua memelukku, bilang ikut berduka cita. Satu-dua menyeka air mata di pipi, berbisik bilang turut kehilangan. Beberapa kapsul terbang usang dan kusam teronggok di parkiran, kemudian terbang terbatuk-batuk setelah acara selesai. Tidak ada yang terlalu lama ingin menghabiskan waktu di rumah kami.
Meninggalkan aku sendirian, bersama Togra.
“Ibumu menulis sepucuk wasiat untukmu, Selena” Togra, tetua Distrik Sabit Enam mengajakku bicara setelah semua orang pergi. Usianya sekitar seratus tahun. Wajahnya datar, tanpa ekspresi.
Aku menerima kertas itu. Membacanya.
“Pamanmu Raf, yang tinggal di Kota Tishri akan merawatmu. Pergilah. Temui dia. Tertanda Ibu.”
Pendek saja pesan Ibu. Ada alamat Paman Raf di balik kertas tersebut.
Aku menatap kertas itu. Jika hanya sependek ini, kenapa Ibu tidak bilang saja langsung sebelum dia meninggal? Entahlah. Aku tidak sempat memikirkannya, melipat kertas itu perlahan.
“Kamu sudah tahu apa yang harus dilakukan, Selena?”
Aku mengangguk.
“Bagus.”
Tapi aku tetap diam, menunduk.
“Aku tahu Ibumu sama sekali tidak punya uang. Tapi tetanggamu berbaik hati, mereka telah mengumpulkan uang untuk perjalananmu ke Ibukota, Selena.” Togra mengulurkan amplop berwarna merah—seperti tahu apa yang sedang kupikirkan sambil menunduk.
Aku menerimanya.
“Tidak banyak. Tapi itu cukup hingga kamu tiba di sana.”
“Terima kasih.” Aku berkata pelan.
“Semoga kamu menemukan kehidupan yang lebih baik di sana, Selena. Kamu tidak bisa sendirian di kebun jagung ini. Distrik ini semakin kumuh dan tidak punya masa depan.” Togra mengangguk-angguk, lantas berdiri. Sejenak, kapsul terbang miliknya yang tak kalah kusam, terkentut-kentut terbang. Meninggalkan rumah dan kebun jagung kami.
Lengang.
Aku menatap ruangan depan rumah kami. Dinding rumah yang retak, atap yang bocor. Meja tua, kursi reot. Lemari yang berbunyi setiap kali dibuka. Ada beberapa foto keluarga kami di dinding. Seekor lalat hinggap. Cicak yang mengintainya. Tidak ada benda canggih di rumahku—berbeda dengan di kota yang konon katanya kursi terbang sedang trend. Aku menghembuskan nafas perlahan.
Menatap retakan di dinding rumah. Aku hafal. Aku hafal sekali setiang senti ruangan ini, bahkan jika itu hanya bekas tetesan air hujan di lantai, gurat halus di dinding. Itulah kelebihanku.
“Kamu memiliki mata yang tajam, Selena. Jangan berkecil hati jika teman-teman mengolokmu.” Itu kata Ayah dulu, memujiku, lantas mengusap rambutku. Mencoba membesarkan semangatku setiap kali aku pulang bermain dan melapor, teman-teman yang lain barusaja mengolok-olokku.
“Itulah kelebihanmu, Selena.” Itu kata Ibu, tersenyum, “Kamu memang tidak pandai menghilang, atau teknik Klan Bulan lainnya, tapi matamu setajam elang Pegunungan Berkabut. Ingatanmu sekuat gurat air di sungai-sungai jauh.” Ibu juga mencoba menyulam sedih hatiku setiap kali teman-teman menjadikanku bulan-bulanan. Tubuhku kecil, kurus, kulit gelap, rambut keriting, lengkap sudah untuk menjadi target bully anak-anak di Distrik Sabit Enam.
Kini, orang tua ku sudah pergi. Tidak ada yang akan membesarkan hatiku.
Aku tidak terlalu suka dengan ‘mata tajam’, jika aku boleh memilih, aku ingin punya pukulan berdentum terbaik. Agar aku bisa melawan orang-orang yang menjahiliku.
Aku menghela nafas lagi, pindah menatap keluar jendela. Di sana traktor terbang tua milik Ayah teronggok, juga peralatan bertani yang lebih sering rusak daripada berfungsi. Kebun jagung kami kering. Sudah lama tidak produktif, tanahnya susah sekali di tanami. Aku menatap sticker hologram di traktor, garis-garis pudar. Aku ingat setiap senti apapun yang pernah kulihat.
Baiklah. Cukup semua pikiran yang melintas ini. Aku harus fokus. Aku harus mulai berkemas. Besok pagi-pagi aku akan berangkat ke Kota Tishri.
Aku balik kanan, segera masuk kamar, meraih tas perjalanan.
Usiaku sembilan tahun. Aku sempurna menjadi yatim piatu.
Itulah hari ketika petualanganku dimulai di dunia paralel.
Sebagai Pengintai terbaik—bakat besarku sejak kecil.

*bersambung
tere liye

Selasa, 18 Juli 2017

muslimah

sumber anonim
WANITA HENDAKNYA BETAH TINGGAL DI RUMAH ‎

Di antara yang diteladankan oleh para wanita salaf yang shalihah adalah betah berada di rumah & bersungguh-sungguh menghindari laki-laki serta tidak keluar rumah kecuali ada kebutuhan yang mendesak.

Hal ini untuk menyelamatkan masyarakat dari godaan wanita yang merupakan godaan terbesar bagi laki-laki.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS. AlAhzab: 33).‎

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki”
(HR. Tirmidzi, shahih)‎

Bahkan dalam Islam pun, shalat wanita lebih baik di rumah.

Nabishallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
“Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah diam di rumah-rumah mereka”
(HR. Ahmad)‎

Keutamaan wanita (terutama istri) yang memperhatikan ibadahnya dan menjaga kehormatan dirinya,

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka”

(HR. Ahmad dan Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan shahih)

Jika ada problematika rumah tangga, terkadang setan membujuk istri agar tidak taat kepada suami untuk pergi meninggalkan rumah dengan berbagai alasan & pembenaran. Ini dilarang oleh Quran & Hadist.

Hal ini bisa mengundang fitnah. Pada intinya seorang isteri tidak boleh meninggalkan rumah tanpa izin suaminya kecuali ada alasan yang diperbolehkan syariat.‎

Apalagi jika kepergian wanita / istri bercampur baur dengan para pria. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Janganlah salah seorang di antara kalian berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita karena sesungguhnya setan menjadi orang ketiga di antara mereka berdua” (HR. Ahmad)

Beberapa adab wanita / istri jika keluar rumah :

· Adanya izin orang tua / suami (jika sudah memiliki)
· Untuk alasan yang diperbolehkan syariat
· Tidak bersolek yang bisa mengundang syahwat kaum lelaki
· Menutup aurat dan menjaga etika Islam dalam keluar rumah
· Tidak bercampur baur dengan lelaki‎

Senin, 17 Juli 2017

pasangan

copyright Michelle jonny
Saya banyak menemui pasangan yg berpisah karena komunikasi yg gak nyambung. Well..
Sampai akhirnya saya melakukan riset pribadi ketika mendengarkan celotehan seorang gadis yg sedang BINGUNG dengan pacarnya.
"Kenapa sih dia gak ngerti2 juga?! Padahal aku udah... blablabla..."
*
Risetku ini mendalam sekali (bagiku)
Pertanyaanya gini :
1. Apakah kamu/pasanganmu sempat meminum air sulingan dari sumur bor/air tanah sejak bayi/ketika dalam kandungan lebih dari 3 tahun?
*
2. Apakah sehari2nya kamu/pasangan selalu berkontak dengan media gadget atau elektronik tegangan tinggi?
*
3. Bagaimana kondisi lingkungan penyebab stress apakah rendah, sedang, atau tinggi?
*
4. Dalam skala 1 sampai 10, sehijau apakah tempat tinggalmu/pasangan (lingkungan hidup)
*
5. Dalam skala 1 sampai 10, seberapa sering kalian melakukan aktifitas sosial bersama2?
*
5 pertanyaan ini, terkait pengalamanku sendiri.
Alih2 meratapi hati yg patah dan pecah berkeping2 karena perubahan pasangan/ keluarnya 'unsur hara' dari sifat asli pasangan, saya punya cara yg lebih baik.
- melakukan riset -
*
Riset ini penting bagi saya sendiri. Dan kalau setelah diSHARE bisa membawa manfaat bagi orang lain, lebih baik lagi.
*
Kalau jawaban 1 sampai 3 adalah YA.
Jawaban 4 dan 5 di bawah 4
Artinya kamu/pasanganmu perlu melakukan kesepakatan utk mendetoks diri.
Kalian keracunan.
*
Jodoh bisa dipelihara dan ada di tanganmu sendiri.
Kalau pasanganmu bener2 bertekad utk hidup denganmu, dia akan mengupayakan segalanya.
Mencoba apa yg kamu percaya.
Ngga bakal bilang, "ah... masa iya?" - "ah, mana mungkin..." - atau meremehkan penelitianmu.
*
Maksudnya bukan mengikuti semua kemauanmu loh ya..,
Tapi lebih kepada mementingkan apa yg baik bagi hubungan dan dia menyadari itu semua pentiny utk dirinya sendiri.
*
Mereka akan dengan rendah hati menyadari, "eh..  ada benarnya.. bole juga dicoba.."
Karena mereka ingin mengupayakan sesuatu utk melanggengkan hubungan bersamamu.
Susah?
Ya pastinya susah sekali !
*
Kadang argumentasi bikin kita menangis.
Tapi akan berhenti ketika terjadi kesepakatan utk mencoba lagi (bukan hanya 1 sisi)
Kadang perasaan itu hilang dan tawar dengan sendirinya
Tapi akan muncul kembali saat dua mata saling bertemu lagi (bukan hanya 1 mata yg melihat)
Kadang ada SILENT TREATMENT yg bikin frustasi
Tapi setelah itu kehadiran satu sama lain akan menjadi semakin penting
*
Yg penting dalam hubungan adalah; 2 pihak yg mau berubah menjadi lebih baik
Pasangan yg mau berubah demi kehidupan langgeng bersama kita, patut dipertahankan
Di tengah kerumunan ego, kalau ada yg terus menggenggam tanganmu dengan gagah, berarti kamu sudah menemukan permata yg muncul 10ribu tahun sekali
*
Tapi sebaliknya, kalau apapun yg kamu lakukan, anjurkan, selalu SALAH dan dia seenaknya, lebih baik detoks dirimu sendiri sebelum hubungan beracun itu membuatmu nalarmu mati.
*
But, it takes time!
Ga secepat kilat semuanya berubah.
Mungkin mereka memberikan reaksi acuh tak acuh
Disitulah keikhlasan kita diuji
*
Saya pernah bertanya pada KoJonny, "Pernahkah kamu mencintai seseorang begitu dalam sampai apapun sanggup kamu berikan demi kebahagiaannya tanpa penyesalan?"
Jawabnya, "errrmmm tidak pernah."
*
Saya sama sekali tidak tersinggung.
Saya menyukai kejujuran dan semua jawabannya adalah perjalanan riset saya.
Malah saya jawab, "ow... itu indah sekali rasanya.. kayak kita menemukan madu saat berhari2 kelaparan."
Saya melanjutkan, "that's why i called you HONEY."
Di luar dugaan, KoJonny mengamit tangan saya dan menciumnya dengan tatapan dingin tetap nyetir fokus ke jalan, "HONEY," katanya datar sambil tetap meremas tangan saya yg masih terasa getaran semriwing.
*
See?
Banyak orang (ga peduli gendernya) yg ga mampu mengungkap atau menceritakan apa yg mereka rasakan. Tapi, saya ga begitu mempermasalahkan omongannya karena kata2 indah itu bisa diDESIGN.
Hanya orang yg bener2 tulus yg mau menempa dirinya bersama kita.
Tutup telinga, buka mata.
Jangan menjadi buta karena mendustai pengorbanan yg telah mereka lakukan.
*
Musuh terbesar adalah ego sendiri.
Kita yg saling merendahkan ego demi kebaikan hubungan, pantas bertahan.

KH. ABDUL HAMID PASURUAN

sumber anonim

Suatu ketika ada seseorang meminta nomer togel ke Kyai Hamid. Oleh Kyai Hamid diberi dengan syarat jika dapat togel maka uangnya harus dibawa kehadapan Kyai Hamid. Maka orang tersebut benar-benar memasang nomer pemberian Kyai Hamid dan menang. Saran ditaati uang dibawa kehadapan Kyai Hamid. Oleh kyai uang tersebut dimasukan ke dalam bejana dan disuruh melihat apa isinya. Terlihat isinya darah dan belatung. Kyai Hamid berkata “tegakah saudara memberi makan anak istri saudara dengan darah dan belatung?” Orang tersebut menangis dan bertobat.

Setiap pergi ke manapun Kyai Hamid selalu didatangi oleh umat, yang berduyun duyun meminta doa padanya. Bahkan ketika naik haji ke mekkah pun banyak orang tak dikenal dari berbagai bangsa yang datang dan berebut mencium tangannya. darimana orang tau tentang derajat Kyai Hamid? Mengapa orang selalu datang memuliakannya? Konon inilah keistimewaan beliau, beliau derajatnya ditinggikan oleh Allah SWT.

Pada suatu saat orde baru ingin mengajak Kyai Hamid masuk partai pemerintah. Kyai Hamid menyambut ajakan itu dengan ramah dan menjamu tamunya dari kalangan birokrat. Ketika surat persetujuan masuk partai pemerintah itu disodorkan bersama pulpennya, Kyai Hamid menerimanya dan menandatanganinya. Anehnya pulpen tak bisa keluar tinta, diganti polpen lain tetap tak mau keluar tinta. Akhirnya Kyai Hamid berkata: “Bukan saya yang gak mau tanda tangan, tapi bolpointnya gak mau”. Itulah Kyai Hamid dia menolak dengan cara yang halus dan tetap menghormati siapa saja yang bertamu kerumahnya.

Inilah beberapa dari banyak karomah Kyai Hamid. Kyai Hamid adalah realita nyata tentang munculnya seorang hamba Allah yang mempunyai kekuatan ma’rifat billah yang mumpuni dan kekuatan musyahadah atas nur tajalli dengan maqam wilayah yang amat tinggi. Dan kekuatan tersebut tentu tidak mungkin beliau dapatkan dengan serta merta tanpa melalui tahapan-tahapan amaliyah dan maqamat tarekat yang beliau jalani dan beliau istiqamahkan. Setidaknya -dari sirah Kyai Hamid yang dapat kita baca-, kualitas amaliyah dan maqamat itulah yang selalu beliau pancarkan dalam setiap gerak langkah beliau. Kewara’an, kezuhudan, ketawadlu’an, kesabaran, keistiqamahan, dan riyadlah.

Dan yang jelas, kekuatan ma’rifat dan wilayah tersebut hingga saat ini telah menjadi hamparan hikmah yang maha luas dan menebarkan harum pada sanubari tiap orang yang mengenalnya. Hingga siapapun tak akan pernah kehabisan untuk mengais suri tauladan atas keagungan akhlaknya dan menempa keberkahan yang telah beliau sebarkan dalam setiap relung hati dan palung hidup kita.

Sebelum menjadi kyai, semasa beliau mondok di Termas, Abdul Hamid (nama asli Kyai Hamid) banyak melakukan suluk tarekat secara sirri. Seperti sering pergi ke gunung dekat pondok Termas untuk melakukan khalwat dan dzikir. Tapi kalau ada orang datang, ia pura-pura mantheg (mengetapel) agar orang tidak tahu bahwa dia sedang berkhalwat. Amalan wirid juga sering beliau baca disela-sela aktifitasnya sebagai seorang santri. Bahkan, ketika sering diajak begadang untuk mencari jangkrik, Kyai Hamid segera membaca wirid ketika teman-temannya tidak melihatnya.

Lambat laun, aktifitas suluk Kyai Hamid dengan dzikir sirri (qalbi) dan membaca awrad semakin intens dilakukan di kamar Pondok. Bahkan diceritakan, semakin hari, Kyai Hamid semakin jarang keluar dari kamar untuk melakukan dzikir dan wirid tarekat tersebut. Sampai-sampai, kawan-kawannya menggodanya dengan mengunci pintu kamar dari luar.

Beliau bersikap hormat pada siapapun. Dari yang miskin sampai yang kaya, dari yang jelata sampai yang berpangkat, semua dilayaninya, semua dihargainya. Misalnya, bila sedang menghadapi banyak tamu, beliau memberikan perhatian pada mereka semua. Mereka ditanyai satu per satu sehingga tak ada yang merasa disepelekan. “Yang paling berkesan dari Kiai Hamid adalah akhlaknya: penghargaannya pada orang, pada ilmu, pada orang alim, pada ulama. Juga tindak tanduknya,” kata Mantan Menteri Agama, Prof. Dr. Mukti Ali, yang pernah menjadi junior sekaligus anak didiknya di Pesantren Tremas.

Beliau sangat menghormat pada ulama dan habaib. Di depan mereka, sikap beliau layaknya sikap seorang santri kepada kiainya. Bila mereka bertandang ke rumahnya, beliau sibuk melayani. Misalnya, ketika Sayid Muhammad ibn Alwi Al-Maliki, seorang ulama kondang Mekah (yang baru saja wafat), bertamu, beliau sendiri yang mengambilkan suguhan, lalu mengajaknya bercakap sambil memijatinya. Padahal tamunya itu lebih muda usia.

Sikap tawadhu’ itulah, antara lain, rahasia “keberhasilan” beliau. Karena sikap ini beliau bisa diterima oleh berbagai kalangan, dari orang biasa sampai tokoh. Para kiai tidak merasa tersaingi, bahkan menaruh hormat ketika melihat sikap tawadhu’ beliau yang tulus, yang tidak dibuat-buat. Derajat beliau pun meningkat, baik di mata Allah maupun di mata manusia. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW., “Barangsiapa bersikap tawadhu’, Allah akan mengangkatnya.”

Beliau sangat penyabar, sementara pembawaan beliau halus sekali. Sebenarnya, di balik kehalusan itu tersimpan sikap keras dan temperamental. Hanya berkat riyadhah (latihan) yang panjang, beliau berhasil meredam sifat cepat marah itu dan menggantinya dengan sifat sabar luar biasa. Riyadhah telah memberi beliau kekuatan nan hebat untuk mengendalikan amarah.

Beliau, misalnya, dapat menahan amarah ketika disorongkan oleh seorang santri hingga hampir terjatuh. Padahal, santri itu telah melanggar aturan pondok, yaitu tidak tidur hingga lewat pukul 9 malam. Waktu itu hari sudah larut malam. Beliau disorongkan karena dikira seorang santri. “Sudah malam, ayo tidur, jangan sampai ketinggalan salat subuh berjamaah,” kata beliau dengan suara halus sekali.

Beliau juga tidak marah mendapati buah-buahan di kebun beliau habis dicuri para santri dan ayam-ayam ternak beliau ludes dipotong mereka. “Pokoknya, barang-barang di sini kalau ada yang mengambil (makan), berarti bukan rezeki kita,” kata beliau.
Pada saat-saat awal beliau memimpin Pondok Salafiyah, seorang tetangga sering melempari rumah beliau. Ketika tetangga itu punya hajat, beliau menyuruh seorang santri membawa beras dan daging ke rumah orang tersebut. Tentu saja orang itu kaget, dan sejak itu kapok, tidak mau mengulangi perbuatan usilnya tadi. Beliau juga tidak marah ketika seorang yang hasud mencuri daun pintu yang sudah dipasang pada bangunan baru di pondok.
Melalui riyadhah dan mujahadah (memerangi hawa nafsu) yang panjang, beliau telah berhasil membersihkan hati beliau dari berbagai penyakit. Tidak hanya penyakit takabur dan amarah, tapi juga penyakit lainnya. Beliau sudah berhasil menghalau rasa iri dan dengki. Beliau sering mengarahkan orang untuk bertanya kepada kiai lain mengenai masalah tertentu. “Sampeyan tanya saja kepada Kiai Ghofur, beliau ahlinya,” kata beliau kepada seorang yang bertanya masalah fiqih. Beliau pernah marah kepada rombongan tamu yang telah jauh-jauh datang ke tempat beliau, dan mengabaikan kiai di kampung mereka. Beliau tak segan “memberikan” sejumlah santrinya kepada KH. Abdur Rahman, yang tinggal di sebelah rumahnya, dan kepada Ustaz Sholeh, keponakannya yang mengasuh Pondok Pesantren Hidayatus Salafiyah.

Menghilangkan rasa takabur memang sangat sulit. Terutama bagi orang yang memiliki kelebihan ilmu dan pengaruh. Ada yang tak kalah sulitnya untuk dihapus, yaitu kebiasaan menggunjing orang lain. Bahkan para kiai yang memiliki derajat tinggi pun umumnya tak lepas dari penyakit ini. Apakah menggunjing kiai saingannya atau orang lain. Kiai Hamid, menurut pengakuan banyak pihak, tak pernah melakukan hal ini. Kalau ada orang yang hendak bergunjing di depan beliau, beliau menyingkir. Sampai KH. Ali Ma’shum berkata, “Wali itu ya Kiai Hamid itulah. Beliau tidak mau menggunjing (ngrasani) orang lain.”

Kiai Hamid, seperti para wali lainnya, adalah tiang penyangga masyarakatnya. Tidak hanya di Pasuruan tapi juga di tempat-tempat lain. Beliau adalah sokoguru moralitas masyarakatnya. Beliau adalah cermin (untuk melihat borok-borok diri), beliau adalah teladan, beliau adalah panutan. Beliau dipuja, di mana-mana dirubung orang, ke mana-mana dikejar orang (walaupun beliau sendiri tidak suka, bahkan marah kalau ada yang mengkultuskan beliau).

Tanggal 9 rabiul awal 1403 H beliau berpulang ke rahmatulloh. Umat menangis, gerak kehidupan di Pasuruan seakan terhenti. Ratusan ribu orang membanjiri Pasuruan, memenuhi relung Masjid Agung Al Anwar dan alun alun serta memadati gang dan ruas jalan. Beliau dimakamkan di belakang masjid agung Pasuruan. Ribuan umat menziarahinya setiap waktu mengenang jasa dan cinta beliau kepada umat.

Seperti kebanyakan para kiai, Kiai Hamid banyak memberi ijazah wirid kepada siapa saja. Biasanya ijazah diberikan secaara langsung tapi juga pernah memberi ijazah melalui orang lain.

Diantara ijazah beliau adalah:
1. Membaca SURAT AL-FATIHAH 100 kali tiap hari. Menurutnya, orang yang membaca ini bakal mendapatkan keajaiban-keajaiban yang tak terduga. Bacaan ini bisa dicicil setelah sholat Shubuh 30 kali, selepas shalat Dhuhur 25 kali, setelah Ashar 20 kali, setelah Maghrib 15 kali dan setelah Isya’ 10 kali.
2. Membaca HASBUNALLAH WA NI’MAL WAKIL sebanyak 450 kali sehari semalam.
3. Membaca sholawat 1000 kali. Tetapi yang sering diamalkan Kiai Hamid adalah shalawat Nariyah dan Munjiyat.
4. Membaca kitab DALA’ILUL KHAIRAT. Kitab yang berisi kumpulan shalawat.
5. Wirid rutin AL-WIRD AL-LATHIF dan RATIB AL-HADDAD. Dua wirid yang diajarkan oleh Kyai Hamid dan diwariskan hingga sekarang kepada para santri dan keluarganya.
Terakhir, berikut Syiir doa beliau yang pernah dimuat di KWA
بسم الله الرّحمن الرّحيم
يَا رَبَّنا اعْتَرَفْنا * بِأَنَّنَا اقْتَرَفْنَا
Wahai Tuhan kami! kami mengakui telah berbuat dosa
وَاَنَّنَا اَسْرَفْنَا * عَلَى لَظَى اَشْرَفْنَا
Sungguh kami telah melampaui batas dan kami hampir masuk neraka ladho
فَتُبْ عَلَيْنَا تَوْبَةْ * تَغْسِلْ لِكُلِّ حَوْبَةْ
Maka berilah kami taubat, sucikanlah kami dari segala dosa
وَاسْتُرْ لَنَا الْعَوْرَاتِ * وَاَمِنِ الرَّوْعَاتِ
Tutuplah segala keburukan kami, amankanlah dari segala ketakutan
وَاغْفِرْ لِوَالِدِيْنَا * رَبِّ وَمَوْلُوْدِيْنَا
Wahai Tuhan ampunilah orang tua kami dan anak-anak kami
وَالْاَلِ وَالْاِخْوَانِ * وَسَائِرِالْخِلَّانِ
Ampunilah keluarga, teman-teman dan semua saudara
وَكُلِّ ذِيْ مَحَبَّةَ * أَوْ جِيْرَةٍ أَوْ صُحْبَحْ
Ampunilah kekasih, tetangga dan semua sahabat
وَالْمُسْلِمِيْنَ اَجْمَعْ * اَمِيْنَ رَبِّ اِسْمَعْ
serta semua muslim, Wahai Tuhan semoga Kau dengar kau kabulkan
فَضْلًا وَجُوْدًا مَّنَّا * لَا بِاكْتِسَابٍ مِنَّا
Dengan anugrah, kemurahan, dan kemuliaanMu, bukanlah sebab usaha kami
بِاالْمُصْطَفَى الرَّسُوْلِ * نَحْظَى بِكُلِّ سُوْلِ
Dengan wasilah Rasul Terpilih, kami peroleh segala permintaan
صَلَّى وَسَلَّمْ رَبِّ * عَلَيْهِ عَدَّ الْحَبِّ
Semoga Allah memberi rahmat dan keselamatan kepada Rasul sebanyak bijian (sebanyak-banyaknya).
وَاَلِهِ وَالصَّحْبِ * عَدَدَ طَشِّ السُّحْبِ
Kepada dan keluarganya sebanyak rintikan hujan yang turun
وَالْحَمْدُ لِلْاِلَهِ * فِيْ الْبَدْءِ وَالتَّنَاهِى
Segala puji bagi Allah dari permulaan dan penghabisan

Sabtu, 15 Juli 2017

vaksin

copyright Michelle Jonny

Terkait dengan postingan seorang ibu yg memiliki anak bernama MIA. Anak ini mengalami kejang setelah divaksin HPV (konon utk melindungi diri dari resiko kanker serviks)
Memang ini terjadi di Amerika.

Namun, sebagai salah satu pelaku medis di tanah Nusantara ini, bertemu (pertama) anak2 yg lahir sehat lalu jadi autis/ jadi berkebutuhan khusus setelah divaksin, banyak kutemui.
Sebaliknya, (kedua) anak yg lahir dg riwayat kesehatan ortu yg amburadul dan tidak divaksin, lalu jadi sakit, banyak juga!
Kasus2 lain seperti kebanyakan vaksin, lalu sakit dll, juga banyak.

Ketahuilah apa itu vaksin?
Masihkah dapat dicegah dengan kesadaran menjalani hidup yg bijaksana?
Sebagai contoh :
Ada orang menganut sex bebas, merokok, makannya amburadul, olahraga cuma di atas ranjang, tukang bergadang, pernah melakukan aborsi, lalu demi MENCEGAH DIRI terkena kanker serviks, ia melakukan injeksi vaksin HPV? Yang ada bukannya jadi kebal, malah virus di dalam tubuhnya (yg mungkin belum terdeteksi) makin berkembang.

Mengapa?
Karena vaksin, adalah virus yg dilemahkan, lalu disuntik ke dalam tubuh kita (seperti simulai pake penjahat boongan/penjahat asli tapi dilemahkan)
Dg harapan, imunitas kita bisa mengalahkan dan di kemudian hari bila terjadi (muncul penjahat asli) imun sudah memiliki informasi utk menaklukannya (lagi)

Ada orang yg ga divaksin sehat? Ada
Ada orang yg setelah divaksin sakit? Ada
Ada orang yg ga divaksin salit? Ada
Ada orang yg setelah divaksin jarang sakit? Ada

Ada ada aja..
Tapi sebagai praktisi kesehatan, kita harus melihat JUMLAH sebenarnya, mana yg paling berpengaruh?
Dan disitu akan kita temukan cara terbaik menghindari penyakit 😊😊😊😊😊😊

Yup!
Semua tergantung di imunitas dan CARA HIDUP kita.
Bahkan pada bayi baru lahir sekalipun, kemungkinan besar ia sudah 'membawa' penyakit warisan dari ortunya. Karena itu dalam perencanaan kehamilan sampai melahirkan dan menyusui, KEDUA ORTU mesti NIAT PUNYA ANAK. Jangan abis melendung, hepi, trus makannya sembarangan.

Ini hanya sekedar mencoba meluruskan hal ini dari sudut pandangku ya (copas dari comment)
Aku belum tentu benar, jadi, utk lebih bijak, mari kita cari referensi dari berbagai sumber yang 'tak berkepentingan' dan netral

Sejak ditemukan teknologi vaksin, benar, manusia selamat dari serangan virus dan penyakit mematikan yg seperti polio, campak, hepatitis B, dan TBC yg sesuai laporan sejarah sudah hampir memusnahkan umat manusia

Bahkan pernah terjadi 'black death' atau maut hitam/Wabah Hitam  yang pertama kali melanda Eropa pada pertengahan hingga akhir abad ke-14 (1347 – 1351) dan membunuh sepertiga hingga dua pertiga populasi Eropa

Bahkan saat itu, jumlah manusia meninggal lebih banyak dari yang hidup.
Oleh karena itu, kita HARUS BERSYUKUR sebagai warga modern, sudah banyak sejarah dan informasi yg bisa dipelajari.

Aku sih bukan ANTI VAKSIN
TAPI aku anjurkan untuk bijak dalam melakukan tindakan vaksin
(pelajari penjelasannya; mengapa saya harus melakukan vaksin ini
Apakah ada riwayat turunan?
Bagaimana penyakit2 itu bisa dicegah tanpa harus bervaksin?
Berapa persen tingkat kegagalan akibat vaksinasi?
Bagaimana perkembangan kesehatan setelah atau sebelum bervaksin?
Dimanakah dalam pola hidup kita yg mendukung terjadi penyakit tersebut?
Adakah kemungkinan menular dari lingkungan?
Dll)

Merek vaksin, di seluruh dunia, konon sama saja, cuma kemasannya yg berbeda.
Seperti bisnis garam
Konon di dunia vaksisnasi, ada 'pihak' yg memonopoli supplai dan distribusi vaksin

Kembali ke kasus anak ini,
Anak2 di Amerika, menerima kurang lebih 36 jenis injeksi vaksin.
10 di antaranya, diberikan sebelum masuk sekolah.

Di negara kita, vaksinasi masih sangat bijaksana karena cuma disosialisasikan
5 jenis imunisasi dasar :
BCG, DPT, campak, hepatitis B, polio

Vaksin pada bayi, beda dengan vaksin pada orang dewasa
Karena bayi masih memiliki 'stok imun' yg cukup utk melumpuhkan virus tsbt.
Maka kerja vaksin akan sangat efektif, dan (biasanya) akan tercipta kekebalan thdp virus seperti yg diharapkan

Kelalaian vaksinasi, selama ini terus di zoom pd 'vaksin palsu'
Padahal, kita perlu juga mencermati pola hidup dan penyakit turunan kedua orangtuanya.
Apakah vaksin tersebut benar dapat dilumpuhkan, ATAU justru semakin 'berkembang' di dalam tubuh karena sudah ada 'bibitnya' ???

Saat kita divaksin, sistem kekebalan otak (mikroglia) akan aktif dan mengutus imun utk melumpuhkan si virus.
Tapi, kalau 'kebanyakan' atau seperti yg aku paparkan di atas (sudah ada bibit penyakitnya di dalam) maka otak akan mengalami overheat, konslet, atau kelelahan
Akibat dari luar yg bisa kita lihat ;
Kejang, nangis dengan suara melengking, depresi, autisme, lemah dan rentan tertular penyakit lain

Konsletnya mikroglia juga dapat menyebabkan si anak menjadi sosok yg 'aneh' dan degenerasi saraf tingkat lanjut.

Harapan saya sih ga muluk2
Semoga semua orang bisa lebih bijaksana menjalani hidup dan ga melempar semua kebutuhan biar sehat ke tenaga medis

Kita lah yg harus menjaga kesehatan keluarga dan diri kita sendiri.
Jangan salah makan, sakit, ke dokter "saya kenapa ya dok"
Padahal harusnya TAHU, kenapa bisa sampai sakit?
Tiba2 terkena penyakit berat spt kanker..
Memohon dokter menyembuhkan segalanya dan memulai dari awal, seperti sesuatu yg mustahil.
Kanker tidak terjadi begitu saja..
Semua adalah kelalaian manusia dalam menjalani hidup

Begitu pula pada kanker serviks spt di video ini..
Si anak sebelumnya sudah mengalami 'radang otak' (mungkin juga karena terlalu banyak vaksin)
Ketika tampak sudah mereda gejalanya, ia kembali menerima suntikan HPV dan terjadilah komplikasi di dalam tubuhnya yg mengharuskan dia terkapar tak berdaya.

Kita, tidak boleh saling bertikai dan adu pendapat yg sifatnya subjektif.
Segala pemaparan kesehatan, seharusnya adalah objektif
Putih ya putih
Hitam ya hitam
Tidak boleh dicampur hitam jadi putih hanya karena kita merasa 'itu benar' sedangkan faktanya, ini sudah terjadi, merugikan pula.

Mari hidup dengan bijak
Mari jadi orang baik

Kamis, 13 Juli 2017

sholihah

Prinsip seperti ini sebenarnya sangat sederhana dan mudah di ungkapkan, namun jika yang menyandang status sholihah adalah wanita yang berwajah "kurang cantik" seringkali para lelaki memilih untuk mencari yang lain. Seringkali bukan berarti semua. Kebanyakan memang lebih memilih yang cantik parasnya, yang langsung dapat dinikmati oleh mata, karena memang bisa dinikmati lebih instan. Sedangkan "ke shoihahan" memerlukan proses untuk menikmatinya, perlu pergaulan sehari hari sehingga bisa merasakan betapa senangnya bergaul dengan seorang yang sholihah. Namun nafsu manusia memang cendering kepada perkara yang bisa dinikmati langsung dan cepat.

Saya hanya menyebutkan pendekatan, namun jika kita lihat lebih jauh, hal seperti ini juga kita jumpai pada orang yang melihat kebutuhan duniawi dan ukhrowi. Mereka kebanyakan lebih cenderung untuk mempersiapkan kebutuhan duniawi dengan antusias, sementar kebutuhan akhirat hanya dipenuhi dengan unsur kemalasan. Tidak lain karena hasil dari unsur duniawi tampak instan, dan bisa dinikmati lebih cepat, sedangkan panen dari amal untuk akhirat baru bisa dinikmati kelak seusai mati. Namun mereka sering lupa, bahwa yang kekal itu lebih berharga, bahwa yang abadi itu lebih bernilai. Mereka lebih suka yang cepat dan langsung dinikmati dari pada yang kekal dan abadi.

Orang yang cerdas adalah orang yang banyak berbekal untuk masa setelah kematiannya. Yaitu mereka-mereka yang lebih mengutamakan akhirat daripada dunia nya. Bukan berarti tidak bekerja dan mencari nafkah, justru mereka bekerja dan berusaha untuk bertahan hidup demi kelangsungan mencari bekal di akhirat nati. Seperti yang di sampaikan dalam al quran yang bermakna "jangan lupa bagian mu di dunia  (untuk mempersiapkan bekal di akhirat nanti).
sumber Yusuf rosyadi